Tren Pasar

Peta Saham Energi Usai Harga Pertamax Naik

  • Ketegangan geopolitik AS-Iran mendorong harga minyak naik dan mengangkat saham energi. Simak potensi MEDC, AKRA, serta emiten energi lainnya.
<p>Jasa pertambangan minyak dan gas (migas) PT Elnusa Tbk (ELSA) / Dok. Perseroan</p>

Jasa pertambangan minyak dan gas (migas) PT Elnusa Tbk (ELSA) / Dok. Perseroan

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham-saham sektor energi kembali mencatatkan penguatan signifikan dalam dua hari perdagangan terakhir. Di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sejumlah emiten energi berhasil mengungguli pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Dua saham yang paling menonjol adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Pada perdagangan 10 Juni 2026, saham MEDC ditutup di level Rp1.220, naik 1,64%. Penguatan berlanjut pada 11 Juni 2026 dengan kenaikan intraday sebesar 5,02% ke level Rp1.255.

Sementara itu, saham AKRA melonjak lebih dulu sebesar 6,10% pada 10 Juni hingga mencapai Rp1.240, kemudian melanjutkan kenaikan 2,42% ke posisi Rp1.270 pada 11 Juni. Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan IHSG yang sempat menembus level psikologis 6.000, didorong oleh masuknya dana ke sektor energi dan komoditas.

Mengapa Saham Energi Menguat?

Terdapat tiga faktor utama yang menjadi katalis reli saham energi saat ini.

Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah dunia kembali naik. Pasar khawatir konflik dapat mengganggu pasokan energi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah yang menyumbang porsi besar produksi minyak dunia.

Kondisi tersebut langsung menguntungkan emiten hulu migas seperti MEDC yang pendapatannya sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak.

Kedua, pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax sebesar 32,11% menjadi Rp16.250 per liter. Harga Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter.

Pasar menilai kebijakan ini dapat mengurangi tekanan subsidi energi dan memperbaiki posisi fiskal pemerintah, sehingga memberikan sentimen positif terhadap saham-saham yang terkait dengan sektor energi.

Ketiga, sejumlah saham energi memasuki periode pembagian dividen sehingga menarik minat investor yang mencari kombinasi antara capital gain dan dividend yield.

Baca juga : Emas Sentuh Harga Terendah Sejak Februari, Saatnya Beli?

Kupas Emiten Energi

MEDC

MEDC menjadi salah satu saham energi yang paling banyak diperhatikan pasar.

Selain memperoleh manfaat langsung dari kenaikan harga minyak, perusahaan juga memiliki katalis internal berupa peningkatan produksi dari Koridor Block dan kontribusi investasi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Yang menarik, penguatan MEDC terjadi setelah saham ini sempat menyentuh salah satu level terendahnya sepanjang 2026. Kondisi tersebut memicu technical rebound yang cukup kuat.

Sejumlah analis masih memberikan rekomendasi Buy atau Accumulate dengan target harga berkisar Rp1.800 hingga Rp2.000 per saham.

Jika target tersebut tercapai, potensi kenaikan dari harga Rp1.255 masih berada di kisaran 43% hingga 59%.

Baca juga : Mengapa Biaya Produksi Pertamax Lebih Mahal dari Pertalite?

AKRA

Berbeda dengan MEDC, AKRA memiliki model bisnis yang lebih terdiversifikasi. Selain mendistribusikan BBM industri, perusahaan juga memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) yang terus menarik investasi manufaktur.

Kombinasi bisnis energi dan kawasan industri membuat AKRA relatif lebih defensif ketika harga komoditas mengalami fluktuasi. Dengan harga saham Rp1.270, sejumlah analis memberikan target harga di rentang Rp1.500 hingga Rp1.850.

Artinya, saham ini masih memiliki potensi kenaikan sekitar 18% hingga 46% dari posisi saat ini.

Saham Energi Lain yang Ikut Menguat

Tidak hanya MEDC dan AKRA, sejumlah saham energi lain juga mencatatkan performa impresif pada penutupan perdagangan 10 Juni 2026, di antaranya:

  • RAJA naik 11,5% menjadi Rp3.590.
  • GEMS menguat 2,00% ke level Rp6.375 di tengah momentum pembayaran dividen.
  • PTRO naik ke kisaran Rp4.180 atau sekitar 5,29%.
  • ESSA berada di level Rp615 dengan dukungan bisnis LPG dan amonia.
  • CUAN ditutup di Rp730, naik 0,69%.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun Tipis, Cek Data Lengkapnya

Di sisi lain, tidak semua saham energi menikmati reli.

  • ELSA ditutup di Rp590, turun 2,48%.
  • NIKL masih bergerak di sekitar Rp189, melemah 10,95%, dan masih jauh di bawah level tertinggi 52 minggunya.
  • APEX ditutup di harga Rp125, turun 0,79%.

Pergerakan yang beragam ini menunjukkan bahwa penguatan sektor energi belum berlangsung merata. Investor masih cenderung selektif, dengan fokus pada emiten yang memiliki katalis spesifik seperti dividen, prospek komoditas, maupun kinerja fundamental yang kuat.