Sejarah Jatuhnya Harga Emas Dunia, Pernah Anjlok 70 Persen
- Kejatuhan harga emas seperti yang terjadi saat ini bukanlah peristiwa baru dalam sejarah pasar keuangan global

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kejatuhan harga emas seperti yang terjadi saat ini bukanlah peristiwa baru dalam sejarah pasar keuangan global. Penurunan tajam pada 30 Januari 2026 yang mencapai hampir 10% dalam satu hari tercatat sebagai yang terbesar dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Meski demikian, jika dilihat dalam perspektif jangka panjang, sejarah mencatat sejumlah periode kejatuhan harga emas yang jauh lebih dalam dan berlangsung lebih lama.
Pada periode 30 Januari hingga 2 Februari 2026, harga emas mengalami koreksi tajam dalam waktu singkat. Pada 30 Januari 2026, harga emas anjlok sekitar 10% dalam satu hari, sebelum melanjutkan penurunan hingga total sekitar 16% dari puncaknya.
Harga emas turun dari level tertinggi sekitar US$5.608 per ons ke kisaran US$4.693 per ons. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari nominasi Kevin Warsh, tokoh yang dipersepsikan pasar sebagai calon pimpinan Federal Reserve (The Fed) yang hawkish, aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang, hingga penguatan dolar AS yang menekan harga komoditas.
Sejarah Jatuhnya Harga Emas
Sebagai pembanding, pada periode 2012 hingga 2015, emas mengalami bear market berkepanjangan pascakrisis keuangan global 2008. Dalam rentang waktu tersebut, harga emas merosot sekitar 40%, dari puncak di kisaran US$1.800 per ons pada 2012 menjadi sekitar US$1.050 per ons pada 2015.
Kejatuhan ini terjadi seiring dengan pemulihan ekonomi global, meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar saham, serta bergulirnya bull market di indeks S&P 500 yang membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai.
Kejatuhan yang lebih ekstrem bahkan terjadi pada periode 1980 hingga 1999, yang dikenal sebagai salah satu fase bear market terpanjang dalam sejarah emas.
Dari level tertinggi sekitar US$850 per ons pada 1980, harga emas jatuh ke titik terendah sekitar US$254 per ons pada 1999, atau mengalami penurunan sekitar 70% dalam kurun waktu hampir 20 tahun.
Faktor pemicunya meliputi inflasi global yang terkendali, stabilitas geopolitik pasca Perang Dingin, meningkatnya produksi emas akibat kemajuan teknologi pertambangan, serta pergeseran minat investor ke aset berisiko seperti saham.
Koreksi 2026
Koreksi tajam yang terjadi pada awal 2026 memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan episode kejatuhan historis sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah emas mencetak reli ekstrem dan menembus rekor harga baru di atas US$5.600 per ons, sehingga aksi ambil untung menjadi respons pasar yang relatif wajar.
Selain itu, terdapat trigger event berbasis kebijakan, yakni nominasi calon Ketua The Fed yang dipersepsikan lebih agresif dalam kebijakan moneter. Sentimen tersebut dengan cepat mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga, mendorong penguatan dolar AS, dan secara langsung menekan harga emas.
Meski mengalami koreksi tajam, emas hingga 2 Februari 2026 masih mencatatkan kenaikan sekitar 67% secara tahunan (year-on-year). Artinya, dari sudut pandang jangka panjang, tren naik emas belum sepenuhnya patah dan masih didukung oleh faktor struktural seperti ketidakpastian ekonomi global, risiko geopolitik, serta kekhawatiran terhadap stabilitas sistem keuangan.
Secara historis, emas memang dikenal sebagai aset dengan siklus volatilitas tinggi, baik dalam fase kenaikan maupun penurunan. Perbedaan utama pada kondisi saat ini terletak pada kecepatan koreksi, di mana penurunan terjadi dalam hitungan hari, sementara kejatuhan besar di masa lalu berlangsung dalam rentang bertahun-tahun hingga dekade.
Hal ini menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan tren fundamental dalam jangka panjang.

Amirudin Zuhri
Editor
