Tren Pasar

Review IHSG 2025: Dari 5.996 Langsung To The Moon!

  • Sepanjang 2025, IHSG mencetak rekor All Time High (ATH) sebanyak 24 kali dan market cap tembus Rp16.000 triliun, meski sempat jatuh ke 5.996.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 4.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja historis yang sangat gemilang sepanjang tahun perdagangan 2025 ini. Otoritas bursa mencatat bahwa indeks acuan saham nasional tersebut berhasil memecahkan rekor tertinggi atau all time high sebanyak 24 kali. Pencapaian ini terjadi di tengah dinamika tantangan ekonomi global.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman mengungkapkan rekor tersebut dalam konferensi pers penutupan perdagangan bursa di Jakarta hari ini. Ia menghitung secara spesifik bahwa indeks mencetak sejarah baru secara terus-menerus sepanjang tahun meski sempat terpuruk di awal. "Setahun ini 24 kali all time high," ujar Iman pada Selasa, 30 Desember 2025.

Prestasi gemilang ini tidak diraih dengan mudah karena pasar sempat mengalami tekanan berat pada paruh pertama tahun 2025. Namun sinergi antar regulator dan sentimen positif di semester kedua berhasil membalikkan keadaan secara signifikan. Kapitalisasi pasar juga sukses menembus rekor baru tahun ini.

1. Sempat Sentuh Titik Nadir

Pada paruh pertama tahun 2025 IHSG harus menghadapi tekanan yang sangat berat akibat dinamika global dan ketidakpastian geopolitik. Pergerakan indeks saham mengalami pelemahan yang cukup signifikan hingga membuat khawatir para pelaku pasar modal domestik. Indeks bahkan sempat menyentuh level psikologis terendah.

Tekanan jual yang masif membuat indeks acuan terperosok hingga ke level 5.996 pada periode semester pertama perdagangan tahun ini. Kondisi fundamental makroekonomi global yang tidak menentu menjadi pemberat utama bagi laju bursa saham dalam negeri. "Indeks kita turun bahkan sampai kondisi terendah di 5.996," ucap Iman.

Namun kinerja indeks berhasil bangkit kembali atau rebound pada paruh kedua dengan tren penguatan yang sangat impresif. Momentum pemulihan terjadi setelah berbagai penyesuaian kebijakan dilakukan oleh regulator pasar modal untuk menjaga stabilitas perdagangan. Investor mulai kembali masuk ke pasar saham.

2. Efek Trump dan Geopolitik

Iman Rachman menjelaskan pemicu utama penurunan tajam indeks berasal dari faktor eksternal seperti situasi geopolitik global yang memanas. Salah satu sentimen negatif terbesar muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif dagang resiprokal. Kebijakan ini berdampak langsung pada sentimen pasar.

Selain kebijakan tarif dagang tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut memperparah ketidakpastian bagi investor global maupun domestik. "Dampak langsung pada sentimen pasar dan menekan IHSG," jelasnya.

Ketiga faktor eksternal tersebut menjadi tantangan berat yang harus diantisipasi oleh otoritas bursa sejak awal tahun perdagangan. Volatilitas pasar meningkat tajam seiring dengan respon investor terhadap berita-berita negatif dari luar negeri tersebut. Pasar modal Indonesia sempat mengalami guncangan cukup hebat.

3. Respons Taktis Regulator

Regulator dan otoritas pasar mengambil langkah responsif untuk menjaga stabilitas pasar di tengah berbagai tekanan berat tersebut. Otoritas Jasa Keuangan dan SRO menetapkan kebijakan pembelian kembali saham atau buyback tanpa RUPS untuk menahan laju penurunan. "Dilakukan dialog soliditas dan sinergi dengan stakeholder," terang Iman.

Selain itu otoritas juga menerapkan kebijakan lanjutan seperti penerapan trading halt dan penyesuaian aturan auto rejection bawah. Skema baru ini terbukti efektif dalam memulihkan kepercayaan investor serta menstabilkan volatilitas pasar pada paruh kedua tahun ini. Pasar merespons positif langkah taktis tersebut.

Penyesuaian aturan yang dibuat oleh bursa dan regulator menyebabkan pasar modal Indonesia mampu bangkit kembali dengan cepat. Sinergi kebijakan ini menjadi fondasi kuat bagi pemulihan indeks harga saham gabungan menuju rekor barunya. Investor mengapresiasi langkah cepat tanggap dari para pemangku kepentingan.

4. Rekor ATH dan Market Cap

Memasuki semester kedua kinerja IHSG berbalik menguat dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa secara berulang kali tahun ini. Rekor tertinggi indeks tercatat pada tanggal 8 Desember 2025 ketika indeks sukses menyentuh level 8.711. Pencapaian ini menjadi kado manis akhir tahun.

Sejalan dengan penguatan indeks total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga berhasil mencetak rekor baru yang fantastis. Nilai kapitalisasi pasar atau market cap sukses menembus level psikologis Rp16.000 triliun pada penutupan tahun ini. "Terkait dengan geopolitik ya, terkait dengan penurunan Fed Rate," tambahnya.

Pertumbuhan kapitalisasi pasar ini mencerminkan kedalaman pasar domestik yang semakin baik serta minat investasi yang tinggi. Emiten-emiten berkapitalisasi besar menjadi penopang utama kenaikan nilai pasar bursa saham Indonesia sepanjang tahun 2025. Optimisme pasar modal terlihat sangat kuat di akhir periode.

5. Dukungan Likuiditas Pemerintah

Pemulihan di semester kedua juga didukung oleh tren pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed sebanyak tiga kali. Selain itu pemerintah mengeluarkan kebijakan pro pertumbuhan melalui injeksi likuiditas sebesar Rp200 triliun ke Himbara. Kebijakan ini memperkuat fundamental sektor perbankan nasional.

Dukungan likuiditas juga diberikan kepada Bank Pembangunan Daerah atau BPD untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan di daerah. Sinergi antara kebijakan moneter dan sektor riil menjadi katalis kuat bagi laju indeks harga saham gabungan. "Termasuk injeksi likuiditas di Rp 200 triliun," pungkasnya.

Kolaborasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter global menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pasar saham. Pelaku pasar menyambut baik langkah strategis pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil. Prospek tahun depan dinilai masih cukup menjanjikan.