Pasar Modal

IHSG Akhir Juni Peluang Konsolidasi, Rekomendasi Saham SMGR, BMRI, dan INDF

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkonsolidasi pada perdagangan Rabu, 30 Juni 2021. Gelombang tekanan masih akan menemani gerak indeks komposit pada akhir bulan Juni, sekaligus menutup perdagangan semester pertama tahun ini.

<p>Karyawan melintas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 21 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawan melintas di depan layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin, 21 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkonsolidasi pada perdagangan Rabu, 30 Juni 2021. Gelombang tekanan masih akan menemani gerak indeks komposit pada akhir bulan Juni, sekaligus menutup perdagangan semester pertama tahun ini.

CEO PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan bahwa IHSG akan kembali menguji support level. Secara teknikal, indeks akan bergerak pada tentang 5.913 hingga 6.123.

Menurut William, minimnya sentimen yang diakibatkan oleh lambatnya roda perputaran perekonomian akan turut membayangi pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang.

“Potensi penurunan IHSG masih lebih besar dibanding peluang naiknya, sehingga hari ini IHSG masih berpotensi terkonsolidasi,” ujarnya melalui riset harian, Rabu, 30 Juni 2021.

Kendati begitu, William tak lupa merekomendasikan sejumlah saham yang menurutnya dapat menjadi pertimbangan para investor. Antara lain ASII, SMGR, BMRI, INDF, TLKM, GGRM, HMSP, dan AKRA.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,16% menuju level 5.949,05 pada akhir perdagangan Selasa, 29 Juni 2022. Dalam sehari, 178 saham menguat, 333 saham terkoreksi, dan sisanya sebanyak 137 saham ditutup pada posisi stagnan.

Pada saat itu, saham PT Ulima Nitra Tbk (UNIQ) merupakan saham yang paling diburu oleh investor alias menduduki posisi top gainers. Harga saham emiten yang bergerak dalam bisnis pertambangan ini meroket hingga 34,94% ke level harga Rp112 per lembar. (SKO)