Tren Pasar

IPO JELI-JECX Langsung ARA: Antrean Beli Masih Tinggi, Apa Artinya?

  • Saham JELI dan JECX kompak menyentuh ARA pada debut di BEI. Simak penyebab lonjakan, antrean beli jutaan lot, dan strategi dana IPO.
3_Istilah_Penting_Tentang_IPO.jpg
Ilustrasi saham IPO. (IDX Channel) (IDX Channel)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Dua emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), mencuri perhatian pasar pada hari pertama perdagangan saham, Selasa, 7 Juli 2026.

Keduanya kompak menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) setelah melonjak sekitar 25% dari harga penawaran umum perdana (IPO). Kinerja impresif pada debut perdagangan tersebut mencerminkan tingginya minat investor terhadap penawaran saham perdana kedua perusahaan. Hal itu terlihat dari tingkat oversubscription yang mencapai puluhan hingga ratusan kali lipat, serta antrean beli jutaan lot di harga ARA.

Di balik euforia tersebut, terdapat sejumlah indikator yang patut dicermati investor, mulai dari likuiditas perdagangan yang sangat tipis hingga penggunaan dana hasil IPO yang berbeda antara kedua emiten.

Baca juga : Laporan Keuangan Q2 Jadi Penentu IHSG, Data 5 Emiten Dinanti

Debut JELI dan JECX Sama-sama Sentuh ARA

PT Niramas Utama Tbk dengan kode saham JELI, produsen makanan dan minuman yang dikenal melalui merek INACO, mencatatkan saham perdana di harga Rp900 per saham.

Pada penutupan perdagangan perdana sesi I, saham JELI melesat 25% atau naik 225 poin menjadi Rp1.125 per saham, sekaligus menyentuh batas ARA. Sementara itu, pada saat yang sama PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) yang mengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics juga mencatatkan performa serupa.

Saham JECX yang ditawarkan pada harga Rp1.250 per saham ditutup di level Rp1.560 per saham, naik sekitar 24,8% hingga 25% atau bertambah Rp310 per saham. Kenaikan maksimal tersebut menunjukkan tingginya permintaan investor terhadap kedua emiten baru tersebut sejak hari pertama perdagangan.

Antusiasme investor terhadap kedua IPO terlihat sejak masa penawaran umum. JELI mencatat tingkat oversubscribed mencapai 273,37 kali pada porsi penjatahan terpusat (pooling allotment), menjadikannya salah satu IPO dengan tingkat kelebihan permintaan tertinggi tahun ini.

Jumlah investor yang mengikuti penawaran umum JELI mencapai sekitar 606.892 hingga 630.491 Single Investor Identification (SID).

Perseroan menawarkan sekitar 266 juta hingga 350 juta saham baru, sehingga berhasil menghimpun dana sekitar Rp239,4 miliar hingga Rp315 miliar, bergantung pada skema pencatatan yang digunakan.

Di sisi lain, IPO JECX juga mendapat sambutan positif. Perseroan mencatat oversubscription sebesar 62,5 kali, dengan jumlah investor mencapai 555.699 orang.

JECX melepas sebanyak 487,98 juta saham, yang terdiri atas 325,32 juta saham baru dan 162,66 juta saham divestasi, sehingga memperoleh dana sekitar Rp609,97 miliar hingga Rp609,98 miliar. Pada saat pencatatan perdana, kapitalisasi pasar JECX mencapai sekitar Rp4,07 triliun.

Baca juga : IHSG Punya Rekor Positif di Juli, Akankah Jadi Momentum Bangkit?

Antrean Beli Jutaan Lot, Hampir Tidak Ada yang Mau Menjual

Di balik lonjakan harga saham, terdapat fenomena yang menarik perhatian pelaku pasar. Baik JELI maupun JECX mencatatkan antrean beli yang sangat besar pada level ARA.

Untuk JELI, antrean beli mencapai sekitar 2,88 juta lot. Sementara JECX mencatat antrean beli sekitar 5,34 juta hingga 5,4 juta lot.

Yang menarik, hampir tidak terdapat antrean jual pada kedua saham tersebut. Kondisi ini menunjukkan terjadinya excess demand, yakni permintaan jauh lebih besar dibandingkan pasokan saham yang tersedia di pasar.

Fenomena tersebut umum terjadi pada saham IPO yang diminati investor, namun juga menyebabkan transaksi menjadi sangat terbatas karena hampir seluruh pemegang saham memilih menahan kepemilikannya.

Besarnya antrean beli ternyata tidak sejalan dengan volume transaksi yang terjadi. Pada perdagangan perdana, volume transaksi JECX tercatat hanya sekitar 991 lot, dengan nilai transaksi sekitar Rp154,6 miliar.

Sementara JELI mencatat volume sekitar 253 lot, dengan nilai transaksi sekitar Rp28,46 miliar. Rendahnya volume tersebut mengindikasikan bahwa sangat sedikit investor yang bersedia melepas sahamnya pada harga ARA.

Akibatnya, meskipun permintaan sangat tinggi, likuiditas perdagangan masih tergolong rendah. Bagi investor, kondisi ini perlu dicermati karena dapat menyebabkan pergerakan harga menjadi sangat sensitif terhadap perubahan permintaan maupun aksi jual ketika periode euforia mulai mereda.

Penggunaan Dana IPO Berbeda

Selain respons pasar, penggunaan dana hasil IPO juga menjadi perhatian investor. PT Niramas Utama Tbk (JELI) berencana menggunakan dana hasil penawaran umum untuk mendukung pengembangan bisnis, antara lain melalui:

  • peningkatan kapasitas produksi,
  • penguatan jaringan distribusi,
  • serta tambahan modal kerja.

Strategi tersebut menunjukkan fokus perusahaan pada ekspansi operasional guna memperbesar pangsa pasar produk makanan dan minuman.

Sementara itu, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) memiliki alokasi penggunaan dana yang berbeda. Sebagian besar dana IPO, sekitar Rp275 miliar, akan digunakan untuk melunasi pinjaman kepada Bank Central Asia (BCA) dan HSBC.

Sisa dana akan dimanfaatkan sebagai modal kerja serta mendukung ekspansi jaringan rumah sakit dan klinik mata. Langkah pelunasan utang tersebut diharapkan dapat memperbaiki struktur permodalan perusahaan sekaligus menurunkan beban bunga di masa mendatang.

Debut JELI dan JECX yang sama-sama menyentuh ARA menunjukkan minat investor terhadap pasar IPO Indonesia masih sangat tinggi.

Baca juga : IHSG Dibuka Menuju Level 6.000-an, Cek Data Lengkapnya

Oversubscription hingga 273,37 kali pada JELI dan 62,5 kali pada JECX menjadi indikator kuat bahwa penawaran saham perdana masih menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati.

Meski demikian, investor tidak hanya perlu melihat kenaikan harga pada hari pertama perdagangan. Likuiditas yang masih sangat tipis akibat minimnya saham yang dilepas ke pasar, besarnya antrean beli di harga ARA, serta strategi penggunaan dana hasil IPO perlu menjadi bagian dari pertimbangan investasi.

Dalam jangka panjang, pergerakan harga saham JELI maupun JECX akan lebih ditentukan oleh kemampuan masing-masing perusahaan dalam merealisasikan rencana ekspansi, menjaga pertumbuhan pendapatan, meningkatkan profitabilitas, serta menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham setelah euforia IPO berakhir.