Tren Pasar

MSCI Tekan Pasar, Saham BBCA, CMRY, hingga MDKA Jadi Pilihan

  • BEI dan OJK memperkuat transparansi pasar usai isu MSCI menekan IHSG. Kebijakan free float dan pelaporan kepemilikan diperketat demi kepercayaan investor.
IHSG Ditutup Menguat-3.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan tajam usai pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Indeks bahkan turun hingga menyentuh level terendah 7.482 atau melemah sekitar 18% dari puncaknya, sebelum akhirnya menutup perdagangan Januari 2026 di level 8.330, turun 3,7% secara bulanan.

Riset Ciptadana Sekuritas Asia yang dirilis pada 3 Februari 2026 mencatat, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp12,3 triliun atau setara sekitar US$700 juta pada periode Rabu hingga Jumat. Aksi jual tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market (EM) menjadi Frontier Market (FM).

Meski pada awal pekan berikutnya investor asing kembali mencatatkan beli bersih tipis, tekanan dari arus dana global masih membayangi pasar. Saat ini, bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Market tercatat sekitar 1,2%. Jika reklasifikasi terjadi secara penuh, potensi tambahan arus keluar dana diperkirakan mencapai US$9–16 miliar.

“Karena itu, arus dana terkait MSCI masih menjadi faktor tekanan jangka pendek bagi pasar saham domestik,” tulis Ciptadana dalam risetnya.

Merespons isu tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan regulator pasar lainnya telah menggelar pertemuan dengan MSCI. Hasilnya, disepakati sejumlah langkah konkret untuk memperkuat tata kelola pasar.

Beberapa kebijakan yang disepakati antara lain penurunan batas pelaporan kepemilikan saham menjadi di atas 1% dari sebelumnya 5%, serta perincian klasifikasi investor dari 9 menjadi 27 kategori, termasuk pengungkapan pemilik manfaat (beneficial owner).

Selain itu, regulator juga memastikan kenaikan porsi saham beredar (free float) dari 7,5% menjadi 15% secara bertahap. Langkah ini dinilai positif untuk menjaga kepercayaan investor dan menekan risiko struktural dalam jangka panjang.

Tabel: Potensi Dukungan dari Institusi Domestik

Institusi
 
AUM (Rp triliun)
 
Perkiraan Alokasi Saham Saat Ini (%)Target Alokasi Saham (%)
 
Potensi Tambahan Dana (Rp triliun)
 
BPJS Ketenagakerjaan87912–1320–2565–120
Dana Pensiun (wajib & sukarela)1.6628–1015–2080–150
Perusahaan Asuransi1.1945–715–2095–179
Danantara (50% dari rencana dana investasi 2026F)58–117
Total Potensi   240–440

Sumber: Ciptadana Sekuritas

Likuiditas Domestik Jadi Penopang

Di tengah tekanan arus dana asing, pemerintah dan regulator juga menyiapkan sumber likuiditas dari dalam negeri untuk menyeimbangkan volatilitas pasar. Salah satunya melalui peningkatan batas investasi saham bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi.

Porsi investasi saham institusi tersebut diperkirakan naik menjadi 15% dan dalam jangka panjang berpotensi mencapai 20%. Langkah ini dinilai penting mengingat pasar saham Indonesia masih didominasi investor ritel.

Selain itu, dukungan juga diharapkan datang dari institusi besar seperti BPJS Ketenagakerjaan dan Danantara. Danantara diproyeksikan mulai aktif pada 2026 dengan mengalokasikan sekitar 50% dana investasinya ke pasar modal, baik saham maupun obligasi.

Aliran dana ini diperkirakan masuk secara bertahap, namun realisasi sebagian saja dinilai cukup untuk meningkatkan likuiditas, meredam volatilitas, dan menopang valuasi saham berkapitalisasi besar.

Ke depan, pasar akan mencermati rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV 2025 serta laporan keuangan emiten sebagai katalis utama. Perbankan diperkirakan memimpin musim laporan, dengan BBCA dan BBNI yang telah menunjukkan kinerja solid.

Untuk 2026, laba emiten diproyeksikan tumbuh sekitar 11%. Pertumbuhan ini didukung oleh basis laba yang rendah pada 2024–2025, proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1%, serta dampak penurunan suku bunga.

Di tengah volatilitas, saham-saham pilihan dinilai relatif lebih stabil dengan kinerja mendatar secara bulanan, lebih baik dibandingkan penurunan IHSG sebesar 3,7%.

Kinerja positif ditopang oleh saham MBMA, ERAL, AADI, MYOR, dan PWON. Sementara itu, BBCA, CMRY, dan DSNG mengalami koreksi. Beberapa saham juga tertekan oleh arus dana MSCI, seperti WIFI dan EXCL.

Tabel Saham Pilihan

Kode Saham
 
Rekomendasi
 
Kapitalisasi Pasar (Rp triliun)
 
Harga Terakhir
 
Target Harga
 
Potensi Naik (%)
 
PER 2026
 
EV/EBITDA 2026*
 
ROE 2026 (%)
 
BBCABeli9317.40011.20051,415,13,04,2
BBTNBeli171.2301.50022,04,50,55,3
MYORBeli532.3102.70016,914,69,12,2
CMRYBeli435.1006.80033,318,614,42,7
EXCLBeli522.9103.30013,483,42,03,5
DSNGBeli14,61.3751.98044,07,14,32,5
PWONBeli1736053047,26,83,64,0
AADIBeli637.6008.65013,85,52,58,5
MDKABeli672.7303.85041,0-168,65,80,0
ERALBeli235044025,76,24,43,3

Sumber: Ciptadana Sekuritas

Target IHSG Tetap Optimistis

Ciptadana mempertahankan target IHSG di level 8.960 untuk skenario dasar dan 9.600 untuk skenario optimistis. Investor disarankan tetap selektif, mempertahankan saham defensif, serta melakukan pembelian bertahap pada saham berkualitas saat harga melemah.

Rekomendasi saham difokuskan pada sektor konsumsi dan telekomunikasi seperti ICBP, MYOR, dan EXCL, perbankan dengan valuasi menarik seperti BBCA dan BBTN, sektor komoditas seperti AADI dan MDKA, serta saham domestik dengan kepemilikan asing relatif rendah.

Ciptadana menilai tekanan pasar akibat isu MSCI bersifat jangka pendek dan lebih dipicu faktor teknis arus dana. Respons cepat regulator serta potensi masuknya dana institusi domestik menjadi penyangga penting bagi pasar saham nasional.

Dengan dukungan musim laporan keuangan dan prospek pertumbuhan laba pada 2026, koreksi pasar justru dinilai membuka peluang akumulasi selektif pada saham-saham berfundamental kuat.