Info A1: Saham BRIS Target Rp3.200, Yakin Mau Skip?
- Saham syariah lagi hype! BRIS diprediksi terbang ke Rp3.200. Fundamental solid, laba Rp578 miliar. Jangan sampe FOMO di pucuk, pelajari strateginya sekarang.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah dinamika pasar perbankan nasional, raksasa bank syariah pelat merah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), kembali unjuk gigi. Performa perseroan sepanjang November 2025 tercatat tetap kokoh, didukung oleh efisiensi biaya yang semakin membaik dan kepercayaan nasabah yang terus tumbuh.
Kinerja positif ini menjadi angin segar bagi para investor yang mencari saham fundamental kuat dengan valuasi yang masih menarik. Kemampuan BRIS menekan biaya dana alias Cost of Fund (CoF) menjadi kunci utama profitabilitas, di saat bank-bank lain masih berjuang dengan ketatnya likuiditas.
Lantas, apakah harga saham BRIS saat ini sudah terdiskon atau justru sudah mahal? BRI Danareksa Sekuritas memberikan pandangan optimis yang bisa membuat investor tersenyum lebar melihat potensi upside atau kenaikan harganya.
1. Target Rp3.200, Potensi Cuan 48%?
Melihat fundamental yang solid, BRI Danareksa Sekuritas memutuskan untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli (Buy) pada saham BRIS. Mereka menetapkan target harga (Target Price) di level Rp3.200 per saham. Angka ini mencerminkan keyakinan analis bahwa pasar belum sepenuhnya menghargai potensi pertumbuhan bank syariah terbesar di Indonesia ini.
Jika dibandingkan dengan harga penutupan akhir pekan lalu di level Rp2.160, target harga baru ini menawarkan ruang penguatan yang sangat lebar. Ada potensi kenaikan harga atau potential upside lebih dari 48% bagi investor yang masuk di harga saat ini. Angka ini tentu sangat menggiurkan dibandingkan rata-rata kenaikan IHSG.
Optimisme ini bukan tanpa dasar, melainkan berpijak pada data kinerja bulanan yang konsisten. Dukungan efisiensi biaya dan pertumbuhan dana murah menjadi katalis utama yang diyakini akan mengerek harga saham menuju nilai wajarnya. "Dengan target harga tersebut terbuka peluang penguatan harga saham BRIS ini lebih dari 48%," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas pada Senin, 5 Januari 2026.
2. Biaya Dana Turun, Margin Aman?
Sorotan utama kinerja November 2025 adalah keberhasilan manajemen dalam menekan biaya dana atau Cost of Fund(CoF). Penurunan CoF ini terjadi seiring dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Syariah Indonesia yang sehat, menandakan likuiditas bank dalam kondisi prima dan tidak perlu "membakar uang" untuk menarik nasabah.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menilai kinerja ini sebagai sinyal netral namun berprospek positif. Meskipun perbaikan margin tertahan oleh biaya lain, tren penurunan biaya dana adalah indikator efisiensi jangka panjang yang sangat krusial bagi bank syariah.
Ke depan, kemampuan menjaga biaya dana rendah akan menjadi senjata utama BRIS dalam memenangkan persaingan margin. Pertumbuhan simpanan nasabah yang organik menjadi bukti kuatnya brand equity BRIS di mata masyarakat. "Tren penurunan CoF serta pertumbuhan dana pihak ketiga yang sehat menjadi sentimen positif ke depan," ungkap Victor dan Naura.
3. Laba Bersih Tumbuh Stabil?
Dari sisi bottom line, BRIS berhasil membukukan laba bersih bank only senilai Rp578 miliar khusus untuk bulan November 2025 saja. Angka ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3% baik secara bulanan (month on month/mom) maupun secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan laba ini ditopang oleh kinerja operasional yang solid sebelum pencadangan atau Pre-Provision Operating Profit(PPOP). Mesin bisnis inti BRIS terus menghasilkan pendapatan yang kuat, meskipun sebagian profit tersebut harus disisihkan untuk menutupi kenaikan biaya provisi atau pencadangan risiko.
Stabilitas pertumbuhan laba di tengah situasi ekonomi yang menantang menunjukkan resiliensi model bisnis perbankan syariah. Konsistensi mencetak laba ini menjadi jaminan bagi investor akan keberlangsungan pembagian dividen dan pertumbuhan aset di masa depan.
4. Bagaimana Tren Margin Bunga (NIM)?
Kabar baik juga datang dari rasio profitabilitas utama, yakni Net Interest Margin (NIM). Pada November 2025, NIM BRIS tercatat membaik menjadi 5,4%, naik tipis dari posisi bulan sebelumnya di Oktober 2025 yang sebesar 5,3%. Kenaikan ini sejalan dengan suksesnya strategi penurunan biaya dana.
Namun demikian, jika ditarik perbandingan secara tahunan, posisi NIM saat ini masih sedikit di bawah capaian November 2024 yang sempat menyentuh 5,7%. Penurunan yield atau imbal hasil dari aset produktif (earning assets) menjadi penyebab utama mengapa margin belum bisa menyamai rekor tahun lalu.
Meskipun ada sedikit tekanan pada yield, tren perbaikan bulanan memberikan sinyal bahwa titik terendah mungkin sudah dilewati. Manajemen tampaknya mulai menemukan keseimbangan baru antara menjaga margin keuntungan dan ekspansi pembiayaan yang berkualitas.
5. Beban Operasional dan Kredit Macet?
Efisiensi juga terlihat dari sisi beban operasional (Opex). Tercatat Opex Bank Syariah Indonesia pada November 2025 sebesar Rp1,2 triliun, turun 5% secara bulanan. Penurunan ini mengindikasikan bahwa perusahaan semakin disiplin dalam mengelola pengeluaran rutinnya demi menjaga profitabilitas.
Di sisi lain, investor perlu mencermati pos provisi yang meningkat menjadi Rp201 miliar. Angka ini melonjak signifikan 169% secara tahunan, meski sudah mulai turun 12% jika dibandingkan bulan lalu. Peningkatan pencadangan ini adalah langkah antisipatif bank untuk memitigasi risiko kredit.
Kabar baiknya, risiko kredit atau Cost of Credit (CoC) masih terjaga sangat sehat di level 0,8%. Angka ini masih jauh di bawah batas psikologis 1%, menegaskan bahwa kualitas aset pembiayaan BRIS masih sangat terjaga dan jauh dari lampu kuning kredit macet.

Alvin Bagaskara
Editor
