Rupiah Kembali Melemah, Harga Minyak jadi Beban
- Rupiah melemah ke Rp17.654 per dolar AS pada Senin, 7 September 2026, di tengah kenaikan harga minyak dan ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin, 7 September 2026. Rupiah dibuka melemah sekitar 0,1 persen ke level Rp17.654 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah terjadi ketika harga minyak dunia kembali meningkat. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia karena kenaikan harga minyak dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk membayar impor energi.
Harga minyak Brent tercatat naik 0,36 persen ke sekitar US$96,63 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$92,09 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Pasar mengkhawatirkan konflik tersebut dapat mengganggu jalur perdagangan dan pasokan minyak global.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi penting karena kebutuhan minyak dalam negeri masih sebagian dipenuhi melalui impor. Ketika harga minyak dunia meningkat, nilai impor energi ikut berpotensi membesar.
Kenaikan nilai impor berarti kebutuhan dolar AS untuk melakukan pembayaran kepada pemasok luar negeri juga meningkat. Permintaan dolar yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada awal pekan tidak hanya dipengaruhi sentimen terhadap dolar AS, tetapi juga oleh perkembangan harga komoditas energi dan risiko geopolitik global.
Menunggu Sinyal The Fed
Selain harga minyak, investor masih mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Data ketenagakerjaan AS menunjukkan tambahan sekitar 162 ribu lapangan kerja pada Agustus 2026. Data tersebut menjadi perhatian karena pasar perlu menilai apakah kondisi ekonomi AS masih cukup kuat untuk membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat.
Pasar selanjutnya akan mengarahkan perhatian pada data inflasi AS yang dijadwalkan dirilis pada 11 September 2026.
Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi investor untuk melihat apakah tekanan inflasi di AS terus mereda atau justru kembali meningkat.
Apabila inflasi kembali menunjukkan kenaikan, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama dapat menguat.
Skenario tersebut berpotensi kembali menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Imbal hasil aset berbasis dolar AS yang relatif menarik dapat mendorong investor mengalihkan sebagian dana ke aset berdenominasi dolar.
Sebaliknya, apabila inflasi AS melandai dan memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah bersamaan dengan kenaikan harga minyak menjadi kombinasi yang perlu diperhatikan masyarakat.
Dari sisi energi, harga minyak dunia yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya impor bahan bakar dan energi. Dampaknya dapat merembet ke biaya transportasi dan distribusi barang apabila berlangsung dalam waktu panjang.
Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya sejumlah barang dan bahan baku impor. Tekanan tersebut terutama perlu diperhatikan pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen dari luar negeri.
Namun, dampak terhadap harga konsumen tidak selalu terjadi secara langsung. Besarnya pengaruh akan bergantung pada durasi kenaikan harga minyak, pergerakan rupiah, kebijakan harga energi domestik, serta kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya.
Yang Perlu Dipantau Investor
Investor akan mencermati tiga faktor utama pada pekan ini: harga minyak, perkembangan Selat Hormuz, dan data inflasi AS.
Harga Brent yang mendekati US$100 per barel menjadi level psikologis penting. Jika kenaikan berlanjut, tekanan terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia dapat semakin besar.
Perkembangan konflik AS-Iran juga menjadi faktor kunci. Setiap indikasi gangguan terhadap lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz berpotensi meningkatkan kembali harga energi dan permintaan terhadap dolar AS.
Sementara itu, data inflasi AS pada 11 September akan menjadi penentu penting arah ekspektasi suku bunga The Fed.
Kombinasi harga minyak tinggi dan ekspektasi suku bunga AS yang lebih ketat menjadi risiko yang perlu diwaspadai rupiah. Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik dan inflasi AS yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.

Chrisna Chanis Cara
Editor
