Laba Solid dan BI Tahan Bunga, Analis Optimistis Saham BBCA Menguat
- Analis menilai saham BBCA masih menarik dengan valuasi PBV 3,4 kali di bawah rata-rata historis. Target pertumbuhan kredit 2025 diproyeksikan tercapai meski menghadapi tantangan permintaan pasar.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 19 November 2025. Apresiasi harga saham ini terjadi di tengah respons positif pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.
Sentimen positif tersebut semakin diperkuat oleh rilis kinerja keuangan perseroan yang solid pada bulan Oktober. Capaian fundamental yang terjaga stabil ini memberikan keyakinan tambahan bagi para investor terhadap prospek pertumbuhan bank swasta terbesar di Indonesia tersebut di sisa tahun ini.
Merespons kinerja tersebut, broker CLSA mempertahankan target harga tinggi untuk saham BBCA di level Rp12.000 per saham. Analis menilai valuasi saham saat ini masih cukup menarik, sehingga merekomendasikan investor untuk mencermati rincian kinerja fundamental dan respons pasar selanjutnya.
1. Respons Pasar Terhadap Kebijakan BI
Saham BBCA ditutup menguat 0,89% ke level Rp8.475 pada perdagangan Rabu sore. Penguatan ini terjadi setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI Rate di level 4,75%, memberikan kepastian stabilitas bagi sektor perbankan.
Keputusan BI ini dinilai kondusif untuk menjaga margin keuntungan bank. Sentimen positif tersebut sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 0,53% ke level 8.406, dengan total nilai transaksi pasar mencapai Rp29,34 triliun.
2. Kinerja Laba dan Kredit Oktober 2025
Secara fundamental, BBCA mencatatkan pertumbuhan laba bersih 3,7% secara bulanan menjadi Rp4,7 triliun pada Oktober 2025. Akumulasi laba bersih sepanjang sepuluh bulan pertama tahun ini mencapai Rp48,2 triliun, atau naik 4,4% secara tahunan (YoY).
Pertumbuhan kredit pada Oktober tercatat 1,1% secara bulanan dan 7,6% secara tahunan. Manajemen BBCA optimistis target pertumbuhan kredit 2025 di kisaran 6-8% akan tercapai. Realisasi ini dinilai sejalan dengan proyeksi CLSA (85%) dan konsensus analis (83%).
3. Stabilitas Margin dan Lonjakan Provisi
Indikator profitabilitas tetap terjaga solid. Margin Bunga Bersih (NIM) stabil di level 5,8% pada Oktober, sama dengan bulan sebelumnya. Manajemen memberikan panduan bahwa NIM sepanjang tahun 2025 akan tetap terjaga di level 5,8% tersebut.
Namun, CLSA mencatat adanya lonjakan pada pos pencadangan. Provisi tercatat naik 96% secara bulanan pada Oktober, setelah sempat turun tajam pada September. Meski demikian, BBCA menargetkan biaya kredit (Cost of Credit) tahun ini tetap terkendali di angka 0,5%.
4. Valuasi dan Target Harga Saham
Merespons kinerja tersebut, CLSA mempertahankan rekomendasi Outperform untuk saham BBCA. Target harga ditetapkan di level Rp12.000 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan (upside) sebesar 43% dari posisi harga pasar terakhir di kisaran Rp8.400.
Secara valuasi, saham BBCA saat ini dinilai cukup menarik. Saham ini diperdagangkan dengan Price to Book Value(PBV) sebesar 3,4 kali. Angka valuasi ini berada di posisi -1 standar deviasi dari rata-rata historisnya dalam beberapa tahun terakhir.
5. Tantangan Makro: Sisi Permintaan
Tantangan pertumbuhan kredit industri masih menjadi sorotan. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan nasional hingga akhir 2025 berkisar 8-11%. Namun, realisasi hingga September baru tumbuh 7,7%, mengindikasikan adanya perlambatan permintaan di pasar.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai masalah utama bukan pada pasokan likuiditas. "Tidak terlalu ada masalah sebenarnya dari sisi supply. Masalah utamanya sebenarnya memang masih di sisi demand," ungkap David, menyoroti lemahnya permintaan kredit dari nasabah saat ini.

Alvin Bagaskara
Editor
