Tren Pasar

Prospek TLKM, Sinyal Akumulasi di Tengah Pemulihan Kinerja dan Dividen Jumbo

  • Saham TLKM menjadi incaran investor asing dengan net buy Rp118,7 miliar. Simak alasan di balik pemulihan kinerja, dividen jumbo, dan prospek bisnis Telkom.
1627297932496.webp
TLKM (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2021/07/1627297932496.jpeg)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi perhatian pelaku pasar setelah mencatatkan aksi beli bersih (net buy) asing terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. 

Perubahan arah investor asing tersebut terjadi di tengah pemulihan kinerja keuangan perseroan sepanjang semester I-2026, kebijakan dividen jumbo, serta prospek bisnis digital yang dinilai semakin kuat.

Pada perdagangan Senin, 3 Agustus, investor asing membukukan net buy sebesar Rp118,7 miliar di saham TLKM. Nilai tersebut menjadi yang terbesar di BEI pada hari itu, dengan volume pembelian bersih mencapai 44,21 juta saham, terdiri atas pembelian 82,83 juta saham dan penjualan 38,62 juta saham.

Aksi beli tersebut mendorong harga saham TLKM melonjak 4,18% hingga ditutup di level Rp2.740 per saham. Kenaikan itu terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah tipis 0,03% ke level 6.234,50.

Pergerakan tersebut menjadi kontras karena secara keseluruhan investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp708 miliar di seluruh pasar saham Indonesia. Di saat dana asing keluar dari berbagai saham, TLKM justru menjadi tujuan utama akumulasi.

Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Beras di Indonesia?

Pada saat bersamaan, investor asing tercatat melepas sejumlah saham berbasis komoditas seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net sell sekitar Rp191,9 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp91,1 miliar.

Perubahan sentimen tersebut juga tergolong drastis. Pasalnya, hanya satu hari perdagangan sebelumnya atau pada Jumat (31/7/2026), saham TLKM masih mengalami net sell asing sekitar Rp33,8 miliar.

Aksi beli asing terhadap TLKM memperlihatkan kecenderungan investor global kembali memilih saham-saham defensif yang memiliki fundamental kuat serta arus kas stabil.

Sebagai emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkom dinilai memiliki karakter defensif karena pendapatan perusahaan relatif stabil, ditopang oleh bisnis layanan data, digital connectivity, enterprise, hingga infrastruktur telekomunikasi.

Momentum tersebut juga bertepatan dengan membaiknya kinerja operasional perusahaan setelah tekanan laba pada tahun sebelumnya.

Laba 2025 Turun Akibat Faktor Akuntansi

Sepanjang tahun buku 2025, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp146,74 triliun dengan laba bersih mencapai Rp17,81 triliun. Meski masih mencetak keuntungan besar, laba bersih tersebut turun 20,48% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp22,40 triliun.

Penurunan laba bukan berasal dari pelemahan operasional perusahaan, melainkan akibat kebijakan percepatan depresiasi (accelerated depreciation) yang dilakukan sebagai bagian dari program total governance reset.

Kebijakan tersebut merupakan penyesuaian akuntansi yang bersifat non-cash, sehingga tidak mengurangi kas perusahaan maupun mengganggu kemampuan menghasilkan arus kas operasional.

Artinya, tekanan terhadap laba bersih lebih banyak berasal dari pencatatan akuntansi dibandingkan penurunan kualitas bisnis inti Telkom.

Baca juga : XL Raih Predikat Jaringan Terbaik di Indonesia 2026

Semester I-2026 Tunjukkan Pemulihan

Setelah tekanan laba sepanjang 2025, Telkom mulai menunjukkan pemulihan pada semester pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp75,90 triliun, meningkat 3,90% secara tahunan (year on year/YoY).

Sementara itu, laba bersih naik menjadi Rp10,60 triliun, atau tumbuh sekitar 1,4% YoY. Pemulihan tersebut didorong oleh meningkatnya kontribusi berbagai lini bisnis.

Segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure menjadi salah satu motor pertumbuhan dengan pendapatan mencapai Rp33,1 triliun, meningkat sekitar 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, anak usaha Telkom, Telkomsel, juga tetap menjadi penyumbang terbesar pendapatan grup dengan nilai mencapai Rp55,6 triliun, naik sekitar 3,3% YoY.

Pertumbuhan Telkomsel terutama didorong oleh ekspansi bisnis digital yang meningkat sekitar 11%, mencerminkan semakin besarnya kontribusi layanan data dan digital dibandingkan layanan telekomunikasi konvensional.

Selain pertumbuhan pendapatan, efisiensi operasional juga semakin terlihat. Margin EBITDA Telkom meningkat menjadi 49,4%, menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah transformasi bisnis.

Secara kuartalan, performa juga semakin menguat. Pada kuartal II-2026, laba bersih meningkat sekitar 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu serta melonjak 45% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/QoQ).

Baca juga : Agenda Ekonomi Penting Agustus yang Potensi Gerakkan IHSG

Neraca Tetap Solid

Hingga 30 Juni 2026, total aset Telkom mencapai Rp303,09 triliun, meningkat sekitar 5,33% dibandingkan posisi akhir 2025. Sementara itu, total liabilitas tercatat Rp168,24 triliun, naik sekitar 22,60%.

Kenaikan liabilitas tersebut antara lain dipengaruhi oleh pencatatan utang dividen sekitar Rp22 triliun setelah perseroan memutuskan membagikan dividen dalam jumlah besar kepada pemegang saham.

Adapun total ekuitas perusahaan mencapai Rp134,85 triliun. Dengan struktur neraca tersebut, Telkom masih memiliki fundamental yang dinilai kuat untuk mendukung ekspansi bisnis digital maupun investasi jaringan.

Dividen Jumbo dengan Payout Ratio di Atas 100 Persen

Salah satu faktor yang terus menarik perhatian investor adalah kebijakan dividen Telkom. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), perseroan menyetujui pembagian dividen sebesar Rp21,9 triliun untuk tahun buku 2025.

Besaran tersebut setara sekitar Rp221 hingga Rp222,9 per saham. Menariknya, nilai dividen tersebut mencapai 123,03% dari laba bersih tahun 2025.

Pembayaran dividen berasal dari seluruh laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp17,8 triliun, ditambah sekitar Rp4,2 triliun yang berasal dari laba ditahan tahun-tahun sebelumnya.

Kebijakan membagikan dividen di atas laba bersih menunjukkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan arus kas perusahaan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

Selain dividen, RUPST juga memberikan persetujuan kepada manajemen untuk melaksanakan program pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp4 triliun.

Program tersebut berlaku mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Buyback dilakukan sebagai langkah menjaga stabilitas harga saham di tengah dinamika pasar sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Bagi investor, kombinasi antara fundamental yang mulai pulih, posisi sebagai emiten defensif, arus kas yang kuat, program buyback, dan kembali masuknya dana asing menjadi sejumlah katalis positif yang membuat saham TLKM kembali masuk radar pelaku pasar menjelang paruh kedua 2026.