Tren Pasar

Saat IHSG Goyang, 3 Saham Ini Siap Ngebut: BBRI, AADI, ADRO

  • Di tengah tekanan pasar, analis merekomendasikan BBRI, AADI, dan ADRO sebagai peluang trading dengan potensi breakout dan rebound.
Gedung Adaro .jpg
Gedung Adaro Energy di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Tim Analis Bareksa merekomendasikan tiga saham untuk dicermati pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang ditutup lebih tinggi meski tekanan eksternal masih membayangi.

Untuk BBRI, analis memberikan rekomendasi trading buy dengan harga terakhir Rp3.950 atau turun 0,5%. Area entry berada di kisaran Rp3.920–Rp3.950 dengan target Rp4.050 dan batas stop loss di Rp3.850. Strategi ini memanfaatkan potensi technical rebound dalam jangka pendek.

Sementara itu, AADI direkomendasikan buy on breakout. Saham ini terakhir berada di level Rp9.250 atau naik 0,27%. Investor disarankan masuk jika harga menembus Rp9.350 dengan target Rp9.800 dan stop loss di Rp8.880. Pendekatan ini menunggu konfirmasi penguatan sebelum akumulasi.

Adapun ADRO juga menarik dengan strategi buy on breakout. Harga terakhir tercatat Rp2.320 atau melemah 2,11%. Pembelian disarankan jika harga menembus Rp2.430 dengan target Rp2.570 dan stop loss Rp2.270. Saham ini dinilai cocok untuk strategi berbasis momentum.

Tabel Rekomendasi Saham Hari Ini

Stock Pick (Rp)
 
BBRI
 
AADI
 
ADRO
 
Last Price3.9509.2502.320
RecommendationTrading BuyBuy on BreakoutBuy on Breakout
Entry Range3.920-3.9509.3502.430
Take Profit (TP)4.0509.8002.570
Stop Loss3.8508.8802.270

Sumber: Tim Analis Bareksa, last price per 26/2/2026

Sorotan Pasar

Pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, IHSG terkoreksi 1,04% ke level 8.235. Meski demikian, riset Ciptadana Sekuritas Asia mencatat investor asing masih membukukan beli bersih sekitar Rp340 miliar.

Tekanan terbesar datang dari sektor Transportasi & Logistik yang turun 4,54%, diikuti Konsumer Siklikal (-2,59%) dan Infrastruktur (-2,41%). Beberapa saham pemberat indeks antara lain IMPC yang turun 9,01% ke 2.020, MDKA melemah 4,71% ke 3.640, serta BRPT terkoreksi 3,47% ke 1.950. Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat 30 poin ke level Rp16.755 per dolar AS.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support 8.140 dan resistance 8.373, dengan peluang penutupan di zona hijau pada perdagangan hari ini.

Dari sisi eksternal, S&P Global Ratings mengingatkan potensi risiko terhadap profil kredit Indonesia akibat meningkatnya beban pembayaran bunga utang. Analis S&P, Rain Yin, menyebut rasio pembayaran bunga pemerintah kemungkinan telah melampaui ambang batas 15% dari total penerimaan negara pada tahun lalu.

Level tersebut selama ini menjadi tolok ukur kehati-hatian fiskal. Jika rasio bertahan di atas 15% secara berkelanjutan, lembaga pemeringkat berpotensi merevisi outlook menjadi lebih negatif.

Analis Ciptadana menilai pemerintah perlu mempercepat reformasi pajak untuk meningkatkan rasio penerimaan. Selain itu, ketergantungan pada penerimaan berbasis komoditas dinilai perlu dikurangi guna meredam risiko fluktuasi harga global.

Sentimen peringatan fiskal masih membayangi pasar. Namun, peluang trading tetap terbuka dengan pendekatan selektif. BBRI dinilai menarik untuk strategi jangka pendek, sedangkan AADI dan ADRO layak dipantau jika terjadi breakout. Disiplin pada target harga dan stop loss menjadi kunci menjaga risiko.