Tren Pasar

Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini

  • Rupiah melemah ke Rp17.977 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Dolar AS nyaris menyentuh Rp18.000, apa dampaknya bagi masyarakat?
Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.webp
Dollar US (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2021/03/Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.jpg)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Jumat, 26 Juni 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.977 per dolar AS, turun 34 poin atau 0,19% dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.943 per dolar AS.

Dalam perdagangan pagi, tekanan terhadap rupiah bahkan sempat membawa kurs mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, dengan sejumlah data pasar menunjukkan pergerakan di kisaran Rp17.988–Rp17.995 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang juga bergerak melemah terhadap greenback. Won Korea Selatan menjadi salah satu yang terkoreksi paling dalam dengan pelemahan 0,35%, diikuti baht Thailand dan dolar Singapura. Sementara ringgit Malaysia dan peso Filipina masih mampu mencatat penguatan tipis.

Tekanan terhadap rupiah datang dari sentimen eksternal yang kembali menguat. Dolar AS mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Kondisi ini membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang dinilai lebih aman. Selain faktor suku bunga, pelaku pasar juga mencermati inflasi AS, yield obligasi Treasury, serta dinamika geopolitik global.

Lalu, apakah pelemahan rupiah kali ini perlu dikhawatirkan?

Untuk saat ini, pelemahan masih tergolong moderat. Namun level Rp18.000 per dolar AS menjadi batas psikologis penting. Jika rupiah menembus level tersebut dan bertahan dalam beberapa sesi perdagangan, tekanan terhadap biaya impor dan inflasi domestik berpotensi meningkat.

Bagi masyarakat, dampak pelemahan rupiah paling cepat terasa pada harga barang impor seperti smartphone, laptop, hingga komponen otomotif. Selain itu, biaya perjalanan luar negeri, biaya pendidikan internasional, dan kewajiban pembayaran berbasis dolar juga bisa menjadi lebih mahal.

Bagi investor retail, ada tiga hal yang layak dipantau dalam waktu dekat: pergerakan indeks dolar AS (DXY), arah kebijakan The Fed, dan langkah stabilisasi dari Bank Indonesia. Jika ketiganya membaik, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.