Tren Pasar

Rupiah Melemah Lagi, Pasar Cerna BI Rate Baru

  • Rupiah melemah ke Rp17.917 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Simak pengaruh keputusan BI, prospek suku bunga The Fed, dan dampaknya bagi masyarakat.
indonesian-rupiah-money-background_126740-49.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah ke level Rp17.917 per dolar AS setelah dolar AS menguat 29 poin atau 0,16% terhadap mata uang Garuda.

Tekanan tersebut melanjutkan pelemahan yang terjadi pada penutupan perdagangan Rabu, 22 Juli 2026. Saat itu, rupiah ditutup turun 29 poin atau 0,16% ke level Rp17.888 per dolar AS, mencerminkan masih kuatnya sentimen eksternal yang menopang dolar AS.

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Teluk Persia yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global. Kenaikan risiko geopolitik mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga memunculkan kekhawatiran tekanan inflasi kembali meningkat.

Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Jika inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. 

Prospek itu menjadi salah satu faktor yang menjaga penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diumumkan sehari sebelumnya. 

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, sekaligus menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan tersebut menunjukkan Bank Indonesia masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah ketidakpastian global. Dengan mempertahankan suku bunga acuan, bank sentral berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Apa artinya bagi masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor apabila berlangsung dalam periode yang lebih panjang. Dampaknya berpotensi dirasakan pada harga bahan baku industri, produk elektronik, hingga sejumlah komoditas yang diperdagangkan menggunakan dolar AS.

Namun, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate memberikan sinyal bahwa otoritas moneter masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.

Bagi investor, perhatian kini tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta efektivitas langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah rupiah dalam beberapa hari ke depan.