Rupiah Rebound ke Rp17.920, Pasar Masih Waspadai The Fed
- Rupiah menguat 61 poin ke Rp17.920 pada 30 September 2026 setelah tembus Rp18.000. Pasar masih waspadai kenaikan suku bunga The Fed.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu 30 September 2026. Mengacu data Bloomberg pada pukul 09.08 WIB, rupiah naik 61 poin atau 0,34% ke level Rp17.920 per dolar AS.
Penguatan tersebut menjadi rebound setelah rupiah tertekan pada perdagangan Selasa 29 September 2026. Rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS sebelum ditutup di Rp17.960.
Pergerakan mata uang kawasan Asia juga cenderung beragam. Di ASEAN, ringgit Malaysia menguat 0,12%, sementara baht Thailand melemah 0,07% dan peso Filipina turun 0,08%.
Di Asia Pasifik, yen Jepang melemah 0,35% dan yuan China turun 0,04%. Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 0,45%.
Rupiah Rebound Setelah Tekanan Strong Dollar
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Selasa dipengaruhi tren penguatan dolar AS.
Menurut Ibrahim, harga minyak mentah dunia dan ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi sejumlah faktor yang mendorong penguatan dolar.
“Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir,” kata Ibrahim, Selasa.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pasar dalam membaca kemungkinan arah kebijakan moneter The Fed.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Oktober 70%
Ekspektasi kenaikan suku bunga AS kembali menjadi perhatian menjelang pertemuan The Fed pada Oktober.
Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip dalam bahan tersebut, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober diperkirakan mencapai 70%.
Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish pada pekan sebelumnya.
Jika suku bunga AS kembali naik, daya tarik aset berdenominasi dolar berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat mendorong permintaan terhadap dolar dan kembali memberikan tekanan terhadap rupiah.
BI Juga Waspadai Arah The Fed
Potensi kenaikan suku bunga The Fed sebelumnya juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Senin 28 September 2026, Destry menyebut terdapat kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu belum serta-merta menghilangkan tekanan eksternal. Pasar masih perlu mencermati arah kebijakan The Fed, perkembangan harga minyak, serta pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan ke depan.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Penguatan rupiah dapat mengurangi tekanan biaya untuk barang dan bahan baku yang dibeli menggunakan dolar AS, meski dampaknya tidak otomatis langsung terasa pada harga konsumen.
Sebaliknya, apabila rupiah kembali melemah dan harga minyak tetap tinggi, biaya impor energi maupun bahan baku dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap harga barang dan jasa.
Yang Perlu Dipantau Investor
Investor perlu mencermati perubahan ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed pada Oktober. Data ekonomi AS, pernyataan pejabat The Fed, harga minyak, dan pergerakan dolar akan menjadi sejumlah katalis utama.
Di dalam negeri, kebijakan stabilisasi BI dan perkembangan arus modal juga penting untuk melihat apakah rebound rupiah dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan eksternal.

Chrisna Chanis Cara
Editor
