Tren Pasar

Lawan Arus MSCI, 4 Emiten Grup Barito Siapkan Dana Rp5,75 T

  • Dihajar sentimen MSCI, saham Grup Prajogo rontok. Manajemen respon cepat dengan buyback jumbo Rp5,75 triliun untuk BRPT, BREN, hingga TPIA.
1715600405583.jpg
Prajogo Pangestu Bos Barito Pacific (Dok/Ist)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kinerja saham emiten di bawah naungan konglomerat Prajogo Pangestu tercatat mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun 2026 ini. Mayoritas saham Grup Barito kompak memerah dengan persentase penurunan harga yang signifikan secara year to date pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Februari 2025.

Merespons penurunan valuasi yang terjadi manajemen bergerak cepat dengan menyiapkan dana jumbo untuk pembelian kembali saham atau buyback. Total dana yang dialokasikan oleh empat emiten utama grup ini mencapai angka fantastis yakni Rp5,75 triliun yang berasal dari kas internal.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menjadi penopang harga saham yang sedang terdiskon besar akibat sentimen negatif pembekuan indeks MSCI. Tak ayal investor menanti dampak nyata dari suntikan likuiditas korporasi ini terhadap pergerakan harga saham BRPT, BREN, CUAN, dan TPIA kedepannya.

1. BRPT Anjlok 33,23%

Saham induk usaha PT Barito Pacific Tbk atau BRPT mencatatkan kinerja paling mengecewakan dengan koreksi terdalam di antara grup. Pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, saham BRPT parkir di level Rp2.130 atau telah anjlok 33,23% secara year to date.

Penurunan sepertiga dari nilai kapitalisasi pasar ini memicu manajemen untuk menyiapkan dana buyback sebesar Rp1 triliun segera. Perseroan telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai perantara untuk melakukan pembelian saham kembali guna meredam volatilitas harga yang sangat ekstrem tersebut di pasar.

Aksi korporasi ini dinilai sangat mendesak mengingat posisi harga saham yang terus tergerus sentimen negatif pasar global. Dukungan pembelian dari kas internal diharapkan dapat membentuk support harga yang kuat dan mengembalikan kepercayaan investor ritel yang mulai pudar terhadap saham ini.

2. CUAN Tergerus 25,11%

Nasib serupa dialami oleh emiten pertambangan batu bara PT Petrindo Jaya Kreasi atau CUAN yang juga terperosok cukup dalam. Harga sahamnya ditutup di level Rp1.715 per lembar pada Rabu sore, mencerminkan penurunan sebesar 25,11% sejak awal tahun berjalan ini.

Menghadapi koreksi seperempat harga tersebut manajemen CUAN tidak tinggal diam dan mengalokasikan dana buybacksenilai Rp750 miliar. BNI Sekuritas ditunjuk sebagai pelaksana untuk mengeksekusi pembelian saham di pasar sekunder agar harga tidak terus merosot ke level yang lebih rendah lagi.

Koreksi tajam pada saham CUAN sebelumnya juga telah memancing aksi beli pribadi dari sang pemilik Prajogo Pangestu. Konglomerat tersebut diketahui memborong jutaan lembar saham saat harga menyentuh level rendah sebagai bentuk keyakinan terhadap fundamental bisnis jangka panjang perusahaan tambang tersebut.

3. BREN dan TPIA Siapkan Rp4 T

Sementara itu saham PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN ditutup di level Rp8.200 atau melemah 15,25% tahun ini. Di sisi lain PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA menjadi yang paling tangguh dengan hanya turun tipis 3,86% ke Rp6.850.

Meski koreksinya bervariasi kedua emiten raksasa ini sama-sama menyiapkan dana buyback paling jumbo masing-masing sebesar Rp2 triliun. Total dana Rp4 triliun siap digelontorkan untuk menopang harga saham kedua entitas ini agar tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi makro global saat ini.

Khusus untuk BREN periode pembelian kembali saham dimulai tepat pada tanggal 4 Februari 2026 hingga tiga bulan kedepan. Ketersediaan dana tunai yang melimpah membuktikan bahwa kondisi keuangan perseroan tetap solid meskipun harga sahamnya sedang mengalami tekanan jual di pasar reguler.

4. Total Stimulus Rp5,75 T

Jika diakumulasikan secara total Grup Prajogo Pangestu menyuntikkan stimulus senilai Rp5,75 triliun ke pasar saham melalui empat emitennya. Langkah serentak ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen memandang valuasi pasar saat ini sudah terlalu murah atau undervalued dibandingkan potensi bisnisnya.

Penggunaan kas internal untuk membiayai aksi korporasi ini juga menepis kekhawatiran mengenai masalah likuiditas di dalam grup konglomerasi. Perusahaan memastikan bahwa dana yang dikeluarkan merupakan kelebihan kas yang tidak akan mengganggu rencana ekspansi maupun kegiatan operasional rutin perseroan kedepan.

Saham hasil buyback ini nantinya akan disimpan sebagai saham treasuri atau treasury stock sesuai dengan regulasi yang berlaku. Saham tersebut tidak akan memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham dan tidak berhak mendapatkan pembagian dividen selama masa penyimpanan tersebut.

5. Akumulasi Pribadi Prajogo

Selain aksi korporasi Prajogo Pangestu secara pribadi merogoh kocek hingga Rp25,77 miliar untuk mengakumulasi saham di pasar reguler. Taipan ini memborong 5 juta lembar saham BRPT senilai Rp13 miliar dan 900 ribu saham BREN senilai Rp8,5 miliar di akhir Januari.

Akumulasi agresif juga dilakukan pada saham CUAN dengan menyerok 11 juta lembar saat harga menyentuh level Auto Reject Bawah. Dengan pembelian masif tersebut kini porsi kepemilikan saham pribadi Prajogo di emiten pertambangan ini semakin menggemuk mencapai angka dominan 84,09 persen.

Aksi borong saham memakai uang pribadi ini menunjukkan komitmen skin in the game yang kuat dari sang pengendali utama. Kombinasi dana pribadi puluhan miliar dan buyback korporasi triliunan rupiah diharapkan mampu menahan kejatuhan harga saham akibat sentimen freeze MSCI.