Stop Judi! Ini Cara Mudah Kenali Modus Saham Gorengan
- Jangan sampai boncos! Kenali ciri-ciri saham gorengan, modus wash trading, hingga jebakan influencer pompom. Simak tips aman investasi anti-rugi di sini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Momentum bersih-bersih pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan saat ini menjadi alarm keras bagi seluruh pelaku pasar. Di tengah ancaman sanksi MSCI dan ketidakpastian ekonomi global, risiko terjebak dalam pusaran saham gorengan semakin nyata. Investor ritel wajib membekali diri dengan pengetahuan deteksi dini.
Saham gorengan adalah istilah awam untuk saham yang kenaikan harganya direkayasa oleh pihak tertentu atau bandar demi keuntungan sepihak. Kenaikan harga ini tidak mencerminkan kinerja fundamental perusahaan yang sebenarnya. Pergerakan harganya murni didorong oleh kekuatan modal besar yang menciptakan permintaan semu di pasar reguler.
Ciri paling mendasar yang mudah dikenali adalah lonjakan volume transaksi yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak wajar. Saham yang biasanya sepi transaksi atau "tidur" mendadak ramai diperdagangkan dengan nilai miliaran rupiah. Pola ini sering kali merupakan hasil dari praktik wash trading atau jual beli sendiri.
Mekanisme Jebakan Bandar
Dalam praktik wash trading, pelaku manipulasi menggunakan beberapa akun nomine untuk saling jual beli saham di harga yang semakin tinggi. Tujuannya adalah memancing algoritma bursa dan menarik perhatian investor ritel yang menyukai saham top gainer. Ilusi keramaian ini adalah umpan utama untuk menjerat korban.
Selain volume, perhatikan juga order book atau antrean jual beli yang sering kali dimanipulasi untuk menipu psikologi pasar. Sering muncul antrean beli atau bid yang sangat tebal untuk memberikan kesan bahwa saham tersebut banyak peminatnya. Namun, antrean ini bisa hilang atau dicabut seketika atau fake bid.
Strategi ini dikenal dengan istilah "ganjal tembok", di mana bandar memasang antrean beli tebal agar ritel merasa aman untuk masuk. Begitu ritel sudah banyak yang membeli di harga atas, bandar akan mencabut antrean belinya. Harga kemudian dibanting jatuh atau diguyur, meninggalkan ritel dalam posisi rugi.
Indikator fundamental juga menjadi alat deteksi yang sangat ampuh jika investor mau meluangkan waktu sedikit untuk riset. Saham gorengan biasanya memiliki valuasi yang sangat mahal dengan rasio Price to Earning (PER) ratusan kali. Bahkan, banyak perusahaan gorengan yang sebenarnya masih merugi dan tidak memiliki pendapatan jelas.
Waspada Fenomena Pompom
Di era digital, modus operandi bandar telah berevolusi dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan narasi positif palsu. Fenomena influencer saham atau "pompom" menjadi alat efektif untuk memobilisasi massa ritel. Mereka menebar janji keuntungan fantastis tanpa basis data yang jelas, sering kali saat harga sudah di pucuk.
Investor perlu mewaspadai rekomendasi saham "lapis ketiga" yang disertai ajakan agresif untuk segera membeli atau Fear of Missing Out (FOMO). Biasanya, ini adalah fase distribusi di mana bandar sedang berusaha membuang barang dagangannya ke tangan ritel. Setelah barang habis terjual, influencer tersebut akan menghilang.
Kaitannya dengan isu MSCI saat ini, saham dengan kepemilikan publik atau free float kecil sangat rentan digoreng. Karena jumlah lembar saham yang beredar sedikit, bandar tidak butuh modal terlalu besar untuk mengendalikan harga. Inilah alasan mengapa transparansi data pemegang saham di bawah 5 persen sangat krusial.
Otoritas bursa sebenarnya memiliki mekanisme peringatan dini melalui pengumuman Unusual Market Activity (UMA). Jika sebuah saham masuk kategori UMA, artinya pergerakannya sudah dinilai tidak wajar oleh regulator. Investor yang bijak seharusnya menghindari saham berstatus UMA, bukan malah nekat masuk dengan harapan spekulasi tinggi.
Psikologi dan Manajemen Risiko
Jebakan saham gorengan sering kali berhasil bukan karena investor tidak tahu, melainkan karena faktor keserakahan atau greed. Keinginan untuk cepat kaya dalam waktu singkat menutup logika sehat dalam berinvestasi. Pola pikir judi inilah yang menjadi makanan empuk bagi para manipulator pasar untuk mengeruk keuntungan besar.
Dampak kerugian dari saham gorengan bisa sangat fatal, bahkan bisa membuat modal investasi hilang nyaris tak bersisa. Saat bandar selesai melakukan distribusi, harga saham sering kali dibiarkan terjun bebas hingga Auto Rejection Bawah(ARB) berjilid-jilid. Pada titik ini, investor ritel sudah tidak bisa keluar karena tidak ada pembeli.
Untuk melindungi aset, investor disarankan selalu melakukan diversifikasi dan tidak menaruh seluruh modal di satu saham spekulatif. Disiplin cut loss atau pembatasan kerugian juga wajib diterapkan jika harga bergerak berlawanan. Jangan pernah jatuh cinta pada saham yang fundamentalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara logis.
Pemerintah berkomitmen memperbaiki ekosistem pasar modal lewat penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku manipulasi pasar. Namun, benteng pertahanan terakhir tetap ada di tangan investor masing-masing. Literasi keuangan dan pengendalian emosi adalah kunci utama untuk bertahan hidup di ganasnya pasar saham Indonesia.

Alvin Bagaskara
Editor
