Tren Pasar

Mengupas Arah Big Banks Saat IHSG Bearish

  • Saham bank besar Indonesia tertekan saat fundamental tetap kuat. Ini analisis lengkap prospek BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI di tengah koreksi pasar.
WhatsApp Image 2026-05-05 at 17.48.48.jpeg
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kembali menggelar Mandiri Lelang Festival 2026 sebagai upaya optimalisasi aset sekaligus membuka akses investasi bagi masyarakat. (Bank Mandiri)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Harga saham bank-bank besar Indonesia mengalami tekanan signifikan sepanjang 2026 meski kinerja fundamental mereka masih menunjukkan pertumbuhan positif. 

Fenomena ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, mengapa saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI terus melemah ketika laba bersih justru meningkat?

Data kuartal I-2026 menunjukkan rata-rata laba bersih empat bank terbesar Indonesia tumbuh sekitar 10%-15% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun di saat yang sama, harga saham sektor perbankan ikut terseret koreksi pasar yang lebih luas.

Sepanjang 2026 hingga pertengahan Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun sekitar 26,3% secara year-to-date (YTD). Kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang terjadi lebih banyak dipicu sentimen eksternal dibandingkan penurunan kualitas fundamental emiten perbankan.

Baca Juga : Hanya 4 Saham yang Naik di Pembukaan LQ45 Hari Ini

Mengapa Saham Bank Besar Turun?

Setidaknya terdapat empat faktor utama yang menekan saham-saham perbankan nasional sepanjang 2026.

1. Aksi Jual Asing Masif

Tekanan terbesar berasal dari arus keluar dana asing (foreign outflow). Investor asing tercatat konsisten melakukan aksi jual sejak awal tahun.

Nilai net sell asing mencapai:

  • Januari 2026: Rp13,3 triliun
  • Februari 2026: Rp5,7 triliun
  • Maret 2026: Rp10,5 triliun
  • April 2026: Rp16,8 triliun
  • Hingga pertengahan Mei 2026: Rp4,9 triliun

Karena saham perbankan merupakan sektor dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas terbesar di Bursa Efek Indonesia, tekanan jual asing secara langsung berdampak terhadap harga saham bank-bank besar.

2. Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting yang memicu tekanan pasar. Pada 3 Juni 2026, rupiah tercatat menyentuh level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat. 

Pelemahan tersebut dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik terkait konflik Iran dan Amerika Serikat.

Investor asing umumnya sangat sensitif terhadap pergerakan mata uang. Ketika rupiah melemah, mereka cenderung mengurangi eksposur terhadap aset domestik, termasuk saham sektor perbankan.

3. Rebalancing Indeks MSCI

Tekanan lain datang dari proses rebalancing indeks MSCI Global yang diumumkan pada akhir Mei 2026.

Penyesuaian portofolio oleh investor institusi global memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham likuid, termasuk BBCA. Tekanan paling kuat terjadi pada Jumat, 29 Mei 2026, yang merupakan hari efektif perubahan komposisi indeks.

4. Kenaikan Suku Bunga BI

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah. 

Namun pasar khawatir kenaikan suku bunga dapat memperlambat pertumbuhan kredit dan mengurangi permintaan pembiayaan dari masyarakat maupun dunia usaha.

BBCA: Bank Premium dengan Kualitas Aset Terbaik

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih Rp14,68 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 3,83% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank ini memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,8%, salah satu yang terendah di industri. Sementara rasio CASA mencapai 85,2% dari total dana pihak ketiga, menjadikannya bank dengan dana murah terbesar di kelompok big banks.

Valuasi BBCA saat ini berada pada kisaran PBV 2,5 kali dan PE 12,4 kali, mendekati posisi minus tiga standar deviasi dari rata-rata historisnya. Return on Equity (ROE) tercatat sekitar 22%, tertinggi di industri perbankan nasional.

Perseroan juga berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali pada 2026, yakni pada Juni, September, dan Desember.

Kekuatan utama BBCA terletak pada kualitas aset yang sangat baik, biaya dana rendah, serta pertumbuhan fee-based income yang meningkat 14% YoY. Namun pertumbuhan laba yang hanya 3,83% menjadi yang terendah dibanding bank besar lainnya karena bisnisnya sudah berada pada tahap yang sangat matang.

Baca juga : Kupas Tuntas Prospek ADMR, Masih Layak Dibeli?

BBRI: Raja UMKM dengan Dividend Yield Dua Digit

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba bersih Rp15,63 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 13,77% YoY. ROA tercatat 2,8%, sedangkan ROE mencapai 18,4%. Dari sisi permodalan, rasio CAR mencapai 22,9%, jauh di atas ketentuan regulator.

Keunggulan utama BBRI adalah dominasi di sektor UMKM. Total kredit UMKM yang disalurkan mencapai Rp1.211 triliun atau sekitar 77,5% dari total portofolio kredit.

Daya tarik lain BBRI adalah dividend yield yang diperkirakan mencapai 10%-11% per tahun. Perseroan membagikan dividen Rp52,1 triliun dari laba tahun buku 2025 dengan payout ratio di atas 80%.

Meski demikian, fokus pada segmen UMKM membuat BBRI lebih sensitif terhadap perlambatan ekonomi dan kenaikan suku bunga dibanding bank yang lebih banyak bermain di segmen korporasi.

BMRI: Pertumbuhan Tertinggi dengan Kualitas Kredit Terbaik

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026, naik 16,6% YoY dan menjadi yang tertinggi di antara bank-bank besar.

Penyaluran kredit tumbuh 17,4% YoY menjadi Rp1.530 triliun. Rasio NPL berada di level 0,98%, terendah di antara bank-bank BUMN. Sementara NPL coverage mencapai 245%, mencerminkan tingkat pencadangan yang sangat konservatif.

ROE BMRI berada di kisaran 20,1%-20,7%. Dividend yield BMRI diproyeksikan tetap berada di atas 8% sepanjang periode 2026 hingga 2028.

Meski memiliki kombinasi pertumbuhan kredit dan kualitas aset terbaik, investor tetap perlu mencermati Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 92,4%. Angka tersebut relatif tinggi meski masih dalam batas yang aman.

BBNI: Valuasi Termurah dengan Potensi Turnaround

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat laba bersih Rp5,6 triliun pada kuartal I-2026 atau tumbuh 5,2% YoY. Pertumbuhan CASA mencapai 26,6% YoY, tertinggi di antara bank besar lainnya. Dari sisi permodalan, rasio KPMM mencapai 18,5%.

LDR BBNI berada pada level 83,5%, menjadi yang paling sehat di antara kelompok big banks.

Valuasi saham BBNI juga menjadi yang paling murah dengan PBV sekitar 0,88 kali dan PE sekitar 6,97 kali. Artinya, saham ini diperdagangkan di bawah nilai bukunya.

Margin laba bersih BBNI mencapai 40% dalam periode trailing twelve months (TTM), lebih tinggi dibanding rata-rata industri sebesar 34%.

Meski pertumbuhan laba dan ROE sekitar 12% masih tertinggal dibanding BBCA maupun BMRI, digitalisasi melalui aplikasi wondr by BNI yang telah memiliki lebih dari 13 juta pengguna menjadi salah satu katalis yang berpotensi mendorong perbaikan kinerja ke depan.

Masih Layak Dibeli?

Jawaban atas pertanyaan tersebut bergantung pada profil risiko masing-masing investor.

Bagi investor jangka panjang dengan horizon lebih dari tiga tahun, banyak analis menilai kondisi saat ini dapat menjadi momentum akumulasi bertahap. Alasannya, valuasi saham bank besar sudah berada pada level yang relatif murah secara historis, sementara fundamental bisnis tetap kuat.

Untuk investor jangka menengah dengan horizon enam hingga 24 bulan, pendekatan wait and see dinilai lebih tepat sambil menunggu stabilisasi rupiah dan kembalinya arus dana asing ke pasar domestik.

Sementara bagi trader jangka pendek, volatilitas tinggi dapat dimanfaatkan untuk strategi swing trading dengan disiplin stop loss yang ketat. Sebelum mengambil keputusan investasi, terdapat empat indikator yang perlu dicermati:

  • Pergerakan rupiah terhadap dolar AS.
  • Arah foreign flow atau arus dana asing.
  • Kebijakan suku bunga Bank Indonesia pasca kenaikan 50 bps pada Mei 2026.
  • Laporan keuangan kuartal II-2026 yang akan dirilis pada Juli hingga Agustus mendatang.

Pada akhirnya, penurunan harga saham tidak selalu berarti bisnis yang mendasarinya sedang memburuk. Dalam kasus bank-bank besar Indonesia saat ini, mayoritas indikator fundamental masih menunjukkan kondisi yang sehat. Tantangan utama justru berasal dari sentimen global, pergerakan rupiah, dan arus dana asing yang masih keluar dari pasar domestik.