Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 26 Agustus 2026?
- Rupiah menguat ke Rp17.695 per dolar AS meski defisit transaksi berjalan RI melebar. Simak dampak impor minyak dan arus modal terhadap rupiah.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 28 poin atau 0,16% ke level Rp17.695 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.723 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kondisi transaksi berjalan Indonesia yang justru mengalami pelebaran defisit pada kuartal II 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membiayai transaksi dengan luar negeri.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, salah satunya dipengaruhi respons pasar terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.
Data menunjukkan defisit transaksi berjalan mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2026. Angka tersebut melonjak dibandingkan defisit kuartal sebelumnya sebesar US$3,6 miliar atau sekitar 1% dari PDB.
Transaksi berjalan mencatat berbagai transaksi ekonomi Indonesia dengan luar negeri, mulai dari perdagangan barang dan jasa, pendapatan primer, hingga transfer. Ketika mengalami defisit, berarti pembayaran Indonesia kepada pihak luar negeri lebih besar dibandingkan penerimaan dari luar negeri dalam periode tersebut.
Impor Minyak Jadi Salah Satu Tekanan
Menurut Ibrahim, pelebaran defisit transaksi berjalan antara lain dipengaruhi faktor yang bersifat sementara, terutama meningkatnya impor minyak ketika harga minyak dunia masih tinggi.
Harga minyak yang mahal membuat kebutuhan dolar untuk membiayai impor energi ikut meningkat. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan sekaligus rupiah.
Selain impor energi, risiko lain berasal dari perlambatan ekonomi global yang berpotensi menekan ekspor Indonesia. Ketegangan geopolitik juga dapat memperbesar ketidakpastian perdagangan dan mengganggu arus barang maupun investasi.
NPI Masih Tertopang Arus Modal
Meski transaksi berjalan memburuk, kondisi neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih relatif terjaga.
Pada kuartal II 2026, NPI mencatat defisit sekitar US$900 juta, jauh lebih kecil dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.
Perbaikan tersebut terutama ditopang transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus US$12 miliar, setelah pada kuartal sebelumnya mengalami defisit US$4,8 miliar.
Artinya, tekanan dari defisit transaksi berjalan masih mampu diimbangi oleh arus modal dan finansial yang masuk ke Indonesia. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga stabilitas eksternal sekaligus memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat.
Apa yang Berubah Hari Ini?
Rupiah kembali berada di bawah Rp17.700 per dolar AS meski pasar menghadapi persoalan transaksi berjalan yang cukup besar.
Kontras tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh neraca perdagangan atau transaksi berjalan. Arus modal asing, pergerakan dolar AS, harga komoditas, serta sentimen global juga memiliki peran besar dalam menentukan nilai tukar.
Namun, pelebaran defisit transaksi berjalan tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan jika harga minyak tinggi dan kebutuhan impor energi bertahan dalam waktu lama.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Bagi masyarakat, pelemahan transaksi berjalan belum tentu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya terhadap rupiah akan lebih terlihat jika defisit tersebut berlangsung lama dan kebutuhan dolar untuk impor terus meningkat.
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah harga energi. Jika harga minyak dunia tetap tinggi, biaya impor energi dapat meningkat dan pada akhirnya berpotensi memberikan tekanan terhadap harga BBM, transportasi, logistik, hingga barang yang menggunakan energi dalam proses produksinya.
Sebaliknya, jika harga minyak kembali turun dan arus modal asing tetap kuat, tekanan terhadap rupiah dapat lebih terkendali.
Yang Perlu Dipantau Investor
Investor perlu mencermati harga minyak dunia, perkembangan impor energi, kinerja ekspor, serta arus modal dan finansial Indonesia.
Kemampuan transaksi modal dan finansial dalam menutup defisit transaksi berjalan menjadi faktor penting. Jika arus modal tetap kuat, tekanan terhadap neraca pembayaran dan rupiah dapat diredam.
Namun, apabila harga minyak terus tinggi sementara ekspor melemah, defisit transaksi berjalan berpotensi kembali membesar dan menjadi sumber tekanan bagi rupiah dalam beberapa kuartal mendatang.

Chrisna Chanis Cara
Editor
