Tren Pasar

TPIA Jadi Incaran Asing, Simak Katalis, Prospek, dan Tantangannya

  • Investor asing memborong saham TPIA saat IHSG bangkit ke 6.000. Simak prospek, katalis, kinerja keuangan, risiko, dan rekomendasi analis.
1641227797648.webp
TPIA (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2022/01/1641227797648.jpeg)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Di tengah masih derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, terdapat satu fenomena menarik pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru menjadi saham yang paling banyak dikoleksi investor asing.

Fenomena tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,92% ke level 6.037,84, namun secara keseluruhan investor asing masih mencatatkan net sell Rp437,66 miliar di seluruh pasar.

Artinya, meski dana asing masih meninggalkan Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat aksi beli yang sangat selektif terhadap sejumlah emiten tertentu. TPIA menjadi salah satu penerima arus dana tersebut, memunculkan pertanyaan di kalangan investor: apakah ini sinyal awal kebangkitan saham TPIA atau sekadar rebound jangka pendek?

TPIA Jadi Saham Paling Banyak Diborong Asing

Data perdagangan menunjukkan TPIA menjadi emiten dengan net foreign buy terbesar sepanjang perdagangan Senin (13/7/2026).

Berikut daftar saham yang paling banyak dibeli investor asing:

  • TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk): Net foreign buy sebesar Rp89,69 miliar.
  • BRPT (PT Barito Pacific Tbk): Net foreign buy sebesar Rp82,71 miliar.
  • BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk): Net foreign buy sebesar Rp65,80 miliar

Jika dilihat dari aktivitas transaksi, investor asing membeli 84,77 juta saham TPIA dan menjual 36,33 juta saham, sehingga menghasilkan net buy sebanyak 48,43 juta saham.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat asing terhadap TPIA tetap tinggi meskipun secara agregat mereka masih menarik dana dari pasar saham Indonesia.

Aksi beli selektif seperti ini umumnya mencerminkan adanya keyakinan terhadap prospek fundamental perusahaan dibanding kondisi pasar secara keseluruhan.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: MEDC dan DEWA Naik, AMMN Turun

Harga Saham TPIA Masih Jauh dari Puncak

Walaupun menjadi incaran investor asing, harga saham TPIA sebenarnya masih berada jauh di bawah rekor tertingginya.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya, saham TPIA berada di level Rp1.805. Saat sesi siang perdagangan Senin, 13 Juli 2026, saham tersebut bergerak di kisaran Rp1.810.

Pada penutupan perdagangan 13 Juli 2026 TPIA berada di kisaran 1890. Kemudian pada perdagangan sesi I 14 juli 2026, TPIA melesat  ke posisi 1985 pukul 10.00 walaupun sempat turun lagi.

Sebagai perbandingan, TPIA pernah mencatatkan all time high (ATH) Rp10.500 pada Juli 2025. Artinya, dalam waktu sekitar satu tahun, harga saham ini telah terkoreksi sekitar 81,9% dari puncaknya.

Penurunan yang sangat dalam tersebut membuat banyak investor mulai mempertanyakan apakah valuasi TPIA sudah murah atau justru masih menyimpan risiko penurunan lebih lanjut.

Yang menarik, penurunan harga tersebut justru terjadi ketika fundamental perusahaan mengalami peningkatan signifikan. Dengan kata lain, pergerakan harga saham dan kinerja keuangan TPIA saat ini bergerak ke arah yang berbeda.

Memasuki perdagangan Selasa, 14 Juli 2026 hingga sekitar pukul 11.00 WIB, TPIA kembali menjadi salah satu saham dengan aktivitas perdagangan tertinggi.

Volume transaksi telah mencapai 359.073.800 saham, menunjukkan minat pelaku pasar terhadap saham ini masih sangat tinggi. Dari sisi analisis teknikal, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi Speculative Buy dengan rincian,

  • Area beli: Rp1.870–Rp1.890
  • Target jangka pendek: Rp1.920–Rp1.975
  • Stop loss: di bawah Rp1.870

Sentimen positif perdagangan hari itu juga didukung keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan outlook stabil, sehingga meningkatkan optimisme terhadap saham-saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, BRPT, maupun BUMI.

Baca juga : IHSG Dibuka Turun 0,37 Persen, Cek Nasib PRDL dan RANS

Transformasi Besar TPIA

Perubahan paling besar yang terjadi di TPIA beberapa tahun terakhir adalah transformasi model bisnis. Jika sebelumnya perusahaan dikenal sebagai produsen petrokimia, kini TPIA mengembangkan model integrated energy, chemical, and infrastructure company.

Transformasi tersebut diperkuat melalui dua aksi korporasi strategis.

1. Akuisisi Kilang Aster

Pada April 2025, TPIA mengakuisisi Aster, yang sebelumnya merupakan Shell Energy & Chemicals Park. Akuisisi ini memperluas bisnis perusahaan ke sektor energi dan pengolahan.

2. Akuisisi Jaringan SPBU Esso

Kemudian pada Januari 2026, perusahaan juga mengakuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura dari ExxonMobil.

Langkah ini memperkuat bisnis hilir sekaligus memberikan sumber pendapatan berulang (recurring income) yang lebih stabil dibanding bisnis petrokimia murni. Melalui dua akuisisi tersebut, TPIA kini memiliki tiga pilar utama bisnis, yaitu,

  • energi,
  • kimia,
  • infrastruktur.

Kinerja Keuangan Kuartal I-2026 Melo

Transformasi bisnis TPIA mulai tercermin pada kinerja keuangannya. Sepanjang kuartal I-2026, perseroan membukukan pertumbuhan signifikan di berbagai indikator keuangan, di antaranya,

  • Pendapatan: US$2,40 miliar, meningkat 286,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
  • EBITDA: US$421 juta, melonjak 1.813,6% YoY.
  • Laba bersih: US$205 juta, tumbuh 954,2% YoY.
  • Total aset: US$12,5 miliar, naik 2% YoY.

Segmen energi kini menyumbang sekitar 60% dari total pendapatan perusahaan. Kinerja tersebut menandai keberhasilan TPIA membalikkan keadaan setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya masih mencatat rugi bersih US$23,58 juta.

Meski fundamental membaik, pandangan analis terhadap saham TPIA ternyata masih sangat beragam.

Sucor Sekuritas: Upside Masih Sangat Besar

Sucor Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp6.200. Apabila dibandingkan dengan harga saat ini, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 243%. Sucor juga memproyeksikan,

  • pendapatan 2026 mencapai US$10,87 miliar,
  • meningkat menjadi US$12,48 miliar pada 2028,
  • laba bersih diperkirakan mencapai US$640 juta pada 2026,
  • dan menembus US$1 miliar pada 2028.

Optimisme tersebut didasarkan pada beberapa faktor, antara lain pendapatan berbasis dolar AS yang memberikan perlindungan terhadap pelemahan rupiah, serta kemampuan perusahaan memperoleh pendanaan internasional dengan biaya lebih rendah.

JP Morgan: Valuasi Masih Terlalu Mahal

Sebaliknya, JP Morgan masih mempertahankan rekomendasi Underweight dengan target harga Rp1.090. Menurut JP Morgan, valuasi saham TPIA masih relatif mahal karena diperdagangkan pada kisaran lebih dari 10 kali Price to Book Value (P/B).

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding perusahaan petrokimia regional Asia yang rata-rata diperdagangkan di bawah 1 kali P/B. Selain itu, JP Morgan memperkirakan margin industri petrokimia masih akan tertekan akibat,

  • kelebihan pasokan global (oversupply),
  • perlambatan ekonomi Tiongkok,
  • lemahnya permintaan dunia.

Konsensus Pasar

Secara konsensus, rata-rata target harga analis berada di sekitar Rp1.750 dalam 12 bulan ke depan. Beberapa proyeksi juga memperkirakan pendapatan dan laba TPIA masih berpotensi mengalami penurunan rata-rata 1,4% dan 78,2% per tahun, sehingga menunjukkan bahwa ketidakpastian masih cukup tinggi.

Baca juga : Pohon Bisnis Haji Isam: Batu Bara, Sawit, hingga Industri Kreatif

Katalis Positif Jangka Panjang

Di balik berbagai tantangan tersebut, TPIA juga memiliki sejumlah katalis yang dinilai dapat menopang pertumbuhan jangka panjang.

1. Proyek Waste-to-Energy

Melalui PT Chandra Waste Energy, perusahaan memperoleh proyek Waste-to-Energy (WTE) di kawasan Serang Raya bersama konsorsium Masa Depan Energi Indonesia.

Ekspansi ini membuka peluang masuk ke sektor energi terbarukan.

2. Diversifikasi Pasokan Minyak

Perusahaan juga bekerja sama dengan Glencore untuk memperluas sumber pasokan minyak dari:

  • Amerika Latin,
  • Amerika Utara,
  • Afrika Barat,
  • Asia Tenggara.

Strategi tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap jalur distribusi tradisional yang rentan terganggu konflik geopolitik.

3. Proyek CA-EDC

Proyek pembangunan pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) telah mencapai progres konstruksi sekitar 66%. Fasilitas tersebut diharapkan memperkuat daya saing industri kimia Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

4. Posisi Likuiditas Sangat Kuat

Perusahaan memiliki:

  • likuiditas sekitar US$3,8 miliar,
  • current ratio 3,09 kali,
  • EBITDA coverage ratio 4,01 kali.

Posisi tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek masih tergolong kuat.

5. Free Float Semakin Besar

Peningkatan free float menjadi 25,7% juga dinilai meningkatkan daya tarik TPIA bagi investor institusi global karena memperbesar likuiditas perdagangan saham.

Risiko yang Tetap Harus Diwaspadai

Meski prospeknya membaik, terdapat sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan investor.

Margin Petrokimia Masih Sulit

Manajemen sendiri mengakui industri petrokimia pada 2026 masih menghadapi kondisi very challenging. Oversupply global, persaingan harga yang ketat, serta perlambatan ekonomi Tiongkok masih menjadi hambatan utama.

Geopolitik Global

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz tetap menjadi ancaman terhadap rantai pasok energi dunia. Walaupun perusahaan telah melakukan diversifikasi sumber pasokan, gangguan geopolitik tetap dapat meningkatkan biaya produksi dan volatilitas harga energi.

Perbedaan Valuasi yang Sangat Ekstrem

Target harga analis yang berkisar antara Rp1.090 hingga Rp6.200 menunjukkan tingginya ketidakpastian mengenai nilai wajar saham TPIA. Perbedaan sebesar itu mencerminkan bahwa pasar masih memiliki pandangan yang sangat beragam terhadap prospek perusahaan.

Beban Biaya Korporasi

Pada kuartal IV-2025, perusahaan sempat mencatat pelebaran rugi EBITDA akibat kenaikan biaya umum dan administrasi (G&A) yang meningkat lebih dari tiga kali lipat, termasuk adanya tambahan beban dari penerapan pajak karbon.

Layak Dibeli atau Sebaiknya Menunggu?

Secara historis, harga saham TPIA memang sudah turun sekitar 81,9% dari level tertingginya sehingga terlihat jauh lebih murah dibanding satu tahun lalu.

Namun secara valuasi relatif, sebagian analis masih menilai saham ini diperdagangkan pada premium dibanding perusahaan sejenis di kawasan Asia.

Di sisi lain, transformasi menuju perusahaan energi terintegrasi mulai menunjukkan hasil melalui lonjakan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih pada kuartal I-2026.

Karena itu, TPIA dapat dikategorikan sebagai saham turnaround dengan potensi imbal hasil yang besar, tetapi juga disertai risiko yang tinggi.

Bagi investor yang mempertimbangkan masuk, strategi bertahap, disiplin terhadap batas kerugian (stop loss), serta mencermati perkembangan fundamental, harga energi global, dan kondisi geopolitik menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan investasi.