Melemah, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 8 September 2026?
- Rupiah melemah tipis ke Rp17.645 per dolar AS pada Selasa 8 September 2026, meski cadangan devisa naik ke US$146,5 miliar. Tekanan minyak dan global masih membayangi.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah tipis pada pembukaan perdagangan Selasa, 8 September 2026. Penguatan cadangan devisa Indonesia menjadi penopang rupiah, tetapi tekanan dari harga minyak, geopolitik, dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) masih membatasi ruang penguatan.
Rupiah dibuka turun 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.645 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.640 per dolar AS.
Pada perdagangan Senin, 7 September 2026, rupiah justru ditutup menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke Rp17.640 per dolar AS.
Penguatan terbatas tersebut salah satunya ditopang oleh kabar kenaikan cadangan devisa Indonesia.
Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, naik US$1,2 miliar dibandingkan akhir Juli 2026 yang sebesar US$145,3 miliar.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan kenaikan cadangan devisa menjadi salah satu faktor yang membantu menopang rupiah. Namun, penguatan mata uang Garuda masih terbatas karena investor tetap memperhitungkan berbagai risiko eksternal.
“Untuk jangka pendek, walau momentum penguatan rupiah masih kuat, volatilitas eksternal diperkirakan masih akan mendominasi dan berpotensi menahan penguatan lanjutan rupiah,” ujar Lukman.
Kenaikan cadangan devisa memberikan bantalan bagi sektor eksternal Indonesia. Posisi devisa yang lebih kuat juga dapat meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan Indonesia menghadapi tekanan di pasar valuta asing.
Namun, sentimen tersebut belum cukup untuk menghilangkan tekanan dari pasar global.
Harga Minyak Jadi Perhatian
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai kenaikan harga minyak menjadi salah satu risiko yang masih membayangi rupiah.
“Dari global, tekanan terhadap rupiah masih tinggi akibat harga minyak yang naik di atas 95 dolar AS,” kata Rully.
Harga minyak yang tinggi menjadi perhatian bagi Indonesia karena kebutuhan energi nasional masih memiliki ketergantungan terhadap impor. Ketika harga minyak dunia meningkat, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi juga berpotensi bertambah.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan dolar AS dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap rupiah.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sumber volatilitas pasar. Investor cenderung meningkatkan kewaspadaan ketika risiko geopolitik meningkat karena dapat memicu perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Menunggu Data Inflasi AS
Selain minyak dan geopolitik, pasar valuta asing juga menunggu sejumlah indikator ekonomi AS untuk membaca arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Kuatnya pasar tenaga kerja AS membuat data inflasi, khususnya Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), menjadi perhatian utama investor.
Kedua indikator tersebut akan membantu pasar memperkirakan apakah tekanan inflasi di AS terus mereda atau masih cukup tinggi untuk membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat.
Jika inflasi AS kembali menunjukkan tekanan, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama dapat menguat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter AS dan membuka ruang bagi rupiah untuk mendapatkan sentimen positif.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Kenaikan cadangan devisa menjadi sinyal positif bagi ketahanan eksternal Indonesia. Namun, pergerakan rupiah di level Rp17.600-an menunjukkan tekanan global masih perlu diperhatikan.
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya energi dan transportasi. Jika berlangsung lama, kenaikan biaya tersebut dapat merembet ke biaya distribusi dan harga sejumlah barang.
Sementara itu, rupiah yang relatif lemah terhadap dolar AS dapat membuat sejumlah kebutuhan impor menjadi lebih mahal. Dampaknya terutama terasa pada barang atau bahan baku yang memiliki kandungan impor tinggi.
Bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan dolar AS, seperti perjalanan ke luar negeri atau pembayaran pendidikan, pergerakan rupiah tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Yang Perlu Dipantau Investor
Ada tiga faktor utama yang perlu diperhatikan investor dalam pergerakan rupiah pekan ini: harga minyak, perkembangan geopolitik Timur Tengah, dan data inflasi AS.
Kenaikan harga minyak di atas US$95 per barel dapat meningkatkan tekanan terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia. Sementara itu, eskalasi geopolitik dapat kembali mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Dari AS, data CPI dan PPI akan menjadi petunjuk penting bagi arah ekspektasi suku bunga The Fed.
Di dalam negeri, posisi cadangan devisa yang mencapai US$146,5 miliar menjadi bantalan positif bagi rupiah. Namun, kekuatan fundamental tersebut akan diuji oleh seberapa besar tekanan eksternal yang muncul di pasar global.
Dengan demikian, penguatan cadangan devisa memberi rupiah fondasi yang lebih kuat, tetapi belum serta-merta menghapus risiko pelemahan dari faktor eksternal.

Chrisna Chanis Cara
Editor
