Tren Pasar

Saat IHSG Dipaksa Tenggak Pil Pahit Dosis Tinggi

  • Goldman Sachs dan UBS kompak menurunkan rating saham Indonesia. Pukulan anyar usai peringatan MSCI. Jadi masalah baru atau berkah terselubung bagi IHSG?
<p>Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (6/4/2020), dibuka dan ditutup menguat yang didorong naiknya bursa saham Asia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz</p>

Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (6/4/2020), dibuka dan ditutup menguat yang didorong naiknya bursa saham Asia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mendapat guncangan usai peringatan soal transparansi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Kali ini Goldman Sachs Group Inc. dan UBS kompak menurunkan peringkat saham Indonesia. Hal tersebut berpotensi memicu arus dana keluar mencapai ratusan triliun rupiah.  

Meski demikian, rentetan “hukuman” tersebut dinilai bakal menjadi pil pahit yang menyehatkan bagi bursa Indonesia. Sebagai informasi, Goldman Sachs baru saja men-down grade saham Indonesia menjadi underweight. 

Lembaga keuangan global tersebut juga mewanti-wanti potensi capital outflow lebih dari US$13 miliar atau sekitar Rp218,2 triliun usai MSCI mempertanyakan kelayakan investasi di RI.

Arus dana keluar bisa makin deras jika IHSG akhirnya diturunkan statusnya dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Perkiraan, akan ada dana keluar mencapai US$7,8 miliar jika IHSG disetarakan dengan indeks saham negara berkembang seperti Vietnam dan Kenya. 

Arus keluar tambahan sebesar RpUS$5,6 miliar juga bisa terjadi bila FTSE Russell mengkaji ulang status dan metodologi free-float di IHSG. Analis Goldman Sachs memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut. “Perkembangan dewasa ini bisa menjadi kendala yang menghambat kinerja pasar,” tulis analis dalam laporannya, dikutip dari Bloomberg, Kamis 29 Januari 2026.

Selain Goldman Sachs, UBS AG ikut menurun peringkat IHSG menjadi netral. Analis UBS menilai tekanan pasar kemungkinan akan terus berlanjut. “Sampai kita mendapat kejelasan tentang peraturan dan penilaian ulang MSCI,” tulis analis UBS, termasuk Sunil Tirumalai, dalam laporannya. 

Selain itu, UBS menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah, salah satunya pencabutan izin perusahaan. UBS menyebut ada risiko regulasi usai Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan 28 perusahaan dengan izin usaha yang dicabut dapat dijalankan oleh Danantara. 

Pasar modal Indonesia diketahui mengalami guncangan serius setelah IHSG kembali ambruk lebih dari 7% pada pembukaan perdagangan, Kamis, 29 Januari, 2025. Padahal Rabu, 28 Januari 2025 IHSG sudah anjlok di kisaran 8%. Kondisi tersebut mencerminkan kejatuhan tajam yang langsung memicu kepanikan massal di kalangan investor. 

Tekanan jual yang sangat besar membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung menerapkan trading halt pasca pembukaan pasar, menandai betapa ekstremnya kondisi pasar pada sesi tersebut. 

Hal ini tak lepas dari peninjauan dan rebalancing indeks global MSCI. Keputusan tersebut memicu aksi jual dari investor institusi dan asing, yang kemudian memperparah panic selling di pasar domestik.

Jadi Momentum Perbaikan

MSCI sendiri memberi peringatan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi ancaman serius. Hal itu setelah MSCI mengungkap IHSG berpotensi turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika problem transparansi tak segera dibereskan. Penurunan kelas berpotensi memicu capital outflow lantaran berkurangnya kepercayaan investor asing.

Peringatan itu muncul setelah MSCI menilai perbaikan data free float yang dilakukan Bursa Efek Indonesia belum cukup memuaskan standar global. Investor asing menuntut transparansi lebih tinggi terkait struktur kepemilikan saham publik yang selama ini dinilai masih abu-abu dan membingungkan.

Di sisi lain, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menilai deretan peringatan dari lembaga penilai asing dapat menjadi momentum pembenahan bursa dalam negeri. 

Baca Juga: IHSG Anjlok Dalam: Ketika Pasar Digerakkan Ketakutan

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan catatan yang diberikan MSCI kepada IHSG sudah benar. “Sudah pas dan tepat, saya serahkan kembali ke regulator,” ujarnya dalam acara Navigating Indonesia’s Next Chapter di Jakarta, Kamis.

Pandu menilai pengumuman MSCI ihwal perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik (free float) dapat menyehatkan kembali pasar modal Indonesia. Menurut dia, regulator perlu memperkuat komunikasi dengan pemangku kepentingan agar pelaku pasar memahami arah kebijakan selanjutnya. Pandu mengingatkan pasar modal adalah cerminan tercepat dari kepercayaan terhadap perekonomian.