Perang Valuasi: LQ45 Obral, Mengapa SRI-KEHATI Lebih Mahal?
- IHSG tembus 9.000, tapi LQ45 & SRI-KEHATI malah beda nasib. Cek bedah riset TrenAsia: Mengapa LQ45 kini jauh lebih murah? Waktunya borong saham diskon?

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Peta investasi di Bursa Efek Indonesia pada pembukaan 2026 menyajikan paradoks menarik. Di saat IHSG berpesta pora menembus level psikologis baru 9.000, dua indeks prestisius, LQ45 dan SRI-KEHATI, justru berada di persimpangan jalan yang sangat berbeda.
Pekan pertama perdagangan menjadi saksi bisu anomali tersebut bagi para investor. Indeks SRI-KEHATI terkoreksi tipis -0,28% ke level 381,33, sementara LQ45 mulai menunjukkan geliat rebound. Fenomena ini menciptakan kesenjangan valuasi ekstrem yang kini menjadi perdebatan hangat di pasar.
Investor kini dihadapkan pada dua pilihan sulit untuk menyusun portofolio awal tahun. Pilihannya adalah mengejar kualitas premium di SRI-KEHATI atau memborong saham diskon besar di LQ45. Berikut adalah bedah lengkap kinerja, valuasi, serta prospek kedua indeks dari Tim Riset TrenAsia.
1. Flashback 2025: Tahun Luka Blue Chip
Tahun 2025 tercatat sebagai tahun anomali terbesar dalam satu dekade terakhir bagi bursa. IHSG terbang tinggi dengan kenaikan fantastis +22,1% sepanjang tahun. Namun, indeks LQ45 justru terseok-seok dan menjadi laggard parah dengan pertumbuhan yang hanya mencapai angka tipis sebesar +2,4%.
Kinerja SRI-KEHATI setali tiga uang karena hanya mampu tumbuh stagnan sebesar +2,1%. Penyebab utama jebloknya kedua indeks ini adalah tekanan jual asing masif pada saham perbankan raksasa. Fenomena The Big Banks Sell-Off ini mewariskan valuasi yang sangat murah di awal 2026.
Ketika bobot terbesar indeks mengalami penurunan, maka indeks secara keseluruhan menjadi sangat berat. Inilah yang menyebabkan kesenjangan tajam antara pertumbuhan IHSG dan saham-saham blue chip. Akumulasi tekanan jual sepanjang tahun lalu kini menciptakan peluang pembalikan arah bagi investor yang cukup bersabar.
2. Peta Valuasi: Diskon vs Premium
Data estimasi yang dihimpun TrenAsia menunjukkan peta valuasi awal tahun yang sangat kontras. Indeks LQ45 berada di zona obral dengan estimasi PER pada kisaran 11,5x hingga 12,5x. Secara historis, level ini sangat langka karena biasanya LQ45 diperdagangkan pada PER 14x-16x.
Di sisi lain, indeks SRI-KEHATI diperdagangkan pada zona premium dengan estimasi PER 12,5x-13,5x. Premium ini adalah harga yang harus dibayar investor untuk faktor kenyamanan standar ESG. Konstituennya dianggap memiliki risiko tata kelola yang jauh lebih rendah dibanding emiten komoditas di LQ45.
Pasar melihat level valuasi LQ45 saat ini sebagai peluang emas untuk strategi mean reversion. Harga saham di dalamnya sudah terkoreksi terlalu dalam hingga masuk ke area jenuh jual. Sementara itu, SRI-KEHATI tetap stabil karena didominasi oleh emiten defensif yang jarang didiskon pasar.
3. Bedah Saham: BBRI hingga BBCA
Kubu LQ45 saat ini menjadi gudang saham diskon yang sangat diburu investor agresif. Saham BBRI dan BBNIdiperdagangkan dengan PER terendah dalam tiga tahun terakhir di kisaran 10x-11x. Jika dana asing konsisten masuk kembali, maka potensi kenaikan harganya diprediksi akan sangat lebar.
Sebaliknya, SRI-KEHATI menawarkan stabilitas kualitas melalui konstituen yang jauh lebih selektif. Valuasi indeks ini dijaga tetap tinggi oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang selalu diperdagangkan premium. Kehadiran emiten defensif seperti ini membuat indeks SRI-KEHATI lebih tahan banting terhadap guncangan.
Pembeda utama lainnya adalah keberadaan saham komoditas energi seperti ADRO dan PTBA di LQ45. Saham-saham ini tidak lolos saringan ESG namun menawarkan dividen yield tinggi. Hal ini membuat LQ45 memiliki eksposur keuntungan lebih cepat jika terjadi lonjakan harga komoditas global mendadak.
4. Wajah Baru dan Strategi Rotasi
Evaluasi Mayor Desember 2025 memasukkan tiga nama baru ke SRI-KEHATI yang sangat menarik. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) memberikan warna baru. Masuknya sektor properti dan utilitas diharapkan mampu menangkap momentum penurunan suku bunga global.
Meskipun terlihat lebih mahal, SRI-KEHATI terbukti secara historis jauh lebih tangguh saat terjadi crash. Tim Riset TrenAsia menyimpulkan bahwa rotasi sektoral akan menjadi kunci utama profitabilitas. Investor mulai memindahkan dana dari saham yang sudah tinggi menuju saham yang masih tertinggal (laggard).
Pasar saham saat ini sedang memindahkan uang dari investor tidak sabar ke yang sabar. LQ45 menawarkan "emas" dengan harga "perunggu", sementara SRI-KEHATI menawarkan "berlian" dengan harga wajar. Perhatikan arus dana asing di saham berkapitalisasi besar sebagai sinyal utama penentu arah kebijakan bursa.

Alvin Bagaskara
Editor
