Tren Pasar

Investasi Emas Masuk Bursa, Mandiri Investasi Rilis ETF Syariah XMES

  • Mandiri Investasi meluncurkan ETF Syariah Emas XMES di BEI. Simak cara kerja, aset dasar, prinsip syariah, kinerja emas, dan target AUM Rp1 triliun.
c2d1d1c6-cd6c-4697-b99b-afb6df1d4960.jpg
Investasi emas kini semakin mudah diakses melalui pasar modal. PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) resmi meluncurkan Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas dengan kode ticker XMES yang mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (XMES)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Investasi emas kini semakin mudah diakses melalui pasar modal. PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) resmi meluncurkan Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas dengan kode ticker XMES yang mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

XMES menjadi salah satu dari lima ETF emas yang telah tercatat di BEI. Instrumen tersebut mulai diperdagangkan pada Senin, 10 Agustus 2026, bertepatan dengan seremoni pembukaan perdagangan dalam rangka memperingati 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia.

Peluncuran XMES berlangsung di Main Hall BEI dan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta jajaran direksi BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Kehadiran ETF emas memberikan alternatif bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap emas tanpa harus membeli, menyimpan, dan mengelola emas fisik secara langsung.

Melalui XMES, investor dapat membeli unit reksa dana yang diperdagangkan di bursa dengan emas fisik sebagai aset dasar. Produk tersebut juga dikelola berdasarkan prinsip syariah sehingga dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memasukkan emas ke dalam portofolio investasi sesuai ketentuan syariah.

Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Hardiyanto Pilia mengatakan peluncuran XMES merupakan bagian dari upaya perseroan mengikuti perubahan kebutuhan investor sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi berbasis aset riil.

“Emas sudah lama dikenal sebagai salah satu pilihan investasi masyarakat, dan kini akses terhadap investasi emas juga semakin beragam. Karena itu, tantangannya bukan lagi hanya bagaimana investor memiliki emas, tetapi bagaimana memberikan akses terhadap emas melalui instrumen yang efisien, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan investor saat ini,” ujar Hardiyanto dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.

Mayoritas di Emas Fisik

Secara struktur, XMES menempatkan sedikitnya 95% dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada emas fisik. Sementara maksimal 5% dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang syariah, deposito syariah, dan/atau kas serta setara kas sesuai ketentuan yang berlaku.

Emas yang menjadi underlying asset XMES memiliki tingkat kemurnian minimum 99,9% untuk emas bersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) atau minimum 99,5% untuk emas berstandar internasional London Bullion Market Association (LBMA) Certified.

Dalam pengelolaannya, Mandiri Investasi menggandeng Deutsche Bank A.G. Cabang Jakarta sebagai Bank Kustodian, PT Mandiri Sekuritas sebagai Dealer Partisipan, serta PT Pegadaian sebagai penyedia sekaligus penyimpan emas.

Bagi investor, salah satu perbedaan utama ETF emas dengan kepemilikan emas fisik terletak pada mekanisme transaksinya. Unit XMES dapat diperdagangkan di pasar sekunder melalui BEI dengan mekanisme perdagangan seperti saham.

Investor karena itu tidak perlu menangani penyimpanan emas secara langsung. Namun, seperti instrumen yang diperdagangkan di bursa lainnya, nilai unit ETF tetap dapat mengalami kenaikan maupun penurunan mengikuti kondisi pasar.

Mandiri Investasi menilai emas masih memiliki ruang sebagai salah satu aset dalam portofolio jangka panjang. Berdasarkan kajian perseroan per 30 Juni 2026, emas mencatatkan imbal hasil rata-rata sekitar 9,9% per tahun dalam 20 tahun terakhir dan 18% per tahun dalam lima tahun terakhir.

Dari sisi pasar global, permintaan investasi emas juga mengalami peningkatan. Permintaan tersebut disebut naik 84% menjadi 2.175 ton pada 2025. Sementara itu, pertumbuhan produksi tambang emas tercatat kurang dari 1% per tahun selama satu dekade terakhir.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena pertumbuhan permintaan yang lebih cepat dibandingkan pasokan dapat memengaruhi dinamika harga emas dalam jangka panjang.

Diversifikasi Portofolio

Direktur Investasi Mandiri Manajemen Investasi Ernawan R. Salimsyah mengatakan karakteristik emas yang berbeda dari sejumlah instrumen investasi lain membuat komoditas tersebut dapat digunakan sebagai salah satu komponen diversifikasi portofolio.

“Secara historis, emas memiliki karakteristik yang berbeda dibanding instrumen investasi lainnya dan cenderung lebih tahan ketika pasar mengalami tekanan. Karena itu, emas dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyeimbangkan portofolio, khususnya bagi investor dengan perspektif jangka panjang,” jelas Ernawan.

XMES juga diterbitkan dan dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan mengacu pada Fatwa DSN-MUI No. 163/DSN-MUI/VII/2025.

Mandiri Investasi dalam jangka panjang menargetkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) XMES dapat mencapai Rp1 triliun. Target tersebut akan dikejar seiring dengan meningkatnya pemahaman investor terhadap ETF emas dan berkembangnya ekosistem investasi emas di Indonesia.

Ernawan mengatakan pertumbuhan XMES akan diarahkan agar berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.

“Kami menargetkan AUM XMES mencapai Rp1 triliun dalam jangka panjang. Namun, pertumbuhan tersebut harus dibangun secara sehat dan berkelanjutan. Bagi kami, keberhasilan XMES bukan hanya diukur dari besarnya dana kelolaan, tetapi juga ketika semakin banyak investor memiliki akses dan pemahaman yang lebih baik mengenai peran emas dalam portofolio mereka,” pungkas Ernawan.