Kembali Melemah, Rupiah Jadi Mata Uang ASEAN dengan Tekanan Terbesar
- Rupiah melemah 58 poin ke Rp17.751 per dolar AS dan menjadi mata uang ASEAN dengan tekanan terbesar. Simak dampak The Fed dan harga minyak.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg per pukul 09.18 WIB, rupiah melemah 58 poin atau 0,33% ke level Rp17.751 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menjadi yang terdalam dibandingkan sejumlah mata uang Asia Tenggara pada awal perdagangan. Tekanan terhadap rupiah terjadi setelah pasar kembali mencermati kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.
Di kawasan ASEAN, ringgit Malaysia melemah 0,20%, baht Thailand turun 0,16%, dan peso Filipina terkoreksi 0,12%. Sementara itu, dolar Singapura justru menguat 0,05% terhadap dolar AS.
Sinyal Hawkish The Fed Tekan Rupiah
Salah satu sentimen utama yang menekan rupiah datang dari pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pidatonya pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Warsh mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga masih dapat menjadi pilihan apabila pembuat kebijakan melihat inflasi belum berada pada jalur menuju target 2% The Fed.
Sikap tersebut menjadi perhatian pasar karena suku bunga AS yang lebih tinggi atau bertahan dalam waktu lama dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi ini berpotensi mendorong investor mengurangi posisi di aset negara berkembang dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Warsh juga menyampaikan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan besar apabila tekanan inflasi belum mereda.
Bagi rupiah, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi penting karena dapat memengaruhi arus modal asing dan nilai tukar secara langsung.
Harga Minyak Kembali Naik
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent kembali naik hingga sekitar US$90,3 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat meningkatkan biaya impor energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor dapat meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi inflasi domestik apabila kenaikan biaya energi diteruskan ke sektor transportasi, logistik, dan industri.
Dengan demikian, rupiah menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus: dolar AS yang berpotensi menguat akibat sikap hawkish The Fed dan harga minyak yang kembali naik.
Apa yang Berubah Hari Ini?
Pelemahan 58 poin membawa rupiah kembali mendekati level Rp17.800 setelah pada pekan sebelumnya masih bertahan di kisaran Rp17.700-an.
Yang perlu diperhatikan adalah pelemahan rupiah hari ini lebih besar dibandingkan sebagian mata uang ASEAN. Artinya, meskipun faktor global menjadi pemicu utama, investor juga perlu mencermati faktor domestik dan arus modal yang dapat menentukan seberapa besar tekanan diteruskan ke rupiah.
Namun, satu kali pelemahan pada pembukaan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa rupiah telah berbalik menjadi tren pelemahan. Arah perdagangan hingga akhir sesi akan menjadi indikator penting.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Rupiah yang melemah membuat kebutuhan yang menggunakan dolar AS menjadi relatif lebih mahal. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membeli barang impor, melakukan perjalanan ke luar negeri, membayar pendidikan internasional, atau memiliki kewajiban dalam dolar AS.
Kenaikan harga minyak juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan biaya transportasi dan logistik apabila berlangsung lama. Dalam jangka panjang, kombinasi rupiah melemah dan minyak mahal dapat meningkatkan tekanan harga barang dan jasa.
Namun, dampak ke konsumen biasanya tidak langsung terjadi hanya karena perubahan kurs dalam satu hari. Pengaruh yang lebih besar muncul jika pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak berlangsung secara konsisten.
Yang Perlu Dipantau Investor
Investor perlu mencermati pernyataan lanjutan pejabat The Fed, data inflasi AS, indeks dolar, dan harga minyak Brent.
Jika inflasi AS kembali tinggi dan memperkuat peluang kebijakan moneter ketat, dolar berpotensi terus mendapatkan dukungan. Di sisi lain, Brent yang bertahan di atas US$90 per barel dapat menambah tekanan terhadap negara-negara importir energi seperti Indonesia.
Sebaliknya, apabila tekanan inflasi AS mereda dan harga minyak kembali turun, ruang bagi rupiah untuk kembali menguat akan terbuka.

Chrisna Chanis Cara
Editor
