Tren Pasar

Prospek Saham BREN Cerah? Cek Kinerja Keuangan dan Ekspansinya

  • PT Barito Renewables Energy mencatat laba bersih naik 29% pada semester I 2026. Bagaimana prospek saham BREN setelah ditutup di Rp3.510?
2023_10_03_142887_1696302352._large.jpg
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) (Dok/Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berhasil ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan lalu. 

Di tengah fluktuasi yang masih tinggi dalam beberapa pekan terakhir, emiten energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut menunjukkan daya tarik berkat pertumbuhan kinerja keuangan yang solid serta prospek ekspansi bisnis yang masih terbuka lebar.

Berdasarkan data penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BREN ditutup naik 2,03% ke level Rp3.510 per saham pada akhir perdagangan sesi II Jumat 7 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB. Penguatan tersebut terjadi setelah saham BREN sempat bergerak sangat fluktuatif sepanjang perdagangan. 

Perbedaan harga yang muncul di sejumlah platform sebelumnya dipengaruhi oleh penggunaan data delayed quote maupun waktu pengambilan data intraday. Namun, harga penutupan resmi BEI menunjukkan BREN berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau.

Meski demikian, secara historis saham BREN masih mencerminkan volatilitas yang tinggi. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham bergerak dalam rentang sekitar Rp2.300 hingga Rp4.460, menjadikannya salah satu saham dengan pergerakan paling agresif di papan utama Bursa Efek Indonesia.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AADI dan PGEO Terbang, HRTA Tiarap

Mengenal PT Barito Renewables Energy

PT Barito Renewables Energy Tbk merupakan perusahaan energi terbarukan yang berada di bawah Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Perusahaan berfokus pada pengembangan energi bersih melalui pembangkit listrik panas bumi (geothermal) dan energi angin (wind power).

Aset utama BREN berasal dari Star Energy Geothermal yang mengelola sejumlah lapangan panas bumi terbesar di Indonesia, antara lain,

  • Wayang Windu
  • Salak
  • Darajat

Selain itu, perusahaan juga memiliki portofolio pembangkit listrik tenaga angin sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi terbarukan.MPosisi tersebut menjadikan BREN sebagai salah satu pemain utama dalam transisi energi Indonesia menuju bauran energi yang lebih ramah lingkungan.

Laba Bersih Semester I 2026 Naik Hampir 30%

Di balik pergerakan saham yang volatil, fundamental perusahaan justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Sepanjang semester I 2026, BREN membukukan pendapatan sebesar US$334 juta, meningkat 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$300 juta.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti peningkatan profitabilitas perusahaan. Beberapa indikator utama semester I 2026 meliputi,

  • Pendapatan: US$334 juta, naik 11,5%.
  • EBITDA: US$293 juta, meningkat 13,1%.
  • Marjin EBITDA: 87,6%, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
  • Laba bersih: US$106 juta, tumbuh 29%.
  • Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk: US$87 juta, naik 33,1%.

Marjin EBITDA yang mendekati 90% menunjukkan bisnis pembangkit listrik panas bumi masih mampu menghasilkan arus kas operasional yang sangat kuat dibandingkan sebagian besar perusahaan energi lainnya.

Baca juga : IHSG Dibuka Menguat 0,33 Persen, Cek Data Lengkapnya

Kinerja Kuartal I Sudah Menunjukkan Tren Positif

Pertumbuhan tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal tahun. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat,

  • Pendapatan sebesar US$165 juta, naik 9,8%.
  • EBITDA sebesar US$145 juta, meningkat 11,4%.
  • Marjin EBITDA mencapai 87,6%.
  • Laba bersih sebesar US$53 juta, tumbuh 24%.

Konsistensi pertumbuhan ini memperkuat keyakinan investor bahwa peningkatan kinerja semester pertama bukan sekadar faktor musiman. Selain mencatat kenaikan laba, kondisi neraca perusahaan juga menunjukkan perbaikan.

Per 30 Juni 2026:

  • Total aset mencapai US$4,04 miliar, naik 4,5% dibanding akhir 2025.
  • Total ekuitas meningkat menjadi US$945 juta atau naik sekitar 7%.
  • Rasio Net Debt-to-Equity membaik menjadi 1,73 kali dari sebelumnya 1,87 kali.
  • Rasio Debt-to-Equity turun menjadi 2,25 kali dibanding 2,36 kali pada akhir tahun lalu.

Perbaikan struktur modal tersebut membantu menekan beban keuangan sehingga berkontribusi terhadap peningkatan laba bersih perusahaan.

BREN Tetap Membagikan Dividen

Meski tengah agresif melakukan ekspansi, BREN tetap membagikan dividen kepada pemegang saham. Berdasarkan hasil RUPS Tahunan pada 24 Juni 2026, perusahaan menetapkan:

  • Total dividen sebesar US$30,5 juta.
  • Rasio pembayaran dividen (payout ratio) sekitar 23% dari laba bersih tahun buku 2025.
  • Dividen tunai sekitar Rp4,09 per saham.

Sementara sekitar US$100,4 juta atau sekitar 76% laba bersih ditahan sebagai modal untuk mendukung ekspansi bisnis.

Namun demikian, dividend yield BREN masih relatif rendah, yakni sekitar 0,12%, sehingga saham ini lebih menarik bagi investor yang mengejar pertumbuhan (growth investing) dibanding pendapatan dividen.

Ekspansi Menuju Kapasitas Lebih dari 1 GW

Salah satu alasan utama optimisme terhadap BREN adalah rencana ekspansi kapasitas pembangkit. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir 2026. Saat ini kapasitas pembangkit mencapai sekitar 926 megawatt (MW).

Sejumlah proyek yang sedang berjalan meliputi,

  • Pengembangan Salak Unit 7.
  • Pembangunan Wayang Windu Unit 3.
  • Retrofit Darajat Unit 3.

Jika seluruh proyek selesai sesuai jadwal, kapasitas pembangkit perusahaan akan meningkat signifikan sekaligus memperkuat posisi BREN sebagai salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia.

Baca juga : Siapa Penguasa Bisnis Rokok di Indonesia? Ini Daftar Raja Industri Tembakau

Apa Saja Faktor yang Mendukung Prospek BREN?

Selain ekspansi kapasitas, sejumlah faktor lain turut mendukung prospek perusahaan. Beberapa katalis positif tersebut antara lain,

  • Pertumbuhan permintaan energi bersih.
  • Dukungan pemerintah terhadap transisi energi nasional.
  • Marjin EBITDA yang tetap tinggi.
  • Optimalisasi struktur pendanaan yang menekan biaya bunga.
  • Potensi kenaikan kapasitas produksi.

Di balik prospek pertumbuhan tersebut, BREN juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan investor.Risiko terbesar berasal dari valuasi saham yang masih tergolong sangat mahal.

Beberapa indikator yang menjadi perhatian antara lain,

  • Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 222 kali.
  • Beta sekitar 1,93, menandakan volatilitas lebih tinggi dibanding IHSG.
  • Dividend yield relatif rendah.
  • Pergerakan harga yang sangat fluktuatif.

Selain itu, sentimen eksternal seperti arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia sepanjang 2026 juga berpotensi memengaruhi pergerakan saham berkapitalisasi besar, termasuk BREN.

Dengan fundamental yang terus membaik, pertumbuhan laba yang konsisten, serta ekspansi kapasitas menuju lebih dari 1 GW, BREN masih memiliki cerita pertumbuhan (growth story) yang menarik.

Namun, valuasi yang sangat premium membuat saham ini lebih sesuai bagi investor dengan toleransi risiko tinggi. Sebaliknya, bagi investor yang lebih konservatif, volatilitas harga dan valuasi yang tinggi menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan investasi.

Ke depan, pasar akan mencermati sejumlah katalis utama, mulai dari penyelesaian proyek Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, hingga laporan keuangan kuartal III 2026. Realisasi proyek-proyek tersebut akan menjadi penentu apakah BREN mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja sekaligus memenuhi ekspektasi tinggi yang telah dibangun pasar terhadap emiten energi terbarukan milik Grup Barito tersebut.