Tren Pasar

Powell Dipidana Trump? Intip Langkah Investor Hadapi Gejolak

  • Risiko terbesar kriminalisasi Powel bukan sekadar pergerakan harga jangka pendek, melainkan hilangnya kepercayaan terhadap kredibilitas institusi AS.
23303354605_da46cd2db7_b.jpg
Ketua The Fed Jerome Powell. (Flickr)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketegangan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan Federal Reserve kembali memanas setelah muncul ancaman penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell. 

Meski secara formal dikaitkan dengan proyek renovasi gedung, Powell menilai tekanan tersebut berkaitan langsung dengan kebijakan suku bunga yang selama ini dikritik Trump.

Langkah tersebut dinilai bukan sekadar isu hukum atau personal, melainkan benturan serius antara kekuasaan eksekutif dan independensi bank sentral AS, fondasi utama stabilitas pasar keuangan global. 

Dilansir laman media Australia, ABC, Selasa, 13 Januari 2025, para pelaku pasar bisa menilai situasi ini sebagai sumber ketidakpastian baru yang berpotensi mengguncang nilai dolar AS, pasar saham, hingga obligasi pemerintah AS.

Dampak Langsung ke Pasar Keuangan

The Fed selama puluhan tahun dipandang sebagai lembaga independen yang relatif kebal dari intervensi politik. 

Ancaman terhadap Powell memperkuat kekhawatiran bahwa kebijakan moneter AS dapat menjadi tidak prediktif, terutama jika bank sentral dipaksa menyesuaikan kebijakan demi kepentingan politik jangka pendek.

Ketidakpastian ini muncul di tengah kondisi inflasi yang belum sepenuhnya jinak, membuat ruang gerak The Fed semakin sempit antara menjaga stabilitas harga dan menghadapi tekanan politik untuk menurunkan suku bunga.

Baca juga : INKP dan MEDC jadi Rekomendasi Saham LQ45 Hari Ini

Pasar global merespons situasi ini dengan meningkatkan sikap risk-off. Sejumlah kelas aset diperkirakan terdampak secara berbeda, diantaranya sebagai berikut,

Dolar AS (USD) bisa berada dalam tekanan karena krisis kepercayaan terhadap institusi AS berpotensi mengurangi daya tarik mata uang tersebut sebagai aset aman. Investor mulai melirik alternatif safe-haven lain yang dinilai lebih stabil secara politik.

Pasar saham AS dapat menghadapi risiko volatilitas tinggi. Ketidakpastian kebijakan moneter mengganggu perencanaan bisnis dan meningkatkan risk premium. Jika ketegangan berlanjut atau inflasi kembali menguat, tekanan terhadap indeks saham diperkirakan meningkat.

Pasar obligasi pemerintah AS juga diperkirakan bergerak tak menentu. Di satu sisi, dorongan politik untuk suku bunga rendah dapat menekan imbal hasil. Namun di sisi lain, inflasi yang bertahan tinggi bisa memaksa The Fed tetap ketat, mendorong imbal hasil naik.

Aset safe-haven justru diperkirakan menguat. Emas telah mencetak rekor tertinggi menyusul meningkatnya ketidakpastian, sementara mata uang seperti yen Jepang dan franc Swiss kembali dilirik investor global sebagai pelindung nilai.

Apa yang Harus Dilakukan?

Di tengah volatilitas, investor global mulai mengadopsi pendekatan defensif. Diversifikasi lintas aset dan wilayah kembali menjadi fokus utama, seiring meningkatnya risiko konsentrasi di aset AS.

Pelaku pasar juga dapat menaruh perhatian besar pada data ekonomi kunci, terutama Indeks Harga Konsumen (CPI) AS, yang akan menjadi indikator utama apakah The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan atau justru harus bertahan dengan suku bunga tinggi.

Strategi investasi bertahap atau dollar-cost averaging kembali dianggap relevan untuk menghadapi fluktuasi tajam, guna menghindari keputusan emosional akibat gejolak jangka pendek.

Dikutip laman perusahaan sekuritas Indo Premier, ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama. Pertama, perkembangan proses hukum terkait ancaman penyelidikan terhadap Powell yang berpotensi menjadi katalis volatilitas lanjutan. 

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: ADMR dan ADRO Melejit, EXCL Ambruk

Kedua, respons dan komunikasi The Fed, termasuk bagaimana tekanan politik memengaruhi proyeksi suku bunga ke depan. 

Ketiga, konteks kebijakan Trump yang lebih luas, termasuk wacana pembatasan suku bunga kartu kredit hingga 10 persen, yang memperkuat narasi meningkatnya intervensi pemerintah di sektor keuangan.

Analis menilai risiko terbesar dari situasi ini bukan sekadar pergerakan harga jangka pendek, melainkan hilangnya kepercayaan terhadap kredibilitas institusi AS. 

Jika pasar mulai meragukan independensi The Fed, volatilitas berpotensi menjadi lebih struktural dan bertahan lebih lama.

Bagi investor global, periode ke depan diperkirakan akan diwarnai fluktuasi yang lebih tajam, menuntut strategi yang menitikberatkan pada perlindungan modal dan manajemen risiko, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan politik AS.