Tren Pasar

Saham Blue Chip LQ45 Tahun Ini Babak Belur, Saatnya Serok untuk 2026?

  • Tahun 2025 berat bagi blue chip, BBRI dan BBCA turun 10%. Simak analisis prospek rebound 2026 dan valuasi murah setara era pandemi.
Ilustrasi Bursa - Panji 3.jpg
Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 12 Januari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Tahun 2025 menjadi waktu yang berat bagi saham blue chip LQ45. Kondisi ini sangatlah kontras dengan saham lapis kedua atau bahkan saham yang terafiliasi dengan konglomerat kenamaan Indonesia yang justru melesat kencang meninggalkan indeks utama.

Misalnya saja, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) secara year to date telah mengalami pelemahan 10,45%. Hal yang sama juga dirasakan oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang masing-masing terkoreksi di kisaran 10 persenan.

Namun, penurunan harga yang dalam ini justru dilihat sebagai peluang emas oleh kalangan manajer investasi. Valuasi yang murah meriah dan potensi pemulihan ekonomi di tahun 2026 menjadi alasan kuat bagi institusi untuk mulai melirik kembali saham-saham papan atas tersebut.

Berikut adalah 4 analisis utama mengenai peluang kebangkitan saham blue chip di tahun 2026 menurut pandangan Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) dan Panin Asset Management.

1. Valuasi Setara Era Pandemi

Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai valuasi saham blue chip saat ini sudah sangat menarik. Chief Investment Officer Equity MAMI, Samuel Kesuma, menyebut level harganya setara dengan periode krisis pandemi Covid-19, memberikan diskon besar bagi investor jangka panjang.

Sejumlah konstituen indeks IDX30 kini diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba atau Price to Earnings Ratio(PER) di bawah 10 kali. Kondisi ini dianggap sebagai anomali yang jarang terjadi pada saham-saham berfundamental kuat dan berkapitalisasi pasar besar.

Harga murah ini menjadi titik masuk strategis sebelum sentimen pasar berbalik arah. Samuel optimis kinerja tahun depan akan jauh lebih baik dibandingkan tahun ini. "Valuasinya setara dengan periode pandemi Covid-19, dengan sejumlah konstituen IDX30 memiliki rasio PE di bawah 10 kali," jelas Samuel.

2. Tiga Katalis Pendorong Rebound

Samuel memaparkan tiga katalis utama yang berpeluang mendorong penguatan saham blue chip. Pertama adalah ekspektasi pertumbuhan ekonomi nasional yang membaik, yang akan berdampak positif terhadap pertumbuhan laba emiten-emiten besar yang menjadi tulang punggung bursa.

Kedua adalah valuasi yang murah, dan ketiga adalah potensi kembalinya arus dana asing. Pasar negara berkembang seperti Indonesia berpeluang kembali dilirik investor global yang melakukan diversifikasi portofolio, terutama jika pasar mulai jenuh dengan sektor teknologi di negara maju.

Sektor finansial, konsumer, dan material menjadi sorotan utama untuk diakumulasi. Ketiga sektor ini dinilai paling siap menyambut pemulihan ekonomi domestik. "Ketika prospek pertumbuhan ekonomi membaik dan minat investor asing kembali meningkat, saham blue chip akan menjadi pilihan utama," kata Samuel.

3. Kesenjangan Kinerja Pasar

Tahun 2025 memang mencatatkan kesenjangan kinerja yang lebar. Indeks LQ45 hanya naik tipis 3,03% hingga pertengahan Desember, kalah telak dari kinerja SMC Composite yang terbang 49,73%. Hal ini memaksa manajer investasi mengatur ulang komposisi portofolio agar tidak tertinggal.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menilai tertahannya kinerja blue chip dipengaruhi oleh melemahnya fundamental emiten besar. Namun, saham perbankan tetap dipertahankan dalam portofolio reksa dana mereka, meski harus dikombinasikan dengan saham-saham lain untuk menjaga performa.

Strategi campuran menjadi kunci bertahan di tengah rotasi sektor ini. Ketergantungan penuh pada blue chip memang terasa berat sepanjang tahun ini. "Saham perbankan tetap dalam portofolio, namun perlu digabungkan dengan saham-saham lain agar tidak terlalu jauh dari kinerja pasar," ujar Rudiyanto.

4. Waspada Risiko Kebijakan

Meski optimisme membuncah, risiko investasi tahun 2026 tetap mengintai. Tantangan utama datang dari ketidakmampuan emiten mencetak pertumbuhan laba yang konsisten serta kebijakan pemerintah domestik yang terkadang dinilai kurang ramah terhadap iklim dunia usaha.

Faktor eksternal juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Dinamika geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat, seperti isu tarif dagang di era kepemimpinan baru, masih berpotensi mengguncang stabilitas pasar saham negara berkembang seperti Indonesia sewaktu-waktu.

Sejarah mencatat volatilitas tinggi saat pengumuman kebijakan global, seperti kejadian April 2025 lalu saat IHSG tertekan isu tarif. Investor wajib tetap waspada terhadap sentimen makro. "Risiko kebijakan pemerintah yang dinilai kurang ramah terhadap dunia usaha," ingat Rudiyanto.