Kontroversi Trader Kostya Kudo, Begini Sejarah Ambrolnya Aset Kripto
- Kostya Kudo, trader kripto asal Ukraina, ditemukan meninggal dunia di tengah anjloknya harga Bitcoin dan kerugian besar yang dialaminya. Kasus ini soroti risiko ekstrem investasi kripto.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Dunia kripto kembali diguncang kabar duka. Seorang konten kreator dan trader kripto asal Ukraina, Konstantin Galish, yang dikenal luas di komunitas aset digital dengan nama Kostya Kudo, dilaporkan meninggal dunia secara tragis pada Sabtu, 11 Oktober 2025.
Galish ditemukan tewas di dalam mobil Lamborghini miliknya. Tragedi ini terjadi di tengah kondisi pasar mata uang kripto yang sedang mengalami penurunan tajam, setelah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif impor baru terhadap China. Langkah tersebut menekan sentimen investor global dan memicu gelombang aksi jual di berbagai aset digital utama.
Menurut laporan media setempat, Galish kehilangan sedikitnya US$30 juta atau sekitar Rp500 miliar dana investor yang dikelolanya. Kerugian besar tersebut diduga menjadi salah satu pemicu di balik peristiwa tragis ini.
Kasus ini sekaligus membuka kembali diskusi serius tentang dampak psikologis dan finansial yang ditimbulkan oleh volatilitas ekstrem di dunia kripto.
Baca juga : BNN Bersama Inner City Management Komitmen Cegah Narkoba di Kalibata City
Kripto Sering Ambrol
Tragedi yang menimpa Kostya Kudo bukanlah kasus pertama yang menggambarkan kerasnya dinamika pasar aset digital. Sepanjang sejarahnya, pasar kripto dikenal sangat volatil, dengan pergerakan harga yang ekstrem dalam waktu singkat.
Dilansir laman The Economist, Senin, 13 Oktober 2025, sejak kemunculannya pada 2010, Bitcoin sebagai aset digital utama telah melalui berbagai fase naik-turun yang mencolok. Transaksi pertama Bitcoin, 10.000 BTC untuk dua potong pizza menjadi simbol perjalanan panjang aset digital ini. Harga Bitcoin pernah melonjak dari di bawah satu dolar AS menjadi US$19.345 pada 2017, sebelum anjlok drastis ke US$3.843 setahun kemudian.
Lonjakan berikutnya terjadi pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, ketika kekhawatiran terhadap ekonomi global justru mendorong investor mencari alternatif aset, mengangkat harga Bitcoin hingga US$68.990 pada November 2021.
Namun, euforia tersebut kembali terhenti setelah larangan aktivitas kripto di China memicu penurunan besar hingga menyentuh US$15.883 pada 2022.
Siklus seperti ini menunjukkan bahwa volatilitas adalah bagian inheren dari pasar kripto dan sering kali menjadi ujian berat bagi para investor, terutama mereka yang terpapar secara emosional atau finansial dalam skala besar.
Sejumlah analis menilai bahwa pola siklus empat tahunan yang selama ini melekat pada Bitcoin mulai kehilangan relevansi. Arthur Hayes, mantan CEO platform perdagangan derivatif BitMEX, menyatakan bahwa kebijakan moneter global dan dinamika ekonomi makro kini memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pergerakan harga Bitcoin dibandingkan siklus halving tradisional.
Baca juga : Terbang 1.320 Persen Bukan Sekadar Spekulasi, Ini Fakta di Balik Saham WIFI
Selain itu, masuknya investor institusional melalui instrumen seperti Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin turut mengubah wajah pasar. Kehadiran pemain besar dengan strategi jangka panjang diperkirakan akan menurunkan volatilitas ekstrem yang selama ini menjadi ciri khas aset digital.
Di sisi lain, peningkatan jumlah pemegang jangka panjang (long-term holders) membuat suplai Bitcoin di pasar semakin terbatas, memperkuat tekanan harga di periode ketidakpastian.
Tragedi Kostya Kudo menjadi pengingat bahwa di balik potensi keuntungan besar, pasar kripto menyimpan risiko tinggi yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan finansial seseorang.
Pengamat menekankan pentingnya tidak menginvestasikan dana lebih dari kemampuan pribadi dan selalu melakukan riset mandiri terhadap aset serta kebijakan regulator di berbagai negara.
Sejarah membuktikan bahwa setiap lonjakan harga besar dalam kripto diikuti oleh koreksi tajam. Dengan memahami pola siklus tersebut, investor dapat membangun ekspektasi yang lebih realistis dan strategi investasi yang lebih tangguh di tengah pasar yang penuh ketidakpastian.

Amirudin Zuhri
Editor
