Tren Pasar

Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Gubernur BI dan Inflasi AS

  • Rupiah melemah 40 poin ke Rp17.795 per dolar AS. Simak pengaruh IKK, calon Gubernur BI, dan data inflasi AS terhadap rupiah.
Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.webp
Dollar US (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2021/03/Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.jpg)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 40 poin atau 0,23% ke level Rp17.795 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.755 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah mencatat penguatan cukup signifikan pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Rupiah ditutup menguat 142 poin atau 0,79% dari Rp17.897 menjadi Rp17.755 per dolar AS.

Salah satu sentimen yang sebelumnya menopang rupiah berasal dari kondisi konsumen domestik yang masih berada dalam zona optimistis. 

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih menunjukkan konsumen Indonesia memiliki pandangan positif terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinan terus menurun dalam tiga bulan terakhir.

Bank Indonesia mencatat IKK Juli 2026 turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni 2026. Penurunan tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun.

Meski turun, posisi IKK masih berada di atas level 100. Artinya, konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi. Namun, tren penurunan selama tiga bulan berturut-turut menunjukkan rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan belanja.

Jika penurunan IKK berlanjut, daya dorong konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi ikut melemah. Masyarakat dapat menjadi lebih selektif dalam mengalokasikan pendapatan di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir," ujar Ibrahim, dikutip dari Antara.

Kepastian Calon Gubernur BI Jadi Sentimen Baru

Selain kondisi konsumsi domestik, pasar juga mencermati proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia. Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif kepada DPR RI.

Pengajuan tersebut menjadi perkembangan penting bagi pasar setelah Destry sebelumnya menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI. 

Kepastian mengenai calon gubernur definitif dapat membantu mengurangi ketidakpastian investor terhadap arah kebijakan bank sentral, khususnya dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Di pasar global, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini berada di sekitar 42%, turun dari sekitar 67% sepekan sebelumnya.

Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi sentimen yang berpotensi mendukung mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena dapat mengurangi tekanan dari dolar AS.

CPI AS Jadi Katalis Berikutnya

Pasar kini menunggu data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Juli yang dijadwalkan dirilis Rabu, 12 Agustus 2026.

Ekonom memperkirakan inflasi AS turun tipis menjadi 3,4% secara tahunan, dari 3,5% pada bulan sebelumnya. Sementara inflasi inti diproyeksikan turun menjadi 2,5%, dari 2,6%.

Data tersebut penting karena akan menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed. Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin terbuka dan berpotensi menekan dolar AS.

Sebaliknya, inflasi yang kembali tinggi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama dan memberikan tekanan terhadap rupiah.

Apa Artinya Bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah ke Rp17.795 per dolar AS masih relatif terbatas setelah penguatan cukup besar pada perdagangan sebelumnya. Dengan posisi rupiah yang masih berada di bawah Rp18.000, tekanan terhadap biaya impor juga belum kembali ke level yang mengkhawatirkan.

Bagi masyarakat, arah rupiah tetap penting karena pergerakan kurs dapat memengaruhi harga barang impor, elektronik, biaya perjalanan luar negeri, hingga produk yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Namun, untuk saat ini, faktor yang lebih penting justru adalah arah inflasi AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Jika CPI AS melandai sesuai perkiraan, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali mereda.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor akan mencermati tiga katalis utama pekan ini, yakni rilis CPI AS, perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed, serta proses pengajuan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif.

Pergerakan ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah pelemahan rupiah hari ini hanya merupakan koreksi setelah penguatan besar pada Senin atau menjadi awal tekanan baru terhadap mata uang Garuda.