Melemah, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 10 Juli 2026?
- Rupiah melemah ke Rp18.055 per dolar AS dan menjadi mata uang terlemah di Asia. Simak penyebabnya, dampaknya bagi masyarakat, serta faktor yang perlu dipantau investor.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Jumat, 10 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,31% ke level Rp18.055 per dolar AS di pasar spot.
Hingga pukul 09.05 WIB, tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut sehingga kurs menyentuh Rp18.070 per dolar AS. Pelemahan tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada perdagangan pagi.
Tekanan datang ketika indeks dolar AS masih bertahan tinggi di level 101,01, sementara harga minyak mentah Brent kembali naik ke US$78,74 per barel, memperkuat permintaan terhadap aset safe haven dan membebani mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Di kawasan Asia, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, peso Filipina, dan ringgit Malaysia sama-sama bergerak melemah terhadap dolar AS. Sebaliknya, yuan China, yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong masih mampu mencatat penguatan.
Selain sentimen global, pasar juga menyoroti sejumlah indikator domestik yang belum mampu menopang rupiah. Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) selama tiga bulan berturut-turut mencerminkan kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja.
Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat, sementara pemulihan pasar tenaga kerja dinilai belum cukup kuat untuk mendorong konsumsi domestik.
Sentimen negatif juga datang dari keputusan S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi direklasifikasi pada 2027 apabila isu transparansi dan likuiditas pasar tidak menunjukkan perbaikan.
Langkah tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.
Apa artinya bagi masyarakat? Pelemahan rupiah di atas level Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai komoditas, mulai dari bahan baku industri hingga produk elektronik.
Jika tekanan berlangsung dalam waktu lama, pelaku usaha bisa menghadapi kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya berisiko diteruskan ke harga jual.
Bagi masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri, membayar biaya pendidikan internasional, atau memiliki kewajiban dalam dolar AS, pelemahan rupiah juga berarti pengeluaran yang lebih besar.
Sementara bagi investor, tiga faktor yang layak dipantau dalam beberapa hari ke depan adalah pergerakan indeks dolar AS (DXY), arah harga minyak dunia, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selama sentimen global belum membaik, rupiah diperkirakan masih bergerak di kisaran Rp18.050–Rp18.150 per dolar AS.

Chrisna Chanis Cara
Editor
