Tren Pasar

Kembali Melemah, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 14 Oktober 2026?

  • Rupiah melemah 14 poin ke Rp17.914 per dolar AS. Pasar mencermati perubahan sentimen dolar, kebijakan energi Rusia, dan risiko geopolitik.
Ilustrasi Uang Rupiah
Ilustrasi Uang Rupiah (Pintar.bi.go.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Mengacu data Bloomberg pukul 09.06 WIB, rupiah turun 14 poin atau sekitar 0,08% ke level Rp17.914 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi setelah rupiah menguat pada perdagangan Selasa (13/10). Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa mata uang Garuda masih rentan terhadap perubahan sentimen pasar global, terutama perkembangan geopolitik dan arah pergerakan dolar AS.

Tekanan juga terlihat pada sejumlah mata uang Asia. Yen Jepang melemah 0,04%, dolar Singapura turun 0,02%, dan baht Thailand melemah 0,04%.

Keputusan AS soal Energi Rusia Jadi Sorotan

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai penguatan rupiah pada perdagangan Selasa turut dipengaruhi respons pasar terhadap perkembangan geopolitik, termasuk keputusan pemerintah AS terkait sanksi energi Rusia.

Mengutip laporan Antara, Ibrahim menyebut Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia telah sepakat memasok solar ke pasar global. Pemerintah AS juga disebut mencabut sementara sanksi terhadap bahan bakar Rusia.

“Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global, dan pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina,” ujar Ibrahim.

Perubahan kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi prospek pasokan energi global dan persepsi investor terhadap risiko geopolitik.

Menurut Ibrahim, keputusan itu turut menekan dolar AS pada perdagangan sebelumnya. Namun, sentimen pasar dapat berubah seiring perkembangan kebijakan dan respons investor terhadap implikasinya.

Rupiah Kembali Tertekan, Pasar Pantau Dolar AS

Penguatan rupiah pada Selasa tidak berlanjut pada pembukaan perdagangan Rabu. Rupiah kembali melemah ketika dolar AS menunjukkan tanda-tanda penguatan.

Pergerakan ini mencerminkan bagaimana mata uang negara berkembang dapat mengalami perubahan arah dalam waktu singkat ketika pelaku pasar menyesuaikan posisi investasinya terhadap perkembangan global.

Dolar AS juga dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), imbal hasil aset keuangan AS, serta permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman. Karena itu, perkembangan geopolitik perlu dibaca bersama faktor-faktor ekonomi dan keuangan tersebut.

Di sisi lain, perubahan prospek pasokan minyak dan produk energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi global. Bagi Indonesia, pergerakan harga energi penting untuk dicermati karena dapat memengaruhi kebutuhan impor dan permintaan valuta asing.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya pembelian barang dan bahan baku yang dibayar menggunakan dolar AS. Dampaknya dapat dirasakan oleh industri yang bergantung pada komponen impor, meskipun perubahan kurs tidak selalu langsung diteruskan ke harga konsumen.

Sementara itu, perubahan pasokan energi global dapat memengaruhi harga minyak dan biaya impor energi. Dampak akhirnya terhadap masyarakat bergantung pada pergerakan harga komoditas, nilai tukar, serta kebijakan harga di dalam negeri.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati perkembangan kebijakan AS terhadap energi Rusia, pergerakan dolar AS, dan perubahan harga minyak dunia. Arah kebijakan The Fed serta perkembangan konflik geopolitik juga tetap relevan bagi pasar valuta asing.

Pelemahan rupiah pada pembukaan Rabu menunjukkan bahwa penguatan sehari sebelumnya belum cukup untuk memastikan tren pemulihan berlanjut. Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada bagaimana pasar merespons perkembangan geopolitik dan kondisi keuangan global.