Tren Pasar

IHSG Terbakar Perang, Bisakah Saham Emas Jadi Hedging Porto?

  • IHSG tertekan konflik Iran dan United States–Israel. Saham seperti MDKA, EMAS, dan ANTM dinilai lebih tahan dan berpotensi jadi lindung nilai investor.
ptb-roclpnHeqBapbMjQ.jpeg
Ilustrasi emas fisik Vs emas digital. (Bareksa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin pagi, 2 Maret 2026, dibuka melemah 142,59 poin atau 1,73% ke level 8.092,90. Pelemahan ini terjadi setelah konflik militer di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan menekan sentimen pasar domestik.

Indeks LQ45 yang merupakan kumpulan 45 saham dengan likuditas tinggi juga turun 12,65 poin atau 1,52% ke posisi 821,71. CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG bergerak cenderung melemah dengan kisaran support 8.090/7.945 dan resistance 8.380/8.525 pada perdagangan hari ini.

Meski pasar terkoreksi, saham-saham ber–underlying emas justru menunjukkan ketahanan terhadap guncangan. Sejumlah emiten logam mulia terlihat menghijau pada awal sesi, menandakan minat pelaku pasar beralih ke aset defensif di tengah gejolak regional.

Ancaman Blokade Selat Hormuz

Konflik bersenjata meluas setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Otoritas militer Iran kemudian memberikan peringatan keras kepada seluruh armada kapal tanker komersial yang hendak melintasi perairan strategis Selat Hormuz.

Akibat peringatan ancaman tersebut, lalu lintas pengiriman logistik maritim dilaporkan terganggu secara signifikan karena meningkatnya risiko keamanan dan lonjakan biaya asuransi pelayaran. Setiap gangguan operasional di kawasan perairan tersebut berpotensi langsung memengaruhi kelancaran pasokan energi global dan stabilitas harga komoditas.

Analisis Stockbit Sekuritas menyoroti betapa krusialnya jalur perairan yang kini berada di tengah pusaran zona konflik tersebut. "Selat Hormuz merupakan chokepoint strategis, di mana sekitar 20% ekspor minyak global dan sebagian besar pengiriman LNG dunia melewati jalur sempit ini," catat laporan resmi Stockbit Sekuritas pada Senin, 2 Maret 2026. 

Lonjakan Harga Minyak Mentah

Harga minyak mentah dunia langsung merespons ancaman blokade armada Iran tersebut secara seketika. Berdasarkan data komoditas Stockbit Sekuritas, harga minyak mentah Brent dibuka menguat sebesar 12,6% ke level 81,6 Dolar AS per barel pada Senin pagi, sebelum akhirnya terkoreksi dan stabil pada posisi 78,2 Dolar AS per barel.

Guna meredam tekanan defisit pasokan di pasar energi global, negara-negara aliansi produsen minyak mengambil langkah intervensi segera. Organisasi OPEC+ secara resmi telah mengumumkan keputusan bersama untuk menaikkan kuota produksi tambahan sebesar 206 ribu barel per hari yang diaktifkan khusus untuk bulan April 2026.

Kendati terdapat intervensi kuota produksi, ancaman volatilitas harga komoditas tetap membayangi pasar. "Dalam jangka panjang, upside harga minyak akan ditentukan oleh durasi pasokan Selat Hormuz dan besaran gangguan pasokan yang dirasakan pasar energi global," jelas tim analis Stockbit Sekuritas.

Emas Sebagai Aset Lindung Nilai

Selain memukul operasional sektor energi, ketegangan militer ini secara langsung mendorong pergeseran portofolio pelindung nilai para investor. "Ketegangan geopolitik biasanya mendorong arus dana ke aset safe-haven seperti emas," tulis ulasan Stockbit Sekuritas mengenai tren pelarian arus modal di tengah krisis.

Arus dana lindung nilai tersebut tecermin sangat nyata pada pergerakan harga instrumen logam mulia di bursa komoditas internasional. Emas spot dilaporkan dibuka menguat sebesar 1,6% pada pembukaan transaksi hari Senin, yang melesatkan level harga acuan tersebut meroket menuju US$5.362 Dolar AS per ons.

Fenomena pelarian modal ini sejalan dengan temuan lembaga Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang menyebut fenomena gold rush masih terus terjadi. Lembaga riset tersebut mencatat bahwa harga emas global telah mengalami kenaikan sebesar 48,4% dalam enam bulan terakhir, salah satunya dipicu oleh memanasnya tensi konflik di Timur Tengah.

Rekomendasi Saham ANTM dan MDKA

Mengakomodasi sentimen perburuan logam mulia tersebut, CGS International Sekuritas Indonesia merilis rekomendasi beli spekulatif untuk emiten pelat merah ANTM. Saham ini disarankan dibeli dengan support di level Rp4.260 per saham, dan mengambil tindakan potong rugi jika pergerakan harganya jatuh di bawah Rp4.170 per saham.

Dalam ulasan teknikalnya, pergerakan saham ANTM diproyeksikan memiliki target penguatan yang terukur jelas. Jika harga sahamnya tidak tergelincir menembus batas bawah Rp4.260, emiten pertambangan ini memiliki potensi bergerak naik menuju rentang harga Rp4.440 hingga Rp4.530 dalam hitungan perdagangan jangka pendek.

Emiten pertambangan MDKA turut diposisikan di dalam daftar rekomendasi pembelian oleh CGS International Sekuritas Indonesia. Pada perdagangan hari ini, saham MDKA terpantau bergerak naik sebesar 1,60% ke level Rp3.810 per saham. Saham ini disarankan beli spekulatif dengan batas support Rp3.670 per saham, potong rugi jika turun di bawah Rp3.590, dan potensi pergerakan naik ke rentang Rp3.830-Rp3.910 jangka pendek.

Prospek Saham EMAS dan ARCI

Rekomendasi pembelian aset lindung nilai selanjutnya diarahkan langsung pada pergerakan saham EMAS. CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan beli spekulatif saham EMAS dengan posisi support Rp8.150, tindakan potong rugi jika melemah di bawah Rp7.975, dan prospek potensi naik ke level Rp8.500-Rp8.675 jangka pendek.

Melengkapi daftar emiten penambang emas, saham ARCI turut disarankan untuk dibeli secara spekulatif dengan supportdi posisi Rp1.840 per saham. Investor disarankan menerapkan batas potong rugi ketat jika harga turun di bawah Rp1.800, dengan target potensi kenaikan menuju Rp1.920-Rp1.960 dalam jangka pendek.

Terkait arah bursa saham ke depan, Stockbit Sekuritas menyimpulkan proyeksinya berdasarkan durasi waktu konflik. "Jika konflik mereda dan Selat Hormuz tetap terbuka, sentimen negatif pasar terbatas. Di sisi lain, jika Selat Hormuz terganggu berkepanjangan, ada risiko inflasi energi struktural," tutup riset Stockbit Sekuritas.