Pasar Modal

Di Luar Ekspektasi, Nilai Kurs Rupiah Ditutup Menguat 24 poin di Level Rp15.464 per Dolar AS

  • Sebelumnya, beberapa analis keuangan, termasuk Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, memprediksi nilai kurs rupiah akan melemah hari ini karena kuatnya pengaruh dari ekspetasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
<p>Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar di kantor cabang Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar di kantor cabang Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA - Nilai kurs rupiah ditutup menguat 24 poin di level Rp15.464 perdolar Amerika Serikat (AS) menurut data perdagangan Bloomberg, Selasa, 18 Oktober 2022.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin, 17 Oktober 2022, nilai kurs rupiah ditutup di posisi Rp15.487 perdolar AS.

Sebelumnya, beberapa analis keuangan, termasuk Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, memprediksi nilai kurs rupiah akan melemah hari ini karena kuatnya pengaruh dari ekspetasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Namun, rupanya suntikan positif dari surplusnya neraca perdagangan Indonesia pada September 2022 telah mendorong penguatan nilai kurs rupiah hari ini.

"Pelaku pasar merespon positif setelah rilis data neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada September 2022 dan telah berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," ujar Ibrahim dikutip dari riset harian, Selasa, 18 oktober 2022.

Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 17 Oktober 2022, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$4,99 miliar (Rp77,28 triliun).

Selain didorong oleh surplus pada neraca perdagangan Indonesia, utang luar negeri (ULN) per Agustus 2022 yang kembali menurun pun menjadi faktor positif yang menguatkan nilai rupiah.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan ULN Indonesia per Agustus 2022 turun dari US$400,2 miliar (Rp6,19 kuadriliun) pada bulan Juli menjadi US$397,4 miliar (Rp6,15 triliun).

"Penurunan ULN pemerintah terjadi akibat adanya penurunan pinjaman seiring dengan pelunasan pinjaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan penarikan pinjaman dalam mendukung pembiayaan program dan proyek prioritas," tutur Ibrahim.

Menurut Ibrahim, untuk perdagangan Rabu, 19 Oktober 2022, nilai kurs rupiah berpotensi untuk bergerak di kisaran Rp15.440 - Rp15.490 perdolar AS.