Rotasi Asing di Saham Bank: BBCA Dilepas, BBRI dan BMRI Justru Ditampung
- Investor asing terlihat pilih kasih di saham bank. BBCA dilepas disinyalir karena rumor, sementara BBRI dan BMRI justru ramai diborong.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Sepanjang pekan lalu, 19-22 Agustus, menjadi panggung bagi investor terhadap saham-saham big banks. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis, data transaksi justru menunjukkan adanya aliran dana asing yang sangat kontras.
Di satu sisi, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menunjukkan profitabilitas apik sepanjang semester I-2025, justru dilepas oleh investor asing. Namun di saat yang sama, dua raksasa lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), malah ditampung dan diakumulasi secara masif.
Fenomena rotasi ini terjadi tepat setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuannya ke level 5%. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar? Mari kita bedah tuntas peta aliran dana asing pada saham big banks pekan lalu.
1. Rotasi Saham Big Banks
Data Stockbit, periode 16 hingga 22 Agustus 2025, menunjukkan adanya sinyal rotasi yang sangat jelas. Investor asing terlihat memindahkan dananya dari satu saham bank besar ke saham bank besar lainnya.
Dua bank BUMN menjadi primadona baru bagi investor asing. Saham BBRI menjadi yang paling banyak diborong dengan nilai beli bersih fantastis mencapai Rp560 miliar, sementara BMRI juga diakumulasi secara masif dengan net buy asing sebesar Rp455 miliar.
Aksi tampung masif di kedua saham ini menunjukkan kepercayaan tinggi investor asing terhadap prospek kedua bank BUMN tersebut, menjadikannya target utama akumulasi di tengah kondisi pasar yang sedang berkonsolidasi.
2. Sinyalir Asing Lepas BBCA
Di saat BBRI dan BMRI diborong, nasib berbeda dialami oleh BBCA. Saham ini justru tercatat mengalami jual bersih (net sell) oleh investor asing sebesar Rp221 miliar, membuat harganya parkir di level Rp8.450.
Pemicu utama dari aksi jual ini disinyalir adalah merebaknya sentimen negatif dari wacana pengambilalihan saham BBCA oleh pemerintah. Isu sensitif ini menciptakan ketidakpastian dan mendorong investor asing untuk merealisasikan keuntungan dan keluar sementara waktu.
Meskipun nilai pembelian asing di BBCA sangat tinggi mencapai Rp2,02 triliun, nilai penjualannya yang mencapai Rp2,24 triliun mengindikasikan adanya aksi ambil untung yang lebih besar, dipicu oleh sentimen negatif tersebut.
3. Bagaimana Nasib BBNI?
Di tengah pergerakan kontras tiga raksasa, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menunjukkan pergerakan yang lebih netral. Asing tercatat masih melakukan pembelian bersih, namun nilainya relatif kecil, yaitu hanya Rp58,5 miliar dalam sepekan.
Aliran dana yang tidak signifikan ini membuat harga saham BBNI cenderung bergerak sideways dan ditutup menguat tipis +0,46% ke level Rp4.390. Ini menunjukkan BBNI belum menjadi fokus utama akumulasi asing seperti halnya BBRI dan BMRI.
Meskipun begitu, sentimen yang cenderung positif ini menjaga BBNI dari tekanan jual. Kondisinya yang tidak mengalami net sell seperti BBCA menjadi catatan menarik, menandakan investor asing masih memilih untuk menahan posisi mereka di saham ini.
4. Data Pasar Keseluruhan
Rotasi di saham perbankan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang sedang berkonsolidasi. Setelah reli panjang sebelumnya, IHSG pekan lalu ditutup melemah tipis -0,50% ke level 7.858,85, dengan kapitalisasi pasar yang juga ikut turun.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resminya pada Sabtu, 23 Agustus 2025, menyebutkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian justru turun 15,95%. Ini menunjukkan adanya sedikit perlambatan energi di pasar secara keseluruhan.
Namun, Kautsar juga menyoroti lonjakan pada volume dan frekuensi transaksi harian. “Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian Bursa pekan ini,” kata Kautsar, mengindikasikan aktivitas tinggi di saham non-unggulan.
5. Analisa Teknikal Phintraco Sekuritas
Pelemahan IHSG sepekan terakhir sejalan dengan pandangan teknikal dari Tim Riset Phintraco Sekuritas. Mereka melihat adanya potensi koreksi lanjutan, terutama karena pelemahan yang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi motor penggerak indeks.
Secara teknikal, mereka melihat adanya sinyal pelemahan dari beberapa indikator. Terjadi penyempitan pada garis MACD yang berpotensi membentuk Death Cross, sementara indikator Stochastic RSI juga masih menunjukkan tren pelemahan yang disertai peningkatan volume jual.
Oleh karena itu, mereka memperkirakan IHSG berpotensi menguji level support kuatnya di rentang 7800-7850 pada pekan depan. Di tengah potensi koreksi ini, mereka menyarankan investor untuk memperhatikan saham-saham alternatif seperti NCKL, AUTO, TOBA, MEDC, dan PGAS.

Alvin Bagaskara
Editor
