Spill 4 Saham Paling Diburu Asing Tahun Ini, ASII Masuk List
- Pasar saham RI catat net buy asing Rp34,93 triliun di semester II-2025. Saham ASII, BRMS, TLKM, dan BREN jadi incaran utama investor global.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar saham Indonesia mencatatkan arus masuk dana asing yang sangat deras pada paruh kedua tahun 2025 ini. Investor asing terlihat agresif memburu sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti Astra International hingga Telkom Indonesia. Tren akumulasi ini memberikan sentimen positif bagi pergerakan indeks.
Bursa Efek Indonesia mencatat nilai beli bersih asing mencapai Rp2,45 triliun jelang akhir tahun ini. Angka positif ini berhasil menekan nilai jual bersih asing sepanjang tahun berjalan secara signifikan. "Sepanjang tahun 2025 ini pasar mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp18,36 triliun," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi dalam keterangannya.
Tren positif aliran modal asing ini sebenarnya sudah mulai terlihat konsisten sejak pertengahan tahun 2025 lalu. Total nilai beli bersih asing tercatat menembus angka Rp34,93 triliun dalam enam bulan terakhir perdagangan. Masuknya dana segar ini menjadi penopang utama penguatan indeks saham gabungan.
1. Primadona ASII dan BRMS
Saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu incaran utama investor asing pada periode semester kedua ini. Emiten konglomerasi otomotif tersebut mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp6,53 triliun enam bulan terakhir. Investor asing tampaknya kembali percaya pada fundamental bisnis grup Astra.
Selain Astra saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mencatatkan akumulasi asing yang sangat masif sekali. Emiten tambang mineral ini membukukan nilai beli bersih asing mencapai Rp6,66 triliun periode paruh kedua. Angka tersebut menjadikan saham BRMS sebagai salah satu emiten paling diminati.
Masifnya aliran dana asing ke kedua saham ini menunjukkan rotasi minat investor ke sektor riil yang kuat. Saham sektor otomotif dan pertambangan mineral dinilai memiliki valuasi yang menarik untuk dikoleksi jangka panjang. Asing memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi untuk masuk ke saham unggulan.
- Baca Juga: Saham DEWA Glow Up Parah, Auto To The Moon?
2. Incaran Telkom dan Barito
Sektor telekomunikasi tidak luput dari radar investor asing dengan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebagai target utama. Saham pelat merah ini mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp6,24 triliun enam bulan terakhir. Stabilitas kinerja keuangan Telkom menjadi daya tarik utama bagi investor.
Saham sektor energi baru terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turut serta meramaikan aksi borong investor asing. Investor global mencatatkan akumulasi bersih senilai Rp2,84 triliun pada saham milik konglomerat Prajogo Pangestu ini. Sentimen energi hijau masih menjadi magnet kuat bagi pengelola dana.
Masuknya dana asing ke saham infrastruktur dan energi terbarukan mencerminkan strategi diversifikasi portofolio yang cukup matang. Investor mencari keseimbangan antara saham defensif seperti telekomunikasi dengan saham pertumbuhan tinggi seperti energi hijau. Kombinasi ini diharapkan memberikan imbal hasil optimal di akhir tahun ini.
3. Faktor Suku Bunga
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Farell Nathanael menganalisis faktor pendorong derasnya aliran dana asing paruh kedua ini. Menurutnya terdapat sejumlah sentimen makroekonomi yang membuat pasar saham Indonesia kembali menarik untuk dilirik investor. Kebijakan moneter menjadi salah satu kunci utama perubahan arah arus modal.
Penurunan suku bunga acuan bank sentral membuat biaya pinjaman menjadi lebih murah bagi ekspansi emiten korporasi. Hal ini memicu pergeseran dana ke instrumen investasi dengan potensi imbal hasil lebih tinggi. "Uangnya itu bakal ke aset-aset yang lebih berisiko dibanding yang tidak berisiko," ujar Farell.
Likuiditas uang yang beredar diperkirakan bakal beralih ke instrumen aset yang lebih berisiko seperti saham ekuitas. Investor meninggalkan aset aman demi mengejar imbal hasil lebih tinggi di pasar ekuitas negara berkembang. Indonesia diuntungkan oleh pergeseran selera risiko investor global saat ini.
4. Sentimen Window Dressing
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan tren positif ini akan terus berlanjut. Optimisme ini didukung oleh pola musiman yang kerap terjadi di bursa saham jelang pergantian tahun. "Ditambah ada ekspektasi dari fenomena window dressing dan santa claus rally," kata Nafan.
Pasar saham kini tengah menantikan fenomena window dressing yang biasa dilakukan oleh manajer investasi besar global. Strategi ini bertujuan mempercantik kinerja portofolio kelolaan sebelum dilaporkan kepada para nasabah atau investor mereka. Aksi ini biasanya mendorong kenaikan harga saham-saham unggulan jelang tutup buku.
Selain itu terdapat ekspektasi terjadinya Santa Claus Rally yang lazim terjadi pada pekan terakhir bulan Desember. Tren kenaikan harga saham di penghujung tahun ini memberikan peluang keuntungan tambahan bagi para trader. Sentimen musiman ini menjadi katalis jangka pendek yang sangat dinantikan pasar.
5. Prospek Awal Tahun
Nafan menambahkan bahwa secara historis bulan November dan Desember merupakan periode bullish bagi pasar saham. Tren penguatan ini bahkan memiliki potensi besar untuk berlanjut hingga bulan Januari tahun depan nanti. "Secara historis November dan Desember itu bullish dan bisa berlanjut ke Januari," tambah Nafan.
Sejumlah kebijakan stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah akan turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi riil tahun depan nanti. Fundamental emiten yang kokoh akan menjadi perhatian utama investor asing dalam menyeleksi saham pilihan mereka. Dukungan regulasi pemerintah memberikan kepastian hukum bagi iklim investasi jangka panjang.
Pasar juga mengapresiasi kinerja keuangan emiten per kuartal ketiga yang menunjukkan perbaikan profitabilitas cukup signifikan. Aksi korporasi seperti pembelian kembali saham atau buyback turut menjaga stabilitas harga di pasar sekunder bursa. Faktor-faktor ini menyempurnakan optimisme pasar menyambut tahun perdagangan baru 2026.

Alvin Bagaskara
Editor
