Meneropong Saham GOTO Usai Antrean Jual Tembus 1 Miliar Lot
- Saham GOTO langsung ARB ke Rp43 setelah aturan minimum harga Rp1 berlaku. Antrean jual mencapai 1,03 miliar lot.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) langsung menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) di level Rp43 pada perdagangan Senin, 28 September 2026.
Penurunan tersebut terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham.
Sebelum aturan baru berlaku, saham GOTO telah tertahan di level Rp50 sejak 5 Mei 2026. Batas minimum tersebut membuat ruang pergerakan saham di bawah level gocap menjadi tertutup.
Mulai 28 September 2026, saham yang sebelumnya terkunci di Rp50 dapat bergerak lebih rendah. BEI menyebut perubahan tersebut ditujukan untuk memperluas rentang perdagangan, meningkatkan kualitas price discovery, mendorong likuiditas, serta memberikan fleksibilitas bagi pelaku pasar.
Pada perdagangan hari pertama penerapan aturan, GOTO menjadi salah satu saham yang turun dari Rp50 ke Rp43 atau sekitar 14%. Penurunan tersebut juga terjadi pada sejumlah saham lain yang sebelumnya berada di level Rp50.
Baca juga : Rupiah Dekati Rp18.000, Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Asia
Antrean Jual GOTO Membengkak
Tekanan jual menjadi faktor utama yang terlihat pada perdagangan GOTO setelah batas harga minimum Rp50 dihapus. Pada sekitar pukul 10.55 WIB, antrean jual saham GOTO di harga Rp43 tercatat mencapai sekitar 1,03 miliar lot. Besarnya antrean tersebut menunjukkan adanya pasokan saham yang masih menunggu untuk terserap di pasar.
Kondisi ini menjadi bagian penting dalam proses price discovery. Selama harga GOTO tertahan di Rp50, investor yang ingin melepas saham pada harga lebih rendah tidak memiliki ruang untuk melakukan transaksi di pasar reguler.
Setelah batas minimum diubah menjadi Rp1, ruang tersebut akhirnya terbuka. Dengan demikian, tekanan jual yang muncul pada perdagangan pertama tidak serta-merta dapat dibaca sebagai perubahan fundamental perusahaan.
Pergerakan harga pada fase awal lebih berkaitan dengan bertemunya kembali permintaan dan penawaran pada rentang harga yang sebelumnya tidak tersedia.
BEI sendiri menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama perubahan aturan tersebut adalah memberikan ruang agar pembentukan harga saham berlangsung lebih optimal.
Jauh sebelum aturan baru berlaku, sejumlah analis telah memperkirakan bahwa saham GOTO akan menghadapi volatilitas tinggi ketika batas Rp50 dicabut.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta memperkirakan saham GOTO berpotensi menguji kisaran Rp20-Rp30. Dalam skenario tekanan jual yang sangat kuat, Nafan juga menyebut GOTO dapat bergerak menuju Rp10-Rp20. Proyeksi tersebut merupakan skenario teknikal akibat tekanan pasokan dan bukan pernyataan bahwa Rp10-Rp20 merupakan harga wajar GOTO.
Nafan juga menilai transaksi GOTO di pasar negosiasi pada kisaran Rp23-Rp25 sebelumnya dapat menjadi salah satu referensi dalam proses price discovery. Mirae Asset sendiri memberikan status Not Rated untuk GOTO.
Artinya, level Rp20, Rp30 maupun Rp10 bukanlah target harga resmi yang dapat dianggap sebagai nilai intrinsik perusahaan. Angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai area teknikal yang mungkin diuji apabila tekanan jual tetap tinggi.
Baca juga : Mulai Hari Ini, Kamu Bisa Beli Saham Seharga Rp1!
Fundamental GOTO Justru Mengalami Perbaikan
Di tengah tekanan harga saham, kinerja operasional GOTO menunjukkan perkembangan yang berbeda. Pada kuartal II-2026, GOTO mencatat laba bersih Rp252 miliar, melanjutkan laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I-2026. Dengan demikian, GOTO telah mencatat laba bersih selama dua kuartal berturut-turut.
Pendapatan bersih GOTO pada kuartal II-2026 juga meningkat 31% secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun. Sementara itu, Core GTV tumbuh 83% menjadi Rp164 triliun dan Annual Transacting Users meningkat 19% menjadi 71 juta pengguna.
Dari sisi profitabilitas operasional, EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat 137% secara tahunan dan menembus lebih dari Rp1 triliun untuk pertama kalinya.
Manajemen mempertahankan panduan EBITDA Grup yang disesuaikan untuk 2026 di kisaran Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun. Panduan EBITDA bisnis fintech bahkan dinaikkan menjadi Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun, sedangkan panduan On-Demand Services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun.
Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny sebelumnya juga menyatakan keputusan MSCI terkait GOTO bersifat teknis karena harga saham berada di Rp50 dan volume perdagangan rendah, bukan karena kinerja perseroan.
Baca juga : Saham Rp1 Berlaku, GOTO Langsung Ambles 14 Persen
Bagaimana dengan Valuasi DCF GOTO?
Selain target analis, terdapat pula pendekatan valuasi menggunakan Discounted Cash Flow (DCF) yang menghasilkan nilai intrinsik berbeda.
Dikutip laman valueinvesting.io, berdasarkan model DCF yang menjadi acuan dalam analisis ini, nilai intrinsik GOTO per 9 Juni 2026 berada di sekitar Rp9,07 per saham, dengan rentang estimasi Rp8,32-Rp9,47.
Jika menggunakan angka tersebut sebagai acuan, valuasi GOTO pada harga Rp50 saat itu berada jauh di atas estimasi DCF tersebut.
Namun, angka DCF sangat bergantung pada asumsi yang digunakan, termasuk proyeksi pertumbuhan pendapatan, margin, arus kas bebas, belanja modal, tingkat diskonto, dan pertumbuhan terminal. Karena itu, nilai Rp9,07 tidak dapat diposisikan sebagai satu-satunya "harga wajar" GOTO.
Hal ini juga menjelaskan mengapa pendekatan valuasi dapat menghasilkan angka yang berbeda dengan target harga analis. Model DCF dan target harga berbasis multiple atau pendekatan lainnya menggunakan asumsi yang berbeda.
Di tengah proses pembentukan harga baru GOTO, terdapat pula transaksi institusional yang menarik perhatian pasar.
Morgan Stanley and Co International Plc tercatat membeli 400 juta saham GOTO pada harga Rp27 per saham pada 18 September 2026. Nilai transaksi tersebut sekitar Rp10,8 miliar.
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Morgan Stanley meningkat menjadi 80,939 miliar saham atau 7,0299% dari sebelumnya 6,9951%. Dalam keterbukaan informasi, transaksi tersebut disebut dilakukan untuk tujuan investasi.
Harga Rp27 tersebut juga menarik karena berada jauh di bawah level Rp50 yang menjadi harga perdagangan GOTO di pasar reguler sebelum aturan baru berlaku.

Chrisna Chanis Cara
Editor
