Tren Pasar

Koperasi Desa Saingi AMRT? Analis Ungkap Kelemahan Dasarnya

  • Saham MIDI merosot 28,19% dan AMRT anjlok 19,59% akibat sentimen Koperasi Desa. Meski demikian, analis tetap pertahankan rekomendasi beli untuk sektor ritel.
Ilustrasi Belanja Alfamart - Panji 3.jpg
Nampak pembeli tengah berbelanja di sebuah gerai waralaba di kawasan Tangerang. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Rencana ekspansi masif Koperasi Desa Merah Putih yang digagas pemerintah rupanya telah memicu kepanikan di pasar modal. Tak ayal, investor beramai-ramai melepas saham emiten ritel minimarket seperti PT Sumber Alfaria Jaya Tbk (AMRT) dan PT MIDI Utama Indonesia Tbk (MIDI).

Berdasarkan data yang dihimpun TrenAsia.id hingga perdagangan sesi pertama Kamis 5 Maret 2026, saham AMRT yang merupakan pengelola gerai Alfamart ini  telah anjlok hingga 19,59% secara year to date. Sementara MIDI yang dikenal jenama Alfamidi sahamnya juga merosot lebih parah sebesar 28,19% ke level Rp270 per saham.

Tim Research Analyst CGS International Sekuritas mengungkapkan penurunan masif AMRT dan MIDI ini juga didorong oleh sentimen Morgan Stanley Capital Index (MSCI). Oleh karena itu, kekhawatiran pelaku pasar akan ekspansi Koperasi Desa Merah Putih tersebut dinilai terlalu berlebihan.

Tinjauan Lapangan Dua Koperasi

Untuk membuktikkan itu, tim analis CGS International sendiri telah meninjau 2 Koperasi Desa Merah Putih di Jakarta yakni di Kemang yang memanfaatkan ruang milik pemerintah daerah. dan di Blok M, Jakarta Selatan, yang berlokasi secara khusus di dalam area pusat ritel.

Meskipun koperasi ini mampu menjual bahan kebutuhan pokok bersubsidi dengan harga sangat kompetitif, terdapat kelemahan mendasar yang ditemukan. “Model bisnis ini belum banyak diantisipasi pasar terutama terkait keterbatasan kapasitas operasional harian koperasi,” tulis tim analis dikutip TrenAsia.id pada Kamis, 5 Maret 2026. 

Selain itu, dukungan sewa gratis dari pemerintah memang menjadi keunggulan utama dalam menekan harga jual komoditas beras, minyak goreng, hingga gas elpiji. Namun, faktor ruang yang sempit dan keterbatasan jumlah jenis barang menjadi hambatan bagi koperasi untuk menyaingi dominasi minimarket reguler.

Kelemahan Ruang dan Barang

Dari kunjungan tersebut, CGS menemukan kelemahan pertama Koperasi Desa Merah Putih adalah ruang sempit serta jumlah unit penyimpanan stok yang sangat terbatas dibandingkan standar operasional minimarket biasa. Barang pokok yang dijual hanya meliputi gas elpiji, beras, gula, hingga obat bebas.

Faktor kedua yang sangat krusial adalah jam operasional yang relatif pendek bagi para pelanggan di lapangan. “Koperasi ini tercatat hanya beroperasi dalam jangka waktu pukul 10.00 hingga pukul 17.00 atau pukul 10.00 hingga pukul 18.30 pada setiap hari kerja rutin,” ungkap tim analis CGS. 

CGS juga mencatat harga produk non-pokok seperti makanan ringan justru ditemukan lebih mahal dibandingkan harga pada minimarket swasta. “Lokasi koperasi juga cenderung kurang strategis karena beroperasi di ruang kantor pemerintah daerah yang sudah ada sejak awal proses pembangunan gedung utama saat ini," papar tim analis. 

Tantangan Ekspansi Wilayah Pedesaan

Tidak hanya di Jakarta, tim analis CGS juga meninjau koperasi di Jawa Timur dan menemukan tantangan berupa kesulitan memperoleh lahan strategis. Meskipun begitu, target Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sangat ambisius untuk mengoperasikan total 80.000 koperasi di seluruh wilayah.

Pemerintah menargetkan sebanyak 30.000 koperasi ditargetkan sudah mulai beroperasi pada April 2026 mendatang. Skala usaha AMRT yang memiliki ragam stok barang luas akan memungkinkan perseroan tetap bertumbuh dan berdampingan dengan kehadiran koperasi desa milik pemerintah pusat pada masa depan.

Ancaman koperasi terhadap minimarket diproyeksikan tidak terbukti secara jangka panjang, serupa dengan kegagalan program makan gratis membahayakan produsen produk konsumen. CGS International dengan tegas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ritel karena dukungan valuasi saham yang sudah terdiskon besar.

Proyeksi Kinerja Saham MIDI

Saham Alfamidi mendapatkan rekomendasi ADD dengan target harga pada level Rp490. Diperkirakan laba per saham atau EPS MIDI akan naik secara meyakinkan sebesar 19% secara tahunan pada periode FY26 mendatang berkat adanya penghematan biaya operasional perusahaan.

Kinerja positif tersebut didukung oleh penghematan pengeluaran operasional dari hasil aktivitas divestasi unit bisnis Lawson. Saat ini, harga saham MIDI diperdagangkan pada valuasi 11x, atau sekitar 1,9 standar deviasi di bawah rata-rata harga pasar selama kurun 3 tahun.

Kondisi fundamental yang kuat diprediksi akan menjadi penopang utama bagi harga saham perseroan di bursa. Investor dapat memanfaatkan momentum koreksi harga saat ini untuk melakukan akumulasi aset ritel mengingat potensi pertumbuhan laba bersih yang masih sangat meyakinkan pada tahun 2026.

Valuasi Saham AMRT 

Saham AMRT mendapatkan rekomendasi ADD dengan target harga mencapai Rp2.280. Diperkirakan Alfamart akan mencatat pertumbuhan laba sebesar 9% pada periode FY26 seiring dengan rasio pengeluaran operasional terhadap hasil penjualan yang diperkirakan akan terus menurun secara konsisten.

Hal ini didukung peningkatan utilisasi pusat distribusi baru serta normalisasi siklus belanja modal yang dapat mendorong ekspansi margin keuntungan. Saat ini, AMRT diperdagangkan pada valuasi 18x, atau sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata harga pasar selama 3 tahun.

Pihak CGS menyoroti katalis positif berupa perbaikan jumlah setengah pengangguran dan normalisasi harga bahan baku utama. "Namun, investor tetap harus mewaspadai risiko penurunan seperti peningkatan PHK dan realisasi program utama pemerintah yang lebih lambat dari perkiraan," pungkas tim analis.