Rapor 6 Emiten IPO Juli 2026, Siapa Paling Gacor?
- Performa enam emiten IPO Juli 2026 mulai berbeda. Ada yang melonjak lebih dari 100%, ada pula yang kehilangan momentum setelah euforia pencatatan saham.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Enam emiten yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Juli 2026 mulai menunjukkan arah pergerakan yang berbeda-beda. Ada yang langsung melesat lebih dari 100% dari harga penawaran umum perdana (IPO), namun ada pula yang mulai kehilangan tenaga setelah euforia pencatatan saham.
Berdasarkan data perdagangan hingga penutupan sesi I Senin, 13 Juli 2026, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) menjadi emiten dengan performa terbaik.
Sebaliknya, PT Niramas Utama Tbk (JELI) mulai mengalami tekanan jual meski secara kumulatif masih mencatatkan kenaikan signifikan dibanding harga IPO.
Berikut rapor lengkap enam emiten IPO terbaru berdasarkan kinerja harga saham, fundamental, prospek bisnis, hingga faktor risiko yang perlu dicermati investor.
Baca juga : IHSG Dibuka Turun 0,35 Persen, Cek Data Lengkapnya
PRDL Jadi Juara, Saham Sudah Melonjak 126,7%
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) menjadi emiten dengan kinerja harga paling impresif di antara gelombang IPO awal Juli 2026.
Saham PRDL ditawarkan kepada publik pada harga Rp120 per saham dan hingga sesi I perdagangan 13 Juli telah berada di level Rp272, atau melonjak 126,7% dibanding harga penawaran perdana.
Pada perdagangan Senin pagI, 13 Juli 2026, saham ini masih mampu menguat 24,77% dalam satu sesi, menunjukkan minat beli investor yang masih sangat tinggi.
Kenaikan tersebut dinilai tidak hanya didorong oleh sentimen IPO, tetapi juga ditopang oleh prospek fundamental perusahaan. PRDL merupakan produsen alat kesehatan in-vitro diagnostic (IVD) yang berada dalam ekosistem Prodia Widyahusada (PRDA).
Secara valuasi, perusahaan dinilai relatif konservatif dengan Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 10,3–12,3 kali, jauh lebih rendah dibanding sejumlah emiten IPO lain yang melantai pada periode yang sama.
Selain itu, kapitalisasi pasar yang masih relatif kecil dinilai membuka ruang rerating apabila kinerja perusahaan mampu memenuhi ekspektasi pasar.
Dari sisi operasional, pendapatan perusahaan pada 2025 juga meningkat 26,8% menjadi Rp74,4 miliar, memperkuat optimisme terhadap prospek pertumbuhan bisnisnya.
IPO PRDL ditangani oleh PT Sucor Sekuritas, perusahaan efek yang sebelumnya juga menjadi penjamin emisi bagi sejumlah IPO besar seperti GOTO, MBMA, BUKA hingga CYBR.
Dengan kombinasi valuasi yang masih menarik, pertumbuhan bisnis yang positif, dan dukungan ekosistem Prodia, PRDL dinilai menjadi emiten paling cemerlang dari gelombang IPO awal Juli tahun ini.
Baca juga : Hanya 8 Saham yang Naik di Pembukaan LQ45 Hari Ini
RANS Melonjak, Tapi Tak ARA Lagi
PT RANS Entertainment Tbk (RANS) juga menjadi salah satu emiten yang mencuri perhatian pasar.
Saham ini ditawarkan pada harga Rp170 per saham dan langsung menyentuh batas atas auto rejection (ARA) pada hari pertama perdagangan dengan kenaikan 34,12% ke level Rp228.
Momentum tersebut berlanjut pada perdagangan sesi I 13 Juli ketika saham kembali naik 4,39% menjadi Rp238.
Kenaikan harga saham RANS banyak dikaitkan dengan tingginya sentimen pasar terhadap perusahaan yang identik dengan pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Prosesi IPO juga dihadiri sejumlah tokoh bisnis nasional seperti Haji Isam, Boy Thohir, Axton Salim, dan Anindya Bakrie, yang semakin memperkuat perhatian investor terhadap emiten tersebut.
Meski demikian, dari sisi fundamental perusahaan masih terdapat sejumlah tantangan. Pendapatan RANS pada 2025 justru mengalami penurunan 13,91% menjadi Rp353,37 miliar, sementara laba bersih turun lebih dalam yakni 41,6% dibanding tahun sebelumnya.
Dana hasil IPO sebesar Rp429,25 miliar rencananya akan digunakan untuk mendukung berbagai ekspansi, antara lain pembangunan Cipungland, penyelenggaraan konser, akuisisi perusahaan kosmetika, hingga pembentukan joint venture di bidang kecerdasan buatan (AI).
Dengan kondisi tersebut, kenaikan saham RANS dinilai lebih banyak ditopang sentimen dan ekspektasi pertumbuhan dibandingkan kinerja keuangan saat ini.
JECX Minus Senin Pagi
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) mencatat angka minus pada sesi I penutupan perdagangan Senin pagi/
Saham perusahaan yang mengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics ini ditawarkan pada harga Rp1.250 per saham dan hingga sesi I 13 Juli diperdagangkan di level Rp1.430, atau naik 14,4% dibanding harga IPO.
Pada penutupan perdagangan sesi I Senin pagi, harga saham ditutup turun -4,20% diangka 1.370.
Dari sisi bisnis, JECX mengoperasikan lima rumah sakit dan 11 klinik mata di Indonesia.
Perusahaan juga memperoleh dukungan dari pemegang saham strategis, yakni PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) yang merupakan bagian dari ekosistem EMTK. Setelah IPO, SAME diperkirakan memiliki sekitar 25% saham JECX.
Perusahaan menghimpun dana IPO sekitar Rp683 miliar, terbesar di antara enam emiten yang melantai pada periode tersebut. Sekitar 52% dana hasil penawaran umum akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk mendukung ekspansi bisnis.
Baca juga : Siapa Penguasa Pasar Mi Instan Indonesia?
BACH Menguat Tipis, Afiliasi Grup Djarum Jadi Daya Tarik
PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan performa yang lebih moderat dibanding emiten lainnya. Saham ini ditawarkan pada harga Rp500 dan hingga penutupan sesi I 13 Juli berada di level Rp510, atau naik sekitar 2% dari harga IPO.
Kinerja tersebut diraih setelah sebelumnya saham sempat terkoreksi hampir 10% pada perdagangan Jumat pekan lalu.
BACH bergerak di sektor infrastruktur telekomunikasi dan memiliki afiliasi dengan ekosistem Grup Djarum, khususnya melalui jaringan bisnis PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Perseroan menghimpun dana IPO sekitar Rp308 miliar, dengan sekitar 69% dialokasikan untuk modal kerja. Selain itu, terdapat potensi PT Global Telekomunikasi Prima meningkatkan kepemilikan sahamnya dari sekitar 25% menjadi sekitar 51% setelah IPO.
Kedekatan dengan grup usaha besar dinilai memberikan keyakinan tambahan bagi investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan meski pergerakan harga saham pada fase awal masih cukup fluktuatif.
JELI ARB, Mulai Kehilangan Momentum
Berbeda dengan empat emiten sebelumnya, PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman dengan merek Inaco, mulai menunjukkan tekanan jual yang cukup besar.
Saham JELI melantai di BEI dengan harga Rp900 per saham. Setelah sempat menguat pasca-IPO, saham ini kemudian mengalami koreksi tajam.
Pada Jumat, 10 Juli 2026, saham JELI anjlok 14,81% hingga menyentuh batas bawah auto rejection (ARB). Tekanan berlanjut pada sesi I perdagangan 13 Juli ketika saham kembali turun 14,72% menjadi Rp1.275.
Meski demikian, harga tersebut masih berada 41,7% di atas harga IPO. Tekanan terhadap saham JELI dinilai tidak terlepas dari tingginya valuasi perusahaan.
Pada saat IPO, saham diperdagangkan dengan PER sekitar 31–39 kali, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata emiten sektor makanan dan minuman yang berada pada kisaran 12–18 kali.
Di sisi lain, fundamental perusahaan juga masih menghadapi tantangan. Pendapatan JELI tercatat mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025.
Arus kas operasi juga merosot sekitar 83% pada 2025 akibat lonjakan piutang usaha dari sekitar Rp104 miliar menjadi Rp174 miliar.
Sementara itu, lonjakan laba bersih sekitar 235% lebih banyak berasal dari efisiensi biaya dan basis laba yang rendah dibanding pertumbuhan penjualan.
Kondisi tersebut membuat sebagian analis menilai risiko koreksi lanjutan masih perlu diwaspadai.
EMMI Bergerak Minus, Investor Masih Menunggu Kejelasan
PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menjadi satu-satunya emiten yang mencatat kinerja negatif dibanding estimasi harga IPO. Pada penutupan sesi I 13 Juli, saham EMMI berada di level Rp478, turun sekitar 2,45%.
EMMI bergerak sebagai distributor alat kesehatan dan memegang hak distribusi eksklusif atas sembilan merek perangkat medis global.
Namun demikian, sekitar 96% pendapatan perusahaan masih berasal dari rumah sakit pemerintah, sehingga konsentrasi pelanggan menjadi salah satu risiko utama yang diperhatikan investor.
Perusahaan menghimpun dana IPO sekitar Rp269 miliar, dengan sekitar 69% akan digunakan sebagai modal kerja. Valuasi perusahaan dinilai berada pada kategori moderat, yakni belum tergolong murah namun juga belum terlalu mahal.
Sementara itu, identitas penjamin emisi efek (underwriter) EMMI hingga kini belum terkonfirmasi secara jelas dari sumber yang tersedia.

Muhammad Imam Hatami
Editor
