Tren Pasar

Saham GIAA Kembali Tembus Rp100, Apakah Private Placement Jadi Jalan Turnaround?

  • Saham Garuda (GIAA) kembali tembus Rp100 berkat rencana private placement Rp30 triliun. Mampukah aksi ini selamatkan keuangan Garuda?
Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menggelar Garuda Indonesia Travel Fair 2021 / Dok. Garuda Indonesia
Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menggelar Garuda Indonesia Travel Fair 2021 / Dok. Garuda Indonesia (Garuda Indonesia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akhirnya kembali menembus level Rp100 per saham. Terakhir kali, emiten maskapai penerbangan pelat merah ini berada di harga tersebut pada 2023 lalu.

Kenaikan harga saham Garuda ditopang oleh aksi korporasi berupa private placement, yang diperkirakan bakal meraup dana segar hingga Rp30 triliun. Lonjakan ini membuat saham GIAA melesat 29,63% dalam sepekan terakhir.

Meski demikian, ekuitas Garuda masih tercatat negatif sehingga sahamnya masuk daftar pemantauan khusus dan tidak dapat bergerak leluasa. Kini, pertanyaannya, apakah aksi korporasi ini benar-benar mampu menerbangkan kembali kinerja perseroan?

1. Rapor Merah Kinerja Garuda

Langkah penyelamatan ini bukan tanpa alasan. Rapor keuangan GIAA hingga semester pertama 2025 memang masih menunjukkan kinerja yang lemah. Rugi bersih membengkak 41,36% menjadi US$143,7 juta, sementara ekuitas perusahaan masih negatif US$1,49 miliar.

Manajemen mengakui, restrukturisasi yang dilakukan pada 2022 ternyata belum cukup untuk menyehatkan perusahaan. Beberapa hambatan utama antara lain adalah kegagalan rights issue tahap II, sulitnya akses pendanaan, dan pemulihan trafik penerbangan yang lebih lambat dari proyeksi.

2. Bantuan Super Mahal

Danantara akan mengeksekusi penyelamatan ini melalui dua skema. Pertama, suntikan modal secara tunai senilai US$1,44 miliar (Rp23,66 triliun). Kedua, konversi pinjaman pemegang saham yang sudah ada senilai US$405 juta(Rp6,65 triliun) menjadi saham baru.

Total dana sebesar Rp30,31 triliun inilah yang akan menjadi ruang gerak baru bagi Garuda. Aksi korporasi ini kini tinggal menunggu persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2025.

Tujuan utamanya dari aksi korporasi ini, yaitu membalikkan ekuitas negatif GIAA menjadi positif US$349,9 juta dan menurunkan rasio utang terhadap aset dari 123% menjadi 96%. Secara teoretis, ini langkah fundamental untuk menyehatkan neraca keuangan.

3. Sisi Positif dari Suntikan Dana

Sementara itu. Tim Riset Kiwoom Sekuritas dalam risetnya pada Rabu, 8 Oktober 2025, melihat adanya sejumlah dampak positif dari private placement ini. Yang paling utama adalah potensi ekuitas yang berbalik menjadi positif.

“Hal ini membuka peluang pemenuhan syarat keluar dari papan pemantauan khusus [full call auction/FCA], dengan catatan memenuhi kriteria Bursa,” tulis Tim Riset Kiwoom Sekuritas dikutip pada Kamis, 9 Oktober 2025.

Selain itu, likuiditas dan solvabilitas perusahaan akan membaik, serta beban bunga dan utang akan menurun. Dana segar ini juga akan memberikan ruang bagi Garuda dan Citilink untuk melakukan ekspansi armada dan rute secara bertahap.

4. Konsekuensi dan Risiko yang Mengintai

Namun, di sinilah letak konsekuensi atau risikonya. Kiwoom Sekuritas memperingatkan adanya risiko eksekusi dan dilusi besar akibat penerbitan saham baru ini. Porsi kepemilikan investor publik akan berkurang drastis dari 27,46% menjadi hanya 5,03%.

Selain itu, perbaikan laba tidak akan terjadi secara instan. “Profitabilitas tetap dipengaruhi efisiensi biaya, harga avtur, kurs, dan permintaan,” tulis riset tersebut, menekankan bahwa suntikan modal saja tidak cukup.

5. Apa Artinya Ini Bagi Investor Ritel?

Bagi investor, terutama ritel, Kiwoom Sekuritas menyarankan pendekatan yang lebih bijak. Reli harga saham saat ini lebih didorong oleh sentimen, bukan perbaikan fundamental yang sudah terjadi.

Oleh karena itu, investor ritel disarankan untuk menunggu kepastian hingga beberapa tahap terlewati. Di antaranya adalah hasil RUPSLB, realisasi setoran dana, dan yang paling penting, adanya bukti perbaikan indikator operasionalseperti load factor dan yield.

Ini adalah pertaruhan besar yang lebih cocok bagi investor strategis dengan horizon jangka panjang seperti Danantara. Bagi investor ritel, bersabar dan menunggu bukti nyata di lapangan adalah strategi yang paling aman.