Tren Pasar

Saham BBCA Undervalued, Mengapa Manajemen Belum Melanjutkan Buyback?

  • Tanpa buyback, apakah saham BBCA yang dinilai undervalued mampu kembali ke level puncaknya?
BCA Wealth Summit - Panji 2.jpg
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, Direktur BCA Haryanto T. Budiman, EVP Wealth management BCA Indrawan B saat konferensi pers jelang BCA Wealth Summit di Jakarta, Rabu 10 September 2025. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akhirnya menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Setelah berbulan-bulan berada di bawah tekanan, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini berhasil rebound dan pada perdagangan hari ini, Jumat, 12 September 2025, bergerak menguat 0,32% ke level Rp7.875.

Namun, di tengah sinyal pemulihan ini, manajemen BBCA justru mengambil langkah yang mengejutkan. Mereka menegaskan belum memiliki rencana untuk kembali melakukan aksi pembelian kembali saham atau buyback, sebuah langkah yang biasanya diandalkan untuk menopang harga di saat sedang tertekan.

Keputusan yang terkesan dingin ini sangat kontras dengan pandangan analis yang justru melihat ini sebagai peluang. Lantas, kenapa ada perbedaan pandangan yang tajam antara manajemen dan analis? Mari kita bedah tuntas.

1. Sinyal dari Petinggi: Biarkan Pasar yang Bekerja

Sinyal ini datang langsung dari SVP Investor Relations BCA, Rudy Budiardjo. Dalam acara Public Expose Live 2025 kemarin, ia secara tegas menyatakan bahwa untuk saat ini, perseroan belum memiliki rencana untuk kembali melakukan buyback saham.

Alasannya sederhana: harga saham BBCA dinilai sudah mulai pulih. Manajemen melihat rebound yang terjadi sebagai sinyal bahwa pasar sudah kembali percaya pada fundamental perusahaan, sehingga tidak perlu lagi ada intervensi dari pihak internal.

"Cuma kalau kita lihat juga hari ini (saham BBCA) agak rebound jadi kita lihat. Tapi pada saat ini, kita belum memiliki rencana untuk melakukan share buyback lagi, kita serahkan kepada pasar," tegas Rudy dalan publik expose pada Kamis, 11 September 2025. 

2. Kilas Balik Aksi Buyback Rp1 Triliun Sebelumnya

Keputusan untuk tidak melakukan buyback saat ini menjadi semakin menarik jika kita melihat kembali aksi korporasi sebelumnya. Pada periode Maret hingga Mei 2025, BBCA sebenarnya telah menggelar program buyback jumbo senilai Rp1 triliun.

Aksi tersebut bahkan diakhiri lebih cepat dari jadwal. Manajemen saat itu menilai bahwa kondisi pasar modal dan harga saham perseroan telah relatif stabil, sehingga program intervensi tidak perlu dilanjutkan hingga batas akhir.

Langkah penghentian lebih awal ini menunjukkan bahwa manajemen hanya menggunakan instrumen buyback saat benar-benar dibutuhkan. Hal ini memperkuat sinyal bahwa keputusan untuk tidak buyback saat ini didasari oleh keyakinan pada kekuatan pasar.

3. Siap Rebound Setelah Anjlok 20%

Meskipun berhasil rebound dalam beberapa hari terakhir, penting untuk melihat gambaran besarnya. Secara year to date, saham BBCA sebenarnya telah melemah sekitar 20 persen dari titik tertingginya di level Rp9.900 per saham pada bulan Januari lalu.

Pelemahan yang signifikan inilah yang membuat banyak investor bertanya-tanya mengapa manajemen tidak kembali melakukan buyback untuk menopang harga, terutama karena di mata analis, valuasinya kini sudah tergolong murah dan menarik.

Keputusan manajemen untuk tidak melakukan intervensi di tengah kondisi ini adalah sebuah pertaruhan yang sangat berani. Langkah ini seolah didasari oleh keyakinan yang sangat tinggi terhadap kekuatan fundamental bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

4. Pandangan Analis: Justru Ini Saatnya Beli!

Di sinilah letak perbedaan pandangannya. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, justru menilai saham BBCA saat ini berada di posisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya, sehingga menjadi momentum yang tepat.

Menurutnya, dengan fundamental yang kuat, aksi buyback justru bisa menjadi langkah strategis agar harga saham kembali mencerminkan nilai fundamentalnya. Ia bahkan menyarankan agar BBCA mempertimbangkan langkah tersebut untuk memperkuat sentimen.

Nafan menambahkan, katalis positif bagi BBCA juga datang dari gebrakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. "Jadi, menurut saya setidaknya BBCA mendapatkan katalis positif dari dinamika liquidity injection-nya Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa," jelasnya.

5. Apa Artinya Ini Bagi Investor?

Bagi investor, perbedaan pandangan ini menyajikan sebuah dilema yang menarik. Di satu sisi, ada manajemen yang percaya diri bahwa fundamentalnya cukup kuat untuk menopang harga secara alami tanpa perlu adanya intervensi.

Namun di sisi lain, ada analis yang melihat valuasi saat ini sebagai peluang undervalued yang sangat menarik. Nafan bahkan berani memproyeksikan bahwa secara teknikal, target harga jangka panjang BBCA seharusnya bisa menembus lima digit.

Pada akhirnya, keputusan kembali ke tangan investor. Apakah Anda lebih percaya pada sinyal 'lepas tangan' dari manajemen, atau justru melihat ini sebagai momentum buy on weakness seperti yang disarankan oleh para analis?