Tren Pasar

Kenapa Transaksi Kripto Naik 24,2 Persen Saat Pasar Lesu?

  • IHSG turun 34,74% YTD, sementara transaksi kripto Indonesia naik 24,2% pada Juni 2026. Benarkah investor beralih dari saham ke kripto?
closeup-golden-bitcoins-dark-reflective-surface-histogram-decreasing-crypto.jpg
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar keuangan Indonesia memperlihatkan fenomena yang kontras sepanjang 2026. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk hampir 35% sejak awal tahun, aktivitas perdagangan aset kripto justru melonjak tajam.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat data pengawasan aset kripto menunjukkan nilai transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp28,58 triliun pada Juni 2026, meningkat 24,2% dibandingkan Mei 2026. Pada saat yang sama, IHSG ditutup di level 5.643 pada akhir Juni atau terkoreksi 34,74% secara year-to-date (YTD).

Perbedaan arah tersebut memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apakah investor benar-benar meninggalkan pasar saham dan beralih ke kripto, atau justru kedua pasar dihuni kelompok investor yang berbeda?

Jawabannya kemungkinan tidak sesederhana memilih salah satu. Berbagai data menunjukkan fenomena ini merupakan kombinasi dari perpindahan sebagian dana investasi sekaligus munculnya basis investor digital baru.

IHSG Kehilangan Kapitalisasi Rp6.117 Triliun

Semester pertama 2026 menjadi salah satu periode terberat bagi pasar saham Indonesia. Selain IHSG turun hampir 35%, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menyusut dari sekitar Rp16.014 triliun pada awal tahun menjadi Rp9.897 triliun pada akhir Juni 2026.

Artinya, nilai pasar emiten di BEI berkurang sekitar Rp6.117 triliun hanya dalam enam bulan. Di sisi lain, pasar kripto justru bergerak ke arah berbeda.

Sepanjang Juni 2026:

  • Nilai transaksi kripto mencapai Rp28,58 triliun.
  • Transaksi tumbuh 24,2% dibandingkan bulan sebelumnya.
  • Jumlah investor meningkat menjadi 22,69 juta akun.
  • Kapitalisasi pasar kripto domestik mencapai sekitar Rp20,14 triliun.

Perbedaan kinerja tersebut memunculkan spekulasi bahwa sebagian investor mulai mencari alternatif investasi di luar pasar saham.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: HRTA dan MDKA Naik, ASII Turun

Apakah Dana Investor Saham Mengalir ke Kripto?

Secara teori, pelemahan tajam pasar saham dapat mendorong investor mencari instrumen lain yang dinilai menawarkan peluang keuntungan lebih besar. Beberapa indikator memang mengarah ke kemungkinan tersebut.

  • Pertama, jumlah investor kripto terus bertambah hingga mencapai 22,69 juta akun pada Juni 2026. Angka tersebut hampir menyamai jumlah investor pasar modal Indonesia dan menunjukkan adopsi aset digital semakin luas.
  • Kedua, sejumlah analis mulai memasukkan aset kripto dalam strategi alokasi portofolio. Salah satunya datang dari Samuel Sekuritas yang merekomendasikan investor meningkatkan porsi kas dan aset kripto, termasuk Bitcoin, sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian pasar.
  • Ketiga, pelemahan IHSG membuat sebagian investor jangka pendek mencari instrumen dengan volatilitas lebih tinggi untuk mengejar potensi keuntungan yang lebih cepat.

Namun, terdapat satu fakta penting yang membuat teori perpindahan dana secara besar-besaran sulit dibuktikan.

Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,33 Persen, Cek Saham Katalisnya

Ukuran Pasar Kripto Masih Terlalu Kecil

Meski transaksi kripto meningkat tajam, ukuran pasar kripto Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan pasar saham. Kapitalisasi pasar kripto domestik pada Juni 2026 tercatat sekitar Rp20,14 triliun.

Sebaliknya, kapitalisasi pasar BEI berkurang sekitar Rp6.117 triliun selama semester pertama 2026. Perbedaan skala tersebut menunjukkan hampir mustahil seluruh dana yang keluar dari pasar saham berpindah ke aset kripto.

Sebagian dana kemungkinan mengalir ke berbagai instrumen lain seperti deposito, emas, obligasi, properti, maupun aset di pasar luar negeri. Dengan kata lain, kripto kemungkinan hanya menjadi salah satu tujuan diversifikasi, bukan satu-satunya tujuan perpindahan modal.

Atau Memang Dua Kelompok Investor Berbeda?

Penjelasan lain yang dinilai lebih kuat adalah bahwa pasar saham dan pasar kripto semakin dihuni oleh kelompok investor yang berbeda. Berbagai penelitian mengenai perilaku investor menunjukkan karakter investor saham dan investor kripto tidak sepenuhnya sama.

Fenomena herding atau perilaku ikut-ikutan terbukti berbeda secara signifikan antara kedua kelompok tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan preferensi risiko, strategi investasi, hingga tujuan bertransaksi. Perbedaan tersebut juga terlihat dari pola perdagangan sepanjang Juni 2026.

Lonjakan Kripto Justru Dipimpin Altcoin

Menariknya, kenaikan transaksi kripto pada Juni bukan dipicu oleh reli Bitcoin. Pelaku industri menyebut peningkatan aktivitas perdagangan lebih banyak berasal dari rotasi likuiditas menuju aset alternatif atau altcoin.

Sejumlah token berbasis kecerdasan buatan (AI), Real World Asset (RWA), hingga memecoin mencatat kenaikan harga puluhan bahkan ratusan persen. Sementara itu, harga Bitcoin justru bergerak relatif datar pada kisaran US$60.000 selama periode tersebut.

Fenomena ini menunjukkan sebagian besar aktivitas perdagangan didorong oleh trader jangka pendek yang memanfaatkan volatilitas altcoin, bukan investor jangka panjang yang membeli Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

Pertumbuhan jumlah investor hingga 22,69 juta akun juga menunjukkan ekosistem aset digital Indonesia semakin matang.

Banyak investor baru masuk langsung ke pasar kripto tanpa pernah memiliki portofolio saham. Kemudahan membuka akun melalui aplikasi digital, nilai investasi awal yang rendah, perdagangan selama 24 jam, hingga tingginya eksposur melalui media sosial membuat aset kripto lebih mudah diakses generasi muda dibandingkan pasar saham.

Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa pertumbuhan investor kripto tidak sepenuhnya berasal dari migrasi investor saham.

Baca juga : Prospek Saham BREN Cerah? Cek Kinerja Keuangan dan Ekspansinya

Jadi, Mana yang Lebih Tepat?

Jika melihat seluruh data, jawabannya adalah keduanya terjadi secara bersamaan.

Ada sebagian investor saham yang mengalihkan sebagian portofolionya ke aset kripto sebagai alternatif investasi ketika IHSG mengalami tekanan.

Namun pada saat yang sama, pasar kripto juga terus menarik investor baru yang memang sejak awal memilih aset digital sebagai instrumen investasi utama.

Selain itu, lonjakan transaksi Juni 2026 lebih banyak dipengaruhi aktivitas perdagangan altcoin yang bersifat spekulatif dibandingkan perpindahan investasi jangka panjang dari pasar saham.

Kontras antara IHSG yang turun 34,74% sepanjang semester pertama 2026 dan transaksi kripto yang melonjak 24,2% hanya dalam satu bulan mencerminkan perubahan lanskap investasi di Indonesia.

Data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor meninggalkan pasar saham secara massal menuju kripto. Ukuran pasar kripto yang masih jauh lebih kecil dibandingkan pasar saham menunjukkan perpindahan dana tersebut hanya terjadi dalam skala terbatas.

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah investor hingga 22,69 juta akun memperlihatkan bahwa Indonesia kini memiliki basis investor aset digital yang semakin besar dan semakin mandiri.

Artinya, perkembangan pasar kripto tidak lagi sekadar mengikuti dinamika pasar saham, melainkan mulai membentuk ekosistem investasinya sendiri. 

Ke depan, kedua instrumen tersebut diperkirakan akan semakin saling melengkapi dalam strategi diversifikasi portofolio investor, bukan sekadar menjadi pilihan yang saling menggantikan.