Tren Pasar

Kinerja BIRD 2025 Moncer, Pendapatan dan Laba Bersih Sama-sama Naik

  • PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencatat pendapatan Rp5,7 triliun dan laba bersih hingga Rp643,4 miliar pada 2025. Simak kinerja, dividen, serta prospek bisnisnya.
bluebird.jpeg
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Sigit Djokosoetono. (Blue Bird)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025. Emiten transportasi ini berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp5,70 triliun, naik 13,2% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp5,04 triliun.

Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong peningkatan laba bersih menjadi sekitar Rp635,83 miliar hingga Rp643,4 miliar, atau tumbuh sekitar 8,65% secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian ini menjadi salah satu kinerja terbaik Blue Bird sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mayoritas pendapatan Blue Bird masih berasal dari bisnis taksi. Sepanjang 2025, segmen ini menyumbang sekitar Rp3,99 triliun atau sekitar 70% dari total pendapatan perusahaan.

Sementara itu, bisnis non-taksi, seperti penyewaan kendaraan, bus, dan layanan mobilitas lainnya, menyumbang Rp1,71 triliun atau sekitar 30% dari total pendapatan.

Peningkatan volume perjalanan serta bertambahnya kapasitas operasional menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Baca juga : RANS IPO Saham 20 Persen, Hindari Jebakan FOMO Saham Artis

Laba Bersih dan EBITDA Ikut Menguat

Kinerja operasional Blue Bird juga menunjukkan perbaikan. Perseroan membukukan laba bruto Rp1,81 triliun, meningkat 11,7% dibandingkan Rp1,62 triliun pada 2024.

Di sisi lain, beban usaha naik menjadi Rp1,12 triliun dari sebelumnya Rp995,39 miliar. Meski demikian, laba usaha tetap meningkat 8,4% menjadi Rp687,37 miliar.

Laba sebelum pajak juga tumbuh menjadi Rp824,71 miliar, sedangkan EBITDA meningkat sekitar 13% menjadi kisaran Rp1,34 triliun hingga Rp1,4 triliun, mencerminkan penguatan profitabilitas perusahaan.

Aset Blue Bird Naik Jadi Rp9,65 Triliun

Dari sisi neraca, total aset Blue Bird mencapai Rp9,65 triliun hingga akhir 2025, meningkat sekitar 14,3% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp8,44 triliun.

Kenaikan aset terutama didorong oleh bertambahnya aset tetap seiring ekspansi armada serta modernisasi infrastruktur operasional.

Di sisi lain, total liabilitas meningkat menjadi Rp3,32 triliun dari Rp2,44 triliun. Kenaikan tersebut terutama berasal dari peningkatan utang bank jangka panjang yang digunakan untuk mendukung ekspansi perusahaan.

Meski demikian, posisi ekuitas tetap tumbuh menjadi Rp6,32 triliun, menunjukkan fundamental keuangan perusahaan yang masih terjaga.

Baca juga : RANS vs 5 Raksasa IPO, Awas Jebakan Likuiditas Triliunan

Arus Kas Operasi Menguat, Capex Tembus Rp1,56 Triliun

Blue Bird juga mencatat perbaikan arus kas operasional. Hingga September 2025, arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp915,58 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp736,46 miliar.

Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, perusahaan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,56 triliun. Dana tersebut digunakan untuk pembelian armada baru, peremajaan kendaraan, serta pengembangan sistem digital perusahaan.

Bagikan Dividen Rp166 per Saham

Kinerja positif sepanjang 2025 turut diikuti pembagian dividen kepada pemegang saham.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp166 per saham.

Nilai tersebut setara dengan 65,3% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk untuk tahun buku 2025. Dividen dijadwalkan dibayarkan pada 10 Juli 2026.

Baca juga : IHSG Dibuka Turun Tipis Hari Ini, Cek Datanya

Kinerja Kuartal I 2026

Memasuki 2026, Blue Bird masih mencatat pertumbuhan pendapatan. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,45 triliun, meningkat 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, laba bersih turun sekitar 6% menjadi Rp155,5 miliar akibat meningkatnya berbagai biaya operasional. Meski demikian, pertumbuhan pendapatan menunjukkan permintaan terhadap layanan transportasi Blue Bird masih tetap kuat di tengah tantangan kenaikan biaya.

Dengan pendapatan yang mencapai rekor baru, laba yang terus bertumbuh, serta ekspansi armada dan digitalisasi layanan, Blue Bird menunjukkan fundamental bisnis yang tetap solid.

Meski perusahaan menghadapi kenaikan biaya operasional pada awal 2026, posisi aset yang semakin besar, arus kas yang kuat, dan kebijakan dividen yang konsisten menjadi modal penting bagi perseroan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang di industri transportasi nasional.