Tren Pasar

IHSG Turun 30 Persen, Mengapa Perusahaan Tetap Berani IPO 2026?

  • Meski IHSG turun lebih dari 30% pada 2026, sejumlah perusahaan tetap melanjutkan IPO. Simak alasan emiten berani melantai di tengah pasar lesu.
Aktifitas Bursa Saham - Panji 3.jpg
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Mail Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta 17 Oktober 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah tekanan berat yang melanda pasar modal Indonesia sepanjang 2026, sejumlah perusahaan justru tetap melanjutkan rencana penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Fenomena ini menarik perhatian pelaku pasar. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi lebih dari 30% sejak awal tahun, sementara investor asing terus mencatatkan arus keluar dana akibat meningkatnya ketidakpastian pasar.

Dalam kondisi seperti itu, banyak pihak mempertanyakan mengapa sejumlah perusahaan masih memilih melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Jawabannya tidak sesederhana optimisme terhadap pasar. Bagi sebagian perusahaan, IPO merupakan bagian dari strategi bisnis yang tidak bisa ditunda meskipun kondisi pasar sedang tidak ideal.

Baca juga : Jika Indonesia Turun ke Frontier Market, Siapa yang Paling Dirugikan?

Aktivitas IPO 2026 Masih Berjalan

Sepanjang paruh pertama 2026, aktivitas IPO tercatat jauh lebih sepi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, sejumlah perusahaan tetap berada dalam antrean pencatatan saham dan menargetkan melantai di BEI pada pertengahan hingga paruh kedua tahun ini.

Beberapa perusahaan yang tengah bersiap IPO antara lain PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), hingga PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS).

Masing-masing berasal dari sektor yang berbeda, mulai dari kesehatan, industri, konsumer, hingga hiburan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai alasan terbesar perusahaan tetap melaksanakan IPO adalah kebutuhan pendanaan yang tidak dapat ditunda terutama untuk melakukan aksi korporasi. 

Dana hasil IPO umumnya digunakan untuk ekspansi usaha, pembangunan fasilitas baru, penambahan kapasitas produksi, hingga memperkuat modal kerja.

Bagi perusahaan yang telah menyusun rencana bisnis jangka panjang, menunda IPO dapat berarti menunda ekspansi dan kehilangan peluang pertumbuhan.

Kondisi tersebut terutama terlihat pada perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan dan layanan publik yang masih memiliki prospek pertumbuhan kuat dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, meskipun kondisi pasar kurang mendukung, kebutuhan modal sering kali lebih mendesak dibandingkan menunggu sentimen pasar membaik.

Baca juga : Mengapa Keputusan MSCI Penting bagi Rupiah, IHSG, dan Dana Asing?

Fundamental Menjadi Kunci Daya Tarik IPO

Tidak semua perusahaan memiliki keberanian untuk masuk bursa di tengah pasar yang sedang tertekan. Perusahaan yang tetap melanjutkan IPO umumnya memiliki keyakinan terhadap fundamental bisnisnya sendiri, baik dari sisi pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, maupun prospek industri.

Investor saat ini cenderung lebih selektif dibandingkan periode pasar bullish. Mereka tidak lagi hanya melihat potensi kenaikan harga saham, tetapi juga menilai kesehatan keuangan perusahaan secara lebih mendalam.

Karena itu, calon emiten yang memiliki kinerja kuat dan valuasi yang dianggap menarik masih memiliki peluang memperoleh respons positif dari pasar.

Menariknya, IPO juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor ritel ketika pasar sedang lesu. Dalam kondisi ketika mayoritas saham mengalami tekanan, kehadiran saham baru sering dianggap sebagai alternatif investasi yang menawarkan cerita pertumbuhan berbeda.

Selain itu, saham IPO biasanya memiliki jumlah saham beredar publik (free float) yang relatif terbatas pada tahap awal. Kondisi tersebut sering kali menciptakan potensi pergerakan harga yang lebih dinamis dibandingkan saham yang sudah lama tercatat di bursa.

Faktor inilah yang membuat sebagian investor tetap mencermati peluang dari saham IPO meskipun kondisi pasar secara keseluruhan sedang melemah.

Baca juga : IPO EMMI Bidik Dana Rp269 M, Cek Kinerja dan Alokasi Duitnya

Proses IPO Tidak Bisa Dihentikan Begitu Saja

Alasan lain yang sering luput dari perhatian adalah panjangnya proses menuju IPO. Sebuah perusahaan biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun untuk mempersiapkan pencatatan saham, mulai dari audit laporan keuangan, penunjukan penjamin emisi, proses due diligence, hingga memperoleh persetujuan regulator.

Karena itu, membatalkan IPO pada tahap akhir bukanlah keputusan yang mudah. Selain berpotensi menimbulkan biaya tambahan, perusahaan juga harus mengulang sebagian proses ketika ingin kembali masuk pasar di masa mendatang.

Bagi banyak emiten, melanjutkan IPO menjadi pilihan yang lebih rasional dibandingkan menunda tanpa kepastian kapan kondisi pasar akan membaik.

Meski pasar sedang berada dalam fase sulit, minat investor terhadap IPO belum sepenuhnya hilang. Namun, pola investasinya berubah. Investor kini lebih berhati-hati dan fokus pada emiten yang memiliki rekam jejak laba yang jelas, model bisnis yang kuat, serta valuasi yang masuk akal dibandingkan perusahaan sejenis.

Selain itu, investor juga mencermati kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan laba di tengah perlambatan ekonomi dan ketidakpastian pasar global.

Kondisi ini membuat persaingan antarcalon emiten menjadi lebih ketat dibandingkan ketika pasar berada dalam tren naik. Di tengah koreksi IHSG yang mencapai lebih dari 30%, keputusan melaksanakan IPO bukanlah bentuk optimisme berlebihan terhadap pasar.

Sebaliknya, langkah tersebut lebih banyak didorong oleh kebutuhan pendanaan, keyakinan terhadap fundamental bisnis, serta strategi jangka panjang perusahaan.

Meskipun peluang tetap terbuka, risiko yang dihadapi juga tidak kecil. Jika pasar tidak memberikan respons positif, harga saham berpotensi tertekan setelah pencatatan.

Karena itu, kondisi pasar saat ini cenderung menyaring perusahaan yang masuk bursa. Hanya emiten dengan fundamental yang kuat, prospek bisnis yang jelas, dan kebutuhan modal yang mendesak yang berani tetap melanjutkan IPO di tengah salah satu periode paling menantang bagi pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.