Sejarah Rontoknya IHSG: Dari Krisis 98 hingga Januari 2026
- Dari krisis moneter Asia 1998 hingga guncangan ekstrem pada akhir Januari 2026, IHSG berkali-kali mengalami fase kehancuran

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Sejarah pasar modal Indonesia mencatat kejatuhan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukanlah peristiwa baru. Setiap krisis yang terjadi memiliki karakter dan dampaknya sendiri.
Dari krisis moneter Asia 1998 hingga guncangan ekstrem pada akhir Januari 2026, IHSG berkali-kali mengalami fase kehancuran yang meninggalkan jejak mendalam bagi perekonomian nasional.
Berdasarkan catatan bursa Efek Indonesia, kejatuhan harian terdalam IHSG sepanjang sejarah masih tercatat pada 8 Januari 1998, ketika indeks anjlok 11,88% dalam satu hari. Peristiwa ini terjadi di tengah Krisis Moneter Asia, saat nilai tukar rupiah runtuh, sistem perbankan kolaps, dan krisis politik memuncak.
Kejatuhan tersebut bukan hanya soal angka di layar perdagangan, melainkan awal dari kehancuran multidimensional yang memicu kebangkrutan massal perbankan, pemutusan hubungan kerja besar-besaran, hingga berujung pada pergantian kepemimpinan nasional.
Tekanan tidak berhenti di satu hari, pada 12 Februari 1998, IHSG kembali terpuruk 9,27%, menandai krisis saat itu bersifat sistemik dan berkepanjangan. Secara kumulatif, sepanjang krisis 1997–1998, IHSG tercatat jatuh lebih dari 62% dari puncaknya, menjadikannya kehancuran pasar saham terparah dalam sejarah Indonesia.
Baca juga : IHSG Anjlok Dalam: Ketika Pasar Digerakkan Ketakutan
Satu dekade kemudian, pasar kembali diguncang Krisis Keuangan Global 2008. Pada 8 Oktober 2008, IHSG ambruk 10,38% dalam satu hari, peristiwa yang kerap dijuluki sebagai “Black Wednesday” versi Indonesia.
Tekanan global akibat runtuhnya pasar subprime mortgage di Amerika Serikat memicu capital outflow besar-besaran. Sepanjang tahun 2008, IHSG tercatat terdepresiasi sekitar 50,6%, memaksa regulator mengambil langkah-langkah luar biasa untuk menjaga stabilitas pasar.
Selain krisis global, tragedi nasional juga pernah memicu kejatuhan ekstrem. Pada 14 Oktober 2002, pasca Bom Bali I, IHSG anjlok mendekati 10% dalam sehari.
Peristiwa ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar saham terhadap guncangan keamanan dan stabilitas nasional, di mana sentimen ketakutan investor dengan cepat berubah menjadi aksi jual massal.
Memasuki era modern, tekanan kembali muncul pada 18 Maret 2025, ketika IHSG turun 6,12% dalam satu hari dan memicu trading halt di Bursa Efek Indonesia.
Kejatuhan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal, isu penurunan peringkat, serta capital outflow yang dipercepat oleh sentimen domestik, termasuk defisit APBN dan realisasi penerimaan pajak yang dinilai lemah.
Januari 2026
Sejarah kembali mencatat babak penting pada 28 Januari 2026, IHSG anjlok lebih dari 7% secara intraday, memaksa otoritas bursa memberlakukan trading halt.
Tekanan jual tidak mereda hingga penutupan, dengan IHSG akhirnya ditutup melemah sekitar 8%. Penurunan ini menempatkan Januari 2026 sebagai salah satu kejatuhan harian terdalam sejak krisis-krisis besar sebelumnya, meski belum melampaui rekor absolut tahun 1998.
Guncangan belum berakhir keesokan harinya. Pada 29 Januari 2026, pasar dibuka kembali dalam kondisi rapuh, IHSG langsung dibuka minus sekitar 7%, mencerminkan kepanikan belum sepenuhnya mereda dan kepercayaan investor masih sangat lemah.
Sejumlah analis menilai kejatuhan dua hari berturut-turut ini terjadi karena perfect storm dari berbagai faktor. Panic selling berlangsung secara masif, terutama di kalangan investor ritel yang melakukan cut loss bersamaan, menghadapi margin call, hingga likuidasi paksa.
Ketika IHSG menembus level psikologis penting, banyak pelaku pasar memilih menjual tanpa mempertimbangkan harga maupun fundamental.
Tekanan tersebut diperparah oleh isu rebalancing indeks global seperti MSCI, yang mendorong dana asing menarik modal secara cepat dan menjual saham-saham berkapitalisasi besar. Kombinasi aksi jual asing dan kepanikan domestik membuat tekanan pasar menjadi sangat dalam dan merata.
Baca juga : IHSG Anjlok Dalam: Ketika Pasar Digerakkan Ketakutan
Secara historis, kejatuhan Januari 2026 belum melampaui rekor absolut penurunan harian IHSG pada 1998 atau 2008. Namun, para pengamat menilai peristiwa ini tetap luar biasa berbahaya dalam konteks era modern, karena terjadi di tengah sistem pasar yang jauh lebih terintegrasi, cepat, dan sarat leverage dibandingkan dekade sebelumnya.
Meski sejarah IHSG dipenuhi episode kehancuran, data juga menunjukkan resiliensi pasar saham Indonesia. Setelah krisis 1998, 2008, dan pandemi COVID-19 pada 2020, ketika IHSG sempat turun sekitar 37% dari awal tahun ke titik terendah, pasar pada akhirnya mampu bangkit dan mencetak level-level baru.
Pola berulang tersebut menunjukkan kejatuhan ekstrem hampir selalu dipicu oleh kombinasi guncangan global dan kerentanan domestik, sementara pemulihan ditentukan oleh stabilisasi kebijakan, kembalinya kepercayaan, dan perbaikan fundamental ekonomi.
Dengan demikian, Januari 2026 akan dikenang bukan semata sebagai rekor statistik, melainkan sebagai peringatan keras, betapa cepat pasar bisa runtuh ketika kepanikan, leverage, dan sentimen global bertemu dalam satu waktu.
Apakah fase ini menjadi awal pemulihan atau justru pembuka tekanan lanjutan, sejarah berikutnya masih sedang ditulis oleh pasar.

Amirudin Zuhri
Editor
