Tren Pasar

MNC Punya Laba Rp1,4 T, Mengapa Sahamnya Ambrol di Pasar?

  • MNC Asia Holding mencatat laba Rp1,4 triliun pada 2025. Namun saham sejumlah emiten MNC tetap tertekan. Apa yang membuat pasar belum merespons?
MNCN.jpg
MNC (Dok/Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) masih mencatatkan laba di tengah tekanan terhadap saham-saham Grup MNC. Sepanjang 2025, perusahaan yang berada di bawah kendali Hary Tanoesoedibjo tersebut membukukan pendapatan bersih Rp14,5 triliun, EBITDA Rp3,9 triliun, dan laba bersih Rp1,4 triliun.

Namun, kinerja tersebut belum mampu mengubah persepsi pasar terhadap saham BHIT maupun sejumlah emiten yang berada dalam ekosistem MNC Group.

Paradoks tersebut menjadi menarik karena tekanan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi bahwa grup masih menghasilkan pendapatan dan laba dalam jumlah besar.

Berdasarkan kinerja 2025, bisnis media masih menjadi kontributor terbesar pendapatan MNC Asia Holding dengan porsi sekitar 63,4%. Sementara segmen jasa keuangan menyumbang sekitar 24,7% terhadap pendapatan.

Dengan demikian, secara operasional MNC masih memiliki dua mesin bisnis utama, yakni media dan jasa keuangan. Akan tetapi, pasar memberikan respons yang jauh lebih berhati-hati terhadap saham-saham dalam grup tersebut.

Sejumlah emiten MNC bahkan berada di rentang harga Rp21 hingga Rp50 per saham. Tekanan tersebut terlihat pada PT MNC Land Tbk (KPIG), PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV), hingga PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).

Baca juga : Hanya 7 Saham yang Naik di Pembukaan LQ45, Ada INDF-BMRI

Laba Tidak Otomatis Mengangkat Harga Saham

Salah satu persoalan yang perlu dibedakan adalah antara kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan kemampuan laba tersebut menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Perusahaan dapat membukukan laba, tetapi pasar tetap memberikan valuasi rendah apabila investor menilai pertumbuhan laba ke depan belum cukup kuat, prospek industrinya menghadapi tekanan, atau terdapat faktor lain yang membuat risiko investasi dianggap tinggi.

Kondisi tersebut terlihat dari kinerja sejumlah anak usaha MNC. Pada semester I-2025, laba MNCN tercatat turun 21,39% secara tahunan. Penurunan juga terjadi pada BMTR sebesar 21,8% dan KPIG sebesar 24,71%.

Di tengah penurunan tersebut, MSIN menjadi salah satu pengecualian karena masih mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 4,34%.

Artinya, persoalan yang dihadapi Grup MNC bukan semata-mata perusahaan kehilangan kemampuan menghasilkan keuntungan. Persoalannya adalah pertumbuhan dan kualitas keuntungan antar-entitas dalam grup tidak bergerak seragam.

Hal ini penting bagi investor karena valuasi saham tidak hanya mempertimbangkan berapa besar laba yang sudah dihasilkan, tetapi juga bagaimana laba tersebut akan berkembang pada tahun-tahun berikutnya.

Media Masih Menjadi Tulang Punggung

Struktur pendapatan BHIT juga menunjukkan jika transformasi bisnis MNC belum sepenuhnya meninggalkan bisnis tradisionalnya. Segmen media masih menyumbang 63,4% pendapatan pada 2025. Sementara bisnis keuangan berada di posisi kedua dengan kontribusi 24,7%.

Besarnya kontribusi media membuat kinerja grup tetap berkaitan erat dengan perubahan industri media dan perilaku konsumsi masyarakat.

Perubahan dari televisi konvensional menuju platform digital, pergeseran belanja iklan, persaingan platform streaming, serta perubahan pola konsumsi konten menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi prospek bisnis media.

Di sinilah muncul persoalan bagi valuasi, MNC dapat memiliki bisnis dengan skala besar dan tetap menghasilkan laba, tetapi investor bisa memberikan valuasi lebih rendah apabila mereka melihat pertumbuhan industri inti mulai melambat atau membutuhkan investasi besar untuk bertransformasi.

Dengan kata lain, besar kecilnya laba bukan satu-satunya pertanyaan yang diajukan pasar.

Baca juga : Rahasia Singapura Jadi Jujukan Kantor 4.200 Perusahaan Global

Investor juga melihat dari mana laba tersebut berasal, apakah dapat dipertahankan, seberapa cepat pertumbuhannya, dan apakah perusahaan mampu menghasilkan arus kas yang cukup untuk membiayai ekspansi sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.

Paradoks tersebut semakin terlihat pada MSIN. PT MNC Digital Entertainment Tbk memiliki eksposur terhadap bisnis digital entertainment yang secara narasi memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan media konvensional.

Namun, narasi tersebut belum otomatis menghasilkan apresiasi harga saham.

Saham MSIN mengalami tekanan signifikan dalam periode satu tahun. Di sisi lain, perusahaan justru sedang mendorong ekspansi internasional melalui V+Short, platform micro-drama yang menyasar pasar global.

V+Short diluncurkan di Hong Kong pada Mei 2026. Dalam waktu sekitar dua minggu, platform tersebut disebut telah mencapai 2,2 juta instalasi dan hampir 5 juta instalasi secara global dalam satu bulan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa MNC sedang mencoba membangun sumber pertumbuhan baru di luar pasar media domestik. Namun, dari perspektif pasar modal, pertumbuhan jumlah pengguna belum otomatis sama dengan pertumbuhan laba.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun Hampir 1 Persen

Investor tetap perlu melihat bagaimana jumlah pengguna tersebut dikonversi menjadi pendapatan, berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengguna, berapa tingkat retensi pengguna, serta seberapa besar margin bisnis micro-drama yang dapat dihasilkan.

MNC juga mendorong MSIN menuju secondary listing di Hong Kong Stock Exchange (HKEX) melalui Hong Kong Depositary Receipts (HDR). MSIN disebut telah mengajukan dokumen A1 kepada HKEX pada April 2026.

Jika terealisasi, langkah tersebut dapat membuka akses MSIN terhadap basis investor internasional sekaligus memperkenalkan bisnis digital entertainment MNC kepada pasar yang lebih luas.

Namun, listing di luar negeri juga berarti perusahaan harus mampu menjelaskan prospek bisnisnya kepada investor dengan ekspektasi dan standar keterbukaan yang berbeda.

Dengan demikian, ekspansi global tidak serta-merta menyelesaikan persoalan valuasi. Pasar tetap akan mempertanyakan apakah ekspansi tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan.