Tren Pasar

Katalis IHSG 2026: Suku Bunga Turun, Target 10.000 is Real

  • HSG 10.000 is real? Analis dan Menkeu optimistis target 2026 tercapai berkat katalis Danantara, penurunan suku bunga BI, dan sinergi kebijakan.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 5.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas memasuki tahun perdagangan 2026 mendatang. Pasar saham domestik berpeluang besar mencetak rekor baru dengan menembus level psikologis 10.000. Optimisme ini didukung oleh fondasi ekonomi nasional yang semakin kokoh dan stabil.

Tren penguatan indeks diyakini akan berlanjut seiring dengan arah kebijakan ekonomi yang dinilai makin sinkron saat ini. Perbaikan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter menjadi kunci utama akselerasi pertumbuhan pasar modal. Investor menyambut baik sinyal positif dari perbaikan iklim investasi tersebut.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keyakinannya bahwa target tinggi tersebut sangat realistis untuk dicapai tahun depan. Ia menilai kinerja pasar saham bisa melaju lebih kencang jika desain kebijakan berjalan mulus. "Ke depan dengan kebijakan semakin sinkron IHSG akan naik lebih cepat," kata Purbaya pada Rabu, 31 Desember 2025. 

1. Sinergi Kebijakan Ekonomi

Purbaya menilai ruang penguatan indeks saham masih sangat terbuka lebar berkat perbaikan koordinasi kebijakan pemerintah. Sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan sektor riil diharapkan mampu mendongkrak kepercayaan investor domestik maupun asing. Momentum perbaikan ekonomi ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku pasar.

Sang menteri bahkan secara tegas menyatakan keyakinannya bahwa indeks bisa melampaui target psikologis pasar dengan mudah. Jika desain kebijakan ekonomi berjalan sesuai rencana maka akselerasi pertumbuhan pasar modal akan terjadi signifikan. "Lebih dari 10.000 pasti," tegas Purbaya menjawab pertanyaan media.

Kombinasi stabilitas makroekonomi yang terjaga dan kebijakan pro-pertumbuhan akan menjadi katalis positif utama bagi bursa. Pemerintah berkomitmen menjaga momentum pemulihan ekonomi agar berdampak langsung pada kinerja emiten di lantai bursa. Pasar modal siap menyambut era baru pertumbuhan yang akseleratif.

2. Skenario Bull JP Morgan

Senada dengan pemerintah JP Morgan Indonesia juga memasang target agresif dalam pandangan pasar ekuitas tahun 2026. Lembaga keuangan global ini memproyeksikan IHSG mampu menembus level 10.000 dalam skenario terbaik atau bull scenario. Tahun 2026 dianggap sebagai masa memetik hasil pasca transisi politik.

Executive Director JP Morgan Henry Wibowo menjelaskan bahwa tren pelonggaran kebijakan moneter akan berlanjut tahun depan. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia diprediksi sebesar 50 basis poin yang akan memperbaiki likuiditas. "Kami memperkirakan penurunan suku bunga acuan BI sebesar 50bps," ujar Henry.

Namun dalam skenario terburuk atau bear scenario indeks diprediksi akan bertahan pada posisi level 7.800. Stabilitas harga komoditas seperti minyak dan emas tetap menjadi variabel penting penyangga sentimen pasar. Volatilitas eksternal tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor.

3. Faktor Game Changer: Danantara

Salah satu faktor pembeda utama yang menjadi sorotan pada tahun 2026 adalah peran strategis Danantara. Badan Pengelola Investasi ini diyakini akan menjadi mesin pendorong baru bagi arus modal institusional ke pasar domestik. Transformasi kelembagaan ini dinilai positif oleh pelaku pasar internasional.

Pemisahan tugas yang jelas antara fungsi pelayanan publik dan profitabilitas BUMN dinilai sangat krusial saat ini. Struktur baru ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan kinerja keuangan perusahaan pelat merah di bursa. "Menyambut baik pemisahan tugas yang tepat pada Danantara," tutur Henry.

Kehadiran Danantara diharapkan dapat mereplikasi kesuksesan pengelola aset negara lain dalam menarik investasi jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap tata kelola perusahaan negara yang lebih profesional. Sentimen positif ini akan memperkuat fondasi pasar modal nasional.

4. Broadening Bull Market

Community Lead IndoPremier Sekuritas David Kurniawan memproyeksikan IHSG akan memasuki fase baru bernama Broadening Bull Market. Pada fase ini kenaikan indeks tidak lagi hanya ditopang oleh segelintir sektor tertentu saja. Kenaikan harga saham akan menyebar secara lebih merata ke berbagai industri.

Peluang penguatan indeks didorong oleh faktor domestik dan global yang saling mendukung kinerja pasar saham. Implementasi perjanjian tarif resiprokal dengan Amerika Serikat akan sangat krusial bagi sektor perkebunan dan pertambangan. "IHSG berpeluang menguji level psikologis 9.000," kata David dalam risetnya.

Sektor komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan kopi berpotensi mendapatkan keuntungan dari kebijakan bebas tarif tersebut. Diversifikasi penggerak indeks ini membuat pasar saham menjadi lebih sehat dan tidak rentan gejolak sektoral. Partisipasi investor ritel diprediksi akan semakin meningkat di berbagai sektor.

5. Tantangan Kebijakan Domestik

Meski optimisme membumbung tinggi investor tetap perlu mewaspadai sejumlah tantangan kebijakan domestik yang berpotensi menekan pasar. Kenaikan PPN menjadi 12 persen dan penerapan Bea Keluar Emas sebesar 10 persen menjadi perhatian utama. Kebijakan ini dapat menekan margin emiten dan daya beli masyarakat.

Kualitas laba perbankan besar juga tetap menjadi barometer utama kesehatan pasar saham secara keseluruhan tahun depan. Kemampuan bank dalam menekan beban pencadangan atau provisi akan sangat menentukan pertumbuhan laba bersih sektor finansial. Investor akan mencermati laporan keuangan emiten perbankan secara detail.

Selain itu pengaruh kecerdasan buatan yang merambah sektor non-teknologi akan mulai berdampak pada efisiensi perusahaan. Penerapan pajak minimum global juga akan mempengaruhi rancangan insentif bagi perusahaan multinasional di Indonesia. Adaptasi terhadap regulasi baru menjadi kunci keberlanjutan bisnis emiten.