Tren Pasar

Saham BULL Turun Tajam Meski Diborong Asing, Masih Layak Koleksi?

  • Saham BULL turun hampir 6% usai reli tajam. Simak prospek emiten pelayaran ini, kinerja kuartal I-2026, dan pertumbuhan, dan labanya
15.jpeg
Ilustrasi bisnis PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL). (bull.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menjadi salah satu emiten yang paling menarik perhatian investor pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026. 

Setelah mencatat reli kuat pada akhir pekan lalu, saham emiten pelayaran tanker tersebut justru mengalami koreksi tajam di tengah tekanan pasar yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Meski harga saham melemah, minat investor asing terhadap BULL masih cukup besar. Data perdagangan menunjukkan saham ini masuk dalam daftar emiten dengan nilai pembelian asing terbesar pada hari ini.

Lantas, bagaimana prospek saham BULL setelah koreksi? Apakah pelemahan ini hanya aksi ambil untung atau menjadi sinyal perubahan tren?

Saham BULL Turun 5,94% di Tengah Pelemahan IHSG

Pada perdagangan Seni, 27 Juli 2026 hingga pukul 15.30 WIB, saham BULL melemah 5,94% ke level Rp412 per saham. Koreksi tersebut terjadi setelah saham BULL sebelumnya menjadi salah satu motor penggerak IHSG dengan lonjakan 12,31% pada perdagangan Jumat 24 Juli 2026.

Di sisi lain, IHSG pada sesi pertama juga bergerak di zona merah dengan turun sekitar 0,36% ke level 6.174, mencerminkan tekanan yang masih terjadi di pasar saham domestik. Pelemahan saham BULL kali ini dinilai sebagai bagian dari aksi profit taking setelah kenaikan signifikan dalam beberapa sesi sebelumnya.

Menariknya, di tengah koreksi harga, aktivitas investor asing justru masih cukup tinggi. Pada perdagangan Senin (27/7/2026), saham BULL tercatat menjadi emiten dengan pembelian asing terbesar keempat, setelah:

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Nilai transaksi asing di saham BULL mencapai sekitar Rp46,61 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor institusi masih memanfaatkan pelemahan harga untuk melakukan akumulasi.

Sebelumnya, setelah reli tajam pada Jumat lalu, saham BULL juga sempat mencatat aksi jual bersih asing yang cukup besar sebagai indikasi adanya realisasi keuntungan jangka pendek.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: HRTA dan AADI Naik, MEDC Turun

Kinerja BULL Melonjak pada Kuartal I-2026

Di balik volatilitas harga sahamnya, fundamental perusahaan justru menunjukkan perbaikan yang signifikan. Sepanjang kuartal I-2026, BULL membukukan,

  • Laba bersih: Rp239,3 miliar (naik 145% YoY)
  • Pendapatan: USD44 juta (naik 17% QoQ)
  • EBITDA: USD22 juta (naik 69% YoY)
  • Margin laba bersih: 32% (meningkat signifikan)

Kinerja tersebut bahkan telah mencapai sekitar 26% dari proyeksi laba sepanjang 2026, sehingga perusahaan dinilai masih berada di jalur yang sesuai dengan target analis. Peningkatan laba terutama didorong oleh membaiknya tarif angkut kapal tanker serta bertambahnya armada yang mulai beroperasi pada awal tahun.

Sejumlah analis memperkirakan kuartal II-2026 berpotensi menjadi periode dengan kinerja terbaik bagi BULL. Optimisme tersebut didukung oleh mulai beroperasinya kapal tanker LNG baru yang mulai memberikan kontribusi penuh terhadap pendapatan perusahaan.

Selain itu, kenaikan tarif sewa kapal tanker global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah diperkirakan ikut meningkatkan profitabilitas perusahaan. Dengan tambahan armada tersebut, kapasitas pengangkutan LNG BULL meningkat sehingga perusahaan memiliki peluang menangkap permintaan yang sedang tumbuh.

Pendapatan dan Laba Diproyeksikan Melonjak pada 2026

Berdasarkan konsensus empat analis yang dihimpun S&P Global, prospek keuangan BULL sepanjang 2026 masih sangat positif. Proyeksi tersebut antara lain,

  • Pendapatan: USD288,47 juta (naik 98,42%)
  • Laba bersih: USD79,14 juta (naik 224%)
  • Earnings per Share (EPS): Rp0,01 (naik 264%)

Baca juga : Gubernur BI Mundur, Cek Prospek Rupiah dan IHSG

Pertumbuhan tersebut didukung oleh kombinasi kenaikan tarif angkut, penambahan armada, dan efisiensi operasional. Sejumlah faktor diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan BULL sepanjang tahun ini,

1. Ekspansi Armada LNG

BULL telah menerima kapal tanker LNG baru berkapasitas sekitar 78.000 DWT, sehingga jumlah armada LNG perusahaan kini menjadi dua unit. Penambahan armada tersebut dilakukan ketika permintaan kapal LNG global sedang meningkat.

2. Tarif Angkut Tanker Terus Naik

Tarif sewa kapal tanker mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2026. Sebagai ilustrasi,

  • tarif Aframax meningkat menjadi sekitar USD56.300 per hari,
  • tarif MR Tanker naik menjadi sekitar USD30.500 per hari.

Kenaikan tarif tersebut secara langsung meningkatkan potensi pendapatan perusahaan pelayaran seperti BULL.

3. Konflik Geopolitik Timur Tengah

Ketegangan di kawasan Teluk Persia membuat distribusi minyak mentah global mengalami perubahan. Perubahan jalur perdagangan menyebabkan kebutuhan kapal tanker meningkat karena jarak pengiriman menjadi lebih panjang atau dikenal sebagai peningkatan ton-mile demand. Kondisi tersebut memperketat pasokan kapal tanker dan mendorong tarif pengangkutan tetap tinggi.

Baca juga : Perry Warjiyo Mundur, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?

4. Struktur Keuangan Semakin Sehat

Selain pertumbuhan laba, posisi keuangan BULL juga mengalami perbaikan. Rasio Debt terhadap Annualized EBITDA turun dari 2,43 kali menjadi 1,48 kali, menunjukkan leverage perusahaan semakin terkendali. Perbaikan struktur modal ini memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi sekaligus menjaga kesehatan arus kas.

Di balik prospek yang positif, terdapat sejumlah risiko yang masih membayangi saham BULL.

  • Pertama, volatilitas harga saham masih tinggi karena investor cenderung melakukan aksi ambil untung setelah reli yang cukup besar.
  • Kedua, perusahaan masih berada dalam Papan Pemantauan Khusus Bursa Efek Indonesia akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan kuartal III-2025. Status tersebut berpotensi memengaruhi persepsi sebagian investor terhadap tata kelola perusahaan.
  • Ketiga, bisnis pelayaran tanker sangat bergantung pada dinamika geopolitik global. Apabila ketegangan di Timur Tengah mereda, tarif angkut kapal dapat kembali turun dan memengaruhi pendapatan perusahaan.
  • Keempat, ekspansi armada membutuhkan belanja modal yang besar sehingga perusahaan tetap harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan aset dan kesehatan arus kas.

Masih Menarik untuk Investasi?

Secara fundamental, BULL masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang kuat. Lonjakan laba bersih, peningkatan margin keuntungan, ekspansi armada LNG, serta tingginya tarif angkut tanker menjadi katalis utama yang menopang optimisme analis terhadap emiten ini.

Di sisi lain, koreksi harga hingga hampir 6% pada perdagangan hari ini menunjukkan bahwa volatilitas jangka pendek masih akan mewarnai pergerakan saham BULL, terutama setelah reli tajam pada pekan sebelumnya.

Bagi investor, pergerakan saham dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah koreksi kali ini hanya merupakan aksi profit taking sementara atau menjadi awal fase konsolidasi yang lebih panjang.