Stock Split Bikin Saham Terlihat Murah, Waspada FOMO!
- Saham MLPT dua kali ARA usai stock split 1:25. Apakah kenaikan ini didukung fundamental atau hanya efek euforia pasar? Simak analisis dan prospek bisnis sebelum membeli saham.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) kembali menjadi sorotan pasar.
Setelah sempat menyentuh Auto Reject Atas (ARA) menjelang pelaksanaan stock split, saham emiten teknologi Grup Lippo itu kembali mencatat ARA pada hari pertama perdagangan dengan harga nominal baru.
Kenaikan beruntun tersebut memicu euforia di kalangan investor ritel. Harga saham yang sebelumnya berada di kisaran puluhan ribu rupiah berubah menjadi sekitar Rp1.000 per saham setelah stock split dengan rasio 1:25, sehingga terlihat jauh lebih "murah".
Namun, apakah kenaikan harga tersebut berarti fundamental MLPT tiba-tiba berubah? Ataukah reli yang terjadi lebih merupakan kombinasi sentimen pasar, efek psikologis stock split, dan meningkatnya minat investor terhadap saham berharga nominal rendah?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting dijawab agar investor tidak terjebak membeli saham hanya karena melihat harga yang tampak murah.
Dari Anjlok 60% hingga Dua Kali ARA
Perjalanan saham MLPT sepanjang 2026 tidak bisa dipisahkan dari koreksi tajam yang terjadi sebelumnya.
Sejak awal tahun hingga sebelum reli terbaru, harga saham MLPT telah turun sekitar 60,3% secara year to date (YTD) dari posisi awal tahun. Bahkan dibandingkan level tertingginya pada tahun ini, penurunan sempat mencapai hampir 70%.
Momentum mulai berubah setelah perusahaan memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan stock split 1:25.
Pada perdagangan 16 Juli 2026, saham MLPT melonjak 19,98% ke level Rp24.775 dan menyentuh batas ARA dari penutupan sebelumnya di Rp20.650. Setelah pemecahan saham efektif berlaku, harga teoritis berubah menjadi sekitar Rp1.040 per saham dan kembali ditutup pada batas ARA di Rp1.300.
Pergerakan tersebut memunculkan kesan bahwa saham MLPT sedang memasuki tren bullish baru. Namun investor perlu memahami bahwa stock split tidak menambah nilai intrinsik perusahaan.
Stock Split Tidak Mengubah Nilai Perusahaan
Secara teori, stock split hanya memecah jumlah lembar saham sehingga harga per lembar menjadi lebih rendah, sementara nilai kepemilikan investor tetap sama.
Dalam prospektusnya, manajemen MLPT menegaskan bahwa aksi korporasi tersebut tidak mengubah hak maupun nilai ekonomi pemegang saham, melainkan bertujuan meningkatkan likuiditas perdagangan dan memperluas basis investor.
Artinya, investor yang sebelumnya memiliki satu saham senilai Rp26.000, misalnya, setelah stock split akan memiliki 25 saham dengan nilai sekitar Rp1.040 per lembar. Nilai total investasinya tetap setara.
Fenomena inilah yang sering kali menimbulkan ilusi harga murah. Harga per lembar memang turun, tetapi nilai perusahaan tidak berubah hanya karena jumlah saham bertambah.
Mengapa Harga Bisa Langsung Naik?
Dalam praktik pasar modal, stock split memang kerap diikuti kenaikan harga saham. Profesor Eugene F. Fama, peraih Nobel Ekonomi dan penggagas Efficient Market Hypothesis, menjelaskan bahwa stock split pada dasarnya tidak menciptakan nilai ekonomi baru.
Jika harga bergerak setelah aksi tersebut, penyebabnya lebih banyak berasal dari perubahan persepsi investor, peningkatan likuiditas, maupun ekspektasi terhadap prospek perusahaan, bukan karena stock split itu sendiri.
Hal serupa juga pernah disampaikan analis pasar modal Indonesia. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menyebut stock split umumnya memberikan sentimen positif.
Hal ini karena stock split meningkatkan keterjangkauan harga bagi investor ritel dan berpotensi memperbaiki likuiditas perdagangan. Namun, menurutnya, efek tersebut tidak selalu bertahan apabila tidak diikuti kinerja fundamental perusahaan.
Dengan kata lain, stock split dapat menjadi katalis sentimen, tetapi bukan alasan tunggal yang menjamin harga saham akan terus naik.
Fundamental MLPT
Di luar dinamika harga saham, MLPT bergerak pada bisnis yang memang sedang berada di tengah momentum transformasi digital.
Perusahaan menyediakan layanan konsultasi teknologi informasi, integrasi sistem, cloud, keamanan siber, data center, hingga managed services bagi sektor perbankan, telekomunikasi, pemerintahan, dan perusahaan besar di Indonesia.
Permintaan terhadap layanan digital secara struktural masih bertumbuh seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), keamanan siber, serta modernisasi sistem informasi perusahaan.
Inilah alasan mengapa sebagian investor menilai sektor teknologi informasi masih memiliki prospek jangka panjang yang menarik. Namun, prospek industri tidak otomatis berarti harga saham sudah mencerminkan valuasi yang menarik.
Investor tetap perlu mencermati pertumbuhan pendapatan, laba bersih, margin usaha, arus kas, belanja modal, hingga valuasi perusahaan dibandingkan emiten sejenis sebelum mengambil keputusan investasi.
Jangan Terjebak FOMO Harga "Murah"
Fenomena setelah stock split sering memunculkan kesalahan berpikir yang sama. Investor melihat harga turun dari Rp26.000 menjadi sekitar Rp1.000, lalu menganggap saham tersebut menjadi lebih murah.
Padahal yang berubah hanyalah nominal harga per lembar, bukan nilai perusahaan.
Kesalahan persepsi ini sering diperkuat oleh efek psikologis ketika saham langsung menyentuh ARA, sehingga muncul kekhawatiran tertinggal momentum (fear of missing out atau FOMO).
Dalam kondisi seperti itu, investor justru perlu kembali ke pertanyaan paling mendasar:
- Apakah ada perubahan signifikan pada fundamental bisnis?
- Apakah pertumbuhan laba mampu mendukung valuasi saham?
- Apakah kenaikan harga didorong oleh perubahan prospek perusahaan atau sekadar sentimen jangka pendek?
Jika jawaban atas pertanyaan tersebut belum jelas, membeli hanya karena harga terlihat murah dapat menjadi keputusan yang berisiko.
Tiga Hal yang Perlu Dicermati Investor
Bagi investor ritel, reli MLPT setelah stock split memberikan pelajaran penting bahwa pergerakan harga saham sebaiknya tidak dibaca secara parsial. Setidaknya ada tiga aspek yang layak diperhatikan.
Pertama, lihat perjalanan harga secara utuh. Kenaikan dua kali ARA terjadi setelah saham lebih dulu mengalami koreksi sekitar 60% sepanjang tahun.
Kedua, bedakan antara aksi korporasi dan perubahan fundamental. Stock split meningkatkan jumlah saham dan biasanya memperbaiki likuiditas, tetapi tidak otomatis meningkatkan nilai perusahaan.
Ketiga, evaluasi prospek bisnis sebelum mengikuti momentum pasar. MLPT memang berada di sektor teknologi yang masih prospektif, tetapi keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kinerja keuangan, valuasi, dan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan di tengah persaingan industri.
Bagi investor jangka panjang, kenaikan harga setelah stock split bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah apakah perusahaan mampu terus menciptakan nilai tambah melalui pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
