Tren Pasar

Membaca Rumor IPO Kopi Kenangan, Ini yang Perlu Dicermati Investor

  • Rumor IPO Kopi Kenangan kembali naik dengan valuasi hingga US$1 M. Meski belum resmi, investor perlu cermati valuasi, kondisi pasar dan prospek bisnis sebelum ambil keputusan.
Jadi Unicorn F&B Pertama di ASEAN, Kopi Kenangan Mejeng di Billboard Nasdaq.jpg
Ucapan selamat Nasdaq untuk Kopi Kenangan setelah menjadi unicorn F&B pertama di Asia Tenggara pada billboard di depan kantor bursa saham elektronik di New York, Amerika Serikat. (Instagram/@sandiuno)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Rumor mengenai rencana penawaran umum perdana saham (IPO) Kopi Kenangan kembali mengemuka setelah sejumlah laporan media internasional menyebut perusahaan tengah mempertimbangkan langkah tersebut dengan potensi valuasi mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp17 triliun. 

Nilai itu akan menempatkan Kopi Kenangan sebagai salah satu perusahaan ritel makanan dan minuman (F&B) terbesar yang melantai di pasar modal Indonesia. Namun, di tengah ramainya spekulasi tersebut, pendiri sekaligus CEO Kopi Kenangan, Edward Tirtanata, memberikan klarifikasi.

Ia menegaskan perusahaan belum memiliki rencana IPO pada 2026 dan hingga kini belum menetapkan waktu maupun bursa pencatatan saham, baik di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun bursa luar negeri. Artinya, yang beredar saat ini masih sebatas pembicaraan pasar, bukan pengumuman resmi.

Meski demikian, rumor tersebut tetap menarik dicermati. Sebab, jika suatu saat Kopi Kenangan benar-benar melantai di bursa, perusahaan akan memasuki pasar modal yang kondisinya sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

IPO di Tengah Pasar yang Belum Sepenuhnya Pulih

Sepanjang 2026, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat tertekan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak naik dari titik terendah sekitar 5.317 pada Juni menuju kisaran 6.000. Namun pemulihan tersebut belum sepenuhnya dibarengi dengan kembalinya arus modal asing secara konsisten.

Di sisi lain, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50%, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. 

Lingkungan suku bunga yang relatif tinggi biasanya membuat investor menjadi lebih selektif terhadap saham-saham dengan valuasi premium, khususnya emiten yang masih berada pada fase ekspansi.

Selain faktor domestik, pasar Indonesia juga masih menghadapi perhatian dari penyedia indeks global terkait isu likuiditas, transparansi, dan aksesibilitas pasar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi minat investor institusi asing yang selama ini menjadi salah satu penopang utama keberhasilan IPO berukuran besar.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, keputusan investor global saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh fundamental perusahaan, tetapi juga stabilitas makroekonomi dan persepsi terhadap pasar negara berkembang.

"Di tengah ketidakpastian global, investor cenderung lebih selektif. Perusahaan dengan fundamental kuat tetap menarik, tetapi faktor valuasi dan kondisi pasar menjadi pertimbangan utama," ujarnya dalam sejumlah analisis pasar sepanjang 2026.

Valuasi US$1 Miliar, Masihkah Relevan?

Laporan Bloomberg menyebut valuasi Kopi Kenangan berpotensi mencapai US$1 miliar. Angka tersebut sebenarnya tidak muncul tanpa alasan. Perusahaan melaporkan pendapatan bersih sekitar US$184 juta pada 2025, meningkat sekitar 45% dibanding tahun sebelumnya. 

Laba bersih juga mencapai sekitar US$17 juta, sebuah capaian yang relatif jarang bagi perusahaan rintisan (startup) yang masih berada dalam fase ekspansi. 

Saat ini Kopi Kenangan telah mengoperasikan lebih dari 1.300 gerai di enam negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, India, dan Australia.

Secara fundamental, kombinasi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas menjadi modal penting untuk menarik investor.

Namun pertanyaan berikutnya adalah apakah pasar bersedia membayar valuasi premium di tengah kondisi yang masih penuh ketidakpastian.

Menurut Managing Director PT Verdhana Sekuritas Indonesia, Michael Kurtz, valuasi perusahaan pada saat IPO pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kinerja keuangan, tetapi juga sentimen pasar dan selera risiko investor.

"Perusahaan yang bagus sekalipun dapat memperoleh valuasi berbeda tergantung kondisi pasar ketika melakukan penawaran saham," ujarnya dalam sebuah diskusi mengenai dinamika IPO di Indonesia.

Tiga Hal yang Perlu Dicermati Investor

Jika suatu saat Kopi Kenangan benar-benar melantai di bursa, setidaknya terdapat tiga pertanyaan yang layak menjadi perhatian investor ritel.

1. Apakah valuasi mencerminkan fundamental?

Investor perlu melihat apakah valuasi yang ditawarkan sebanding dengan pertumbuhan pendapatan, laba, dan prospek bisnis perusahaan.

Rasio seperti Price to Earnings (PER) maupun Price to Sales (P/S) akan menjadi indikator penting untuk membandingkan Kopi Kenangan dengan perusahaan F&B maupun consumer retail lain yang telah tercatat di bursa.

2. Di mana perusahaan akan mencatatkan saham?

Sejumlah laporan menyebut berbagai opsi masih terbuka, mulai dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Singapore Exchange (SGX), hingga kemungkinan dual listing.

Pilihan bursa akan memengaruhi basis investor, likuiditas saham, hingga standar pelaporan yang harus dipenuhi perusahaan.

3. Mampukah ekspansi tetap menghasilkan laba?

Salah satu daya tarik utama Kopi Kenangan adalah kemampuannya tumbuh sekaligus mencetak laba.

Namun perusahaan juga masih memiliki ruang ekspansi yang besar. Jika rencana penambahan ratusan gerai baru dijalankan, investor perlu mencermati apakah margin keuntungan tetap terjaga atau justru tergerus oleh biaya pembukaan gerai dan operasional.

Didukung Investor Kelas Dunia

Daya tarik Kopi Kenangan juga tercermin dari daftar investornya. Selain perusahaan modal ventura seperti Sequoia Capital India (kini Peak XV Partners), Alpha JWC Ventures, dan Horizons Ventures, perusahaan juga mendapat dukungan Arrive, dana investasi yang didukung ikon musik Jay-Z, atlet tenis Serena Williams, serta sejumlah figur internasional lainnya.

Masuknya investor global tersebut menunjukkan bahwa bisnis kopi Indonesia dinilai memiliki potensi untuk berkembang menjadi merek konsumen berskala regional.

Meski demikian, kehadiran investor besar bukan jaminan bahwa saham akan selalu memberikan imbal hasil tinggi setelah IPO.

Sejarah pasar modal menunjukkan tidak sedikit perusahaan dengan dukungan investor ternama tetap mengalami volatilitas harga ketika mulai diperdagangkan di bursa.

Belajar dari IPO Sektor Kopi

Rumor IPO Kopi Kenangan juga mengingatkan pasar pada pencatatan saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) pada 2025.

Saat itu, antusiasme investor terhadap sektor kopi cukup tinggi karena perusahaan menawarkan narasi pertumbuhan konsumsi domestik, digitalisasi, dan ekspansi gerai.

Namun setiap IPO memiliki karakteristik berbeda. Kondisi pasar, valuasi, struktur pemegang saham, hingga momentum ekonomi dapat menghasilkan respons investor yang tidak sama.

Karena itu, apabila Kopi Kenangan benar-benar menuju lantai bursa pada masa mendatang, investor sebaiknya tidak hanya terpikat oleh kekuatan merek atau popularitas produknya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah harga saham yang ditawarkan benar-benar mencerminkan nilai bisnisnya, serta apakah perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan dan profitabilitas ketika memasuki fase ekspansi berikutnya.