Saham vs Crypto: Mana yang Lebih Untung dan Aman untuk Investasi di 2025?
- Crypto menawarkan potensi cuan tinggi, tapi saham lebih stabil. Simak perbandingan lengkap kelebihan, risiko, dan strategi investasi keduanya di 2025.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin akrab dengan istilah crypto, Bitcoin, hingga blockchain. Sementara itu, investasi saham masih menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin menumbuhkan aset secara stabil.
Kedua instrumen ini sama-sama menjanjikan keuntungan, tetapi memiliki karakteristik, risiko, dan strategi yang sangat berbeda. Lalu, mana yang lebih baik, saham atau crypto?
Berinvestasi di saham berarti membeli sebagian kepemilikan perusahaan. Artinya, investor ikut menanggung risiko sekaligus menikmati keuntungan melalui dua cara, yaitu dividen dan kenaikan harga saham (capital gain).
Kelebihan saham terletak pada dasar analisis yang jelas. Investor dapat membaca laporan keuangan, menilai prospek bisnis, hingga memantau performa manajemen perusahaan. Dengan pendekatan ini, keputusan investasi bisa didasarkan pada data dan bukan sekadar spekulasi.
Namun, saham juga bukan tanpa risiko. Harga saham tetap bisa berfluktuasi karena faktor makroekonomi, isu industri, maupun sentimen pasar.
Meski begitu, volatilitasnya relatif lebih terkendali dibandingkan crypto. Contoh saham populer di Indonesia antara lain Bank Central Asia (BBCA) dan Telkom Indonesia (TLKM), yang selama bertahun-tahun menjadi pilihan utama investor jangka panjang karena fundamentalnya yang kuat.
Baca juga : Drama Pencurian Berlian di Museum Louvre, Ingatkan pada Kusni Kasdut
Cryptocurrency
Dilansir dari laman platform jual beli kripto Indodax, Senin, 20 Oktober 2025, Berbeda dengan saham, cryptocurrency merupakan aset digital berbasis teknologi blockchain. Nilainya ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar global yang beroperasi tanpa henti, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
Crypto seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), atau Binance Coin (BNB) dikenal mampu memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun, di balik potensi itu, tersimpan risiko ekstrem akibat volatilitas tinggi. Harga crypto bisa naik ratusan persen hanya dalam beberapa minggu, tetapi juga dapat anjlok drastis dalam hitungan jam.
Menurut data pasar akhir 2025, fenomena likuidasi massal pada posisi leverage sering menjadi pemicu utama anjloknya harga. Ketika nilai aset jatuh di bawah batas tertentu, posisi pinjaman otomatis ditutup, menyebabkan tekanan jual besar-besaran.
Selain itu, crypto sangat sensitif terhadap berita global. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China, atau kebijakan suku bunga The Federal Reserve, sering kali menjadi pemicu aksi jual besar di pasar digital ini.
Tak jarang pula, arus modal dari investor institusional melalui ETF Bitcoin ikut memengaruhi arah harga. Ketika dana besar keluar, pasar pun ikut terseret turun.
Baca juga : Bank Mandiri Kembali Raih Best Bank in Indonesia 2025 versi Global Finance
Perbandingan Singkat Saham vs Crypto
Jika dibandingkan dari sisi konsep, saham merupakan bukti kepemilikan atas perusahaan, sementara cryptocurrency adalah aset digital berbasis blockchain.
Dari sisi keuntungan utama, saham memberikan dividen dan capital gain yang bisa dianalisis melalui fundamental perusahaan, sedangkan crypto menawarkan potensi keuntungan tinggi dalam waktu singkat.
Risiko keduanya juga berbeda, saham menghadapi fluktuasi harga dan risiko likuiditas, sementara crypto dihadapkan pada volatilitas ekstrem serta risiko keamanan dan regulasi.
Waktu perdagangan saham terbatas pada jam bursa, sedangkan crypto dapat diperdagangkan kapan saja selama 24 jam nonstop. Contoh aset saham yang populer antara lain BBCA, TLKM, dan UNVR, sedangkan di dunia crypto ada Bitcoin, Ethereum, dan BNB.
Baik saham maupun cryptocurrency, keduanya menawarkan peluang membangun kekayaan. Perbedaannya hanya terletak pada jalur yang dipilih, saham menuntut kesabaran dan analisis mendalam, sedangkan crypto menuntut keberanian dan kesiapan menghadapi risiko besar.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan investor, dunia keuangan masa depan tak lagi hitam putih, kadang, keseimbangan antara keduanya justru menjadi kunci menuju kebebasan finansial.

Muhammad Imam Hatami
Editor
